Periksa Fakta

Menelusuri Asal Mula Mitos Implan Microchip Vaksin Virus Corona

Oleh: Irma Garnesia - 11 Desember 2020
Dibaca Normal 4 menit
Mitos dan teori konspirasi terkait vaksin virus corona didasarkan pada klaim-klaim menyesatkan yang banyak tersebar di dunia maya.
tirto.id - Vaksin Sinovac untuk COVID-19 sebanyak 1,2 juta dosis sudah tiba di Indonesia di bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Minggu (6/12/2020), sekitar pukul 21.25 WIB.
Namun, seiring dengan perkembangan produksi vaksin di Indonesia, dan juga di seluruh dunia, disinformasi dan misinformasi terkait vaksin pun semakin banyak tersebar di media sosial.

Kali ini, informasi yang beredar adalah teori konspirasi tentang klaim pemasangan microchip di tubuh manusia. Klaim ini dilebih-lebihkan dengan menambahkan bahwa microchip yang ditanamkan tersebut mengandung kode 666 atau "mark of the beast," sebuah istilah yang erat dengan angka 666 atau simbol setan.

Sebuah unggahan dari akun Facebook Debu Kemenangan pada 3 Desember 2020 (arsip) menyatakan kekhawatiran tersebut. Akun Debu Kemenangan mengunggah beberapa foto disertai tulisan sebagai berikut:

Revisi
2019= tahun dimulainya Cov Id
2020= tahun pengadaan vaksin Cov Id
2021= tahun pelaksanaan vaksinasi Cov Id & tahun pengadaan alat scanner barcode & pengadaan alat palang pintu putar otomatis.
2022= tahun pelaksanaan sistem scanner & penggunaan palang pintu putar otomatis & tahun pengadaan alat bio microchip.
2023= tahun penegakan hukum sanksi denda secara nasional & tahun pengalihan tato barcode ke penanaman chip ke badan.
2024= tahun penarikan uang tunai besar²an & tahun cashless sepenuhnya.
2025= tahun pengejaran warga yg tdk ada barcode/ chip & Antikristus berdiri sebagai pemimpin tunggal seluruh dunia (Presiden Dunia).
2025-2026= kemungkinan Tuhan Yesus datang/ Rapture (tahun ini kemungkinan ya, bukan pasti karena hari, tanggal & tahun tidak ada yg tahu ... bisa saja setelah 2026)
5 tahun pertama itu bisa tepat bisa juga lebih lambat.
Jika lebih cepat maka tahun 2023 Antikristus bisa saja sdh berdiri.

Sama seperti sekarang, ternyata vaksin bersamaan dgn barcode sebagai penanda bahwa orang tsb telah divaksin, dikira setelah vaksin ternyata bersamaan dgn vaksin tetapi belum berupa nanochip tetapi tato barcode sbg kode barang di manusia.
Notes :
Ini sebuah analisa bukan nubuatan, sebuah analisa bisa saja tepat bisa saja meleset, saya tidak mengatakan bahwa ini pasti terjadi di tahun² yg saya tulis di atas kecuali tahun 2019-2020 yg memang telah terjadi peristiwa itu.
Saya membagi per tahun utk memudahkan kita melihat gambaran besar agenda Antikristus dgn New World Ordernya (NWO) di 2021-2030.
Saya meyakini bila memang agenda NWO di 10 tahun ke depan ini bertujuan untuk sentralisasi dunia maka saya percaya dalam dekade itu akan terbagi 2 bagian yaitu 2021-2025 & 2026-2030.
Dimana 5 tahun pertama adalah masa dimana dilakukan ujicoba sebelum dilakukannya sistem penanaman chip di badan manusia.
Implementasinya yaitu dgn penggunaan stiker barcode di badan yg dibantu aksesnya dgn menggunakan aplikasi smartphone kalau di Indonesia (di negara maju bisa saja sdh berlaku tanam chip).
5 tahun pertama ini baru sistem Antikristusnya yg muncul, belum Antikristus itu sendiri.
Memasuki 5 tahun ke dua (2026-2030) adalah masa dimana smartphone akan dialihkan ke dlm sistem chip yg ditanam di badan setelah semua uang tunai benar² telah "menghilang" di seluruh dunia.
Di masa ini bisa saja Antikristus yg berupa tokoh manusia akan memunculkan & menyatakan dirinya ke dunia sehingga jemaat Kristus memasuki masa penganiayaan besar (Great Tribulation) dimana terjadi penganiayaan fisik orang² yg dikejar, ditangkap & disiksa karena tidak mau memakai chip.
Saya percaya bila sudah memasuki masa ini maka tidak akan lama setelah berlangsungnya penganiayaan fisik terhadap jemaat maka Tuhan Yesus akan datang di awan² untuk mengangkat jemaat-Nya (Rapture).
Setelah itu maka terjadilah Murka Allah yg turun atas bumi ini.
Jadi ini adalah sebuah analisa berdasarkan yg tertulis di Alkitab (kitab Wahyu) dengan tanda² yg terjadi atas penduduk dunia.
Bukan sebuah nubuatan ataupun penglihatan !
Mengapa saya berani membuat analisa ini ?
Supaya kita bisa mempersiapkan diri !
Karena gereja² tidak ada yg memberitahukan jemaatnya apa yg harus dilakukan & apakah kita sudah memasuki masa menuju Antikristus berkuasa.
Sebagai referensi, Perjanjian Damai Abraham Accord & dibangunnya Bait Suci ke 3 adalah kompas yg akan menunjukkan kapan Antikristus menyatakan dirinya.

Lantas, bagaimana fakta dari klaim tersebut dan adakah kaitan antara vaksin COVID-19 dengan mitos Antikristus ini?


Penelusuran Fakta

Pada 2 Desember lalu, Kompas menerbitkan berita berjudul "Vaksin COVID-19 Akan Dipasangi Barcode." Dalam berita tersebut, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan, nantinya vaksin COVID-19 akan ditempelkan barcode. Barcode tersebut berfungsi untuk pendataan masyarakat yang akan divaksin.

"Kami sampaikan sejak awal sampai akhir kami juga memastikan di sini ada barcode, data detail siapa yang akan disuntik seperti (data) pemilu. Dalam satu kotak ada nama dan alamat karena suntik dua kali," ujar Erick dalam webinar, Selasa (1/12/2020).

Kekhawatiran terkait vaksin yang dipasangi barcode tampaknya teramplifikasi oleh artikel ini. Sebagian orang salah menginterpretasikan berita ini. Mereka mengira bahwa barcode ditempelkan di tubuh manusia.

Padahal, seperti yang disampaikan Erick Thohir, barcode yang ada ditempelkan pada botol vaksin, bukan tubuh manusia. Informasi menyesatkan terkait barcode yang dipasang di tubuh manusia telah dibantah oleh Satuan Tugas Penanganan COVID-19 melalui artikel "[SALAH] Pemasangan Barcode pada Badan Manusia."

Terlepas dari isu barcode, informasi bahwa vaksin COVID-19 akan diisi dengan alat pelacak sudah berkembang sejak bulan Mei. Informasi ini menyatakan, alat pelacak yang digunakan adalah microchip. Microchip ini diisukan akan diimplan pada tubuh manusia melalui injeksi vaksin COVID-19, seperti yang ditulis Reuters.

Klaim tersebut berasal dari video TikTok yang disebarkan di luar konteks sebenarnya dan telah dihapus. Salah satu contoh video tersebut dapat di lihat pada tautan arsip ini. Sebagian besar isi video tersebut berasal dari tangkapan layer dengan kualitas buruk dengan tulisan "The R.F.I.D CHIP hadir dalam seluruh suntikan vaksin corona dalam 18 bulan ke depan (MARK OF THE BEAST)."

Rekaman asli dari video tersebut telah diubah dan diganti konteksnya. Video sebenarnya menunjukkan laporan NBC News Today pada 2017 tentang perusahaan Wisconsin yang menawarkan karyawannya untuk menanamkan microchip di jari mereka. Microchip tersebut dapat digunakan untuk membeli makanan ringan, masuk ke komputer kantor, atau mengaktifkan mesin fotokopi.

Di sisi lain, isu terkait vaksin yang memiliki tanda "mark of the beast" ini tampaknya telah membuat pemuka agama Kristen di sejumlah negara khawatir. Gereja Ortodoks Moldova yang berafiliasi dengan Moskow, misalnya, telah meminta kepemimpinan negara itu untuk memastikan bahwa vaksin virus corona nantinya tidak diwajibkan.

Mereka mengklaim, adanya sebuah konspirasi besar terkait adanya "sistem anti-Kristus dunia" yang diduga akan dimasukkan lewat microchip ke dalam tubuh manusia dan dikendalikan melalui teknologi 5G.

Keraguan terkait vaksin ini juga mencapai Australia. Uskup Agung Katolik Sydney, Anthony Fisher, mengatakan bahwa umat Katolik akan dihadapkan pada "dilema etika" jika vaksin itu terbukti berhasil karena diproduksi dari garis sel janin yang diaborsi.


Menanggapi seruan Fisher, seperti ditulis The Guardian, juru bicara pemerintah Australia mengatakan "perdana menteri menghormati pandangan komunitas religius di Australia dan memahami masalah yang sedang dihadapi".

"Banyak vaksin yang sedang dikembangkan tidak mengandung garis sel janin, termasuk kandidat vaksin UQ [University of Queensland] yang disupport pemerintah senilai USD 5 juta," sebut juru bicara itu. "Pemerintah akan selalu mengikuti saran medis dan akan mendorong penggunaan vaksin sebanyak mungkin."

Beberapa waktu lalu, lembaga pemeriksa fakta Politifact juga telah mencoba memeriksa klaim-klaim terkait microship dan vaksin virus corona ini. Penelurusan mereka membawa sampai pada Juli 2016, jauh sebelum virus corona ditemukan.

Saat itu, para peneliti di Institut Teknologi Massachusetts mulai mempelajari bagaimana menggunakan tinta tak terlihat yang dapat disuntikkan ke tubuh bersamaan dengan vaksin. Teknologi ini disinyalir dapat mengatasi tantangan pelacakan vaksin di negara berkembang.

Pewarna akan terlihat di bawah sinar inframerah dan bertahan selama lima tahun. Cara ini dipercaya dapat membantu petugas kesehatan dalam mengecek siapa saja yang sudah divaksin. Yayasan yang dimiliki Bill Gates diketahui menyumbangkan dana untuk penelitian ini.

Namun, catatan pentingnya adalah tinta tersebut tidak akan memonitor kebiasaan atau pergerakan seseorang. Tinta ini hanya akan menjadi tanda apabila seseorang sudah menerima vaksin atau belum. Penelitian ini bernama "Quantum dot dye."

Kevin McHugh, salah satu penulis penelitian ini mengatakan kepada Reuters, "Teknologi pewarna titik kuantum bukanlah mikrochip atau kapsul yang dapat ditanamkan kepada manusia dan tidak ada rencana untuk menggunakan ini untuk virus corona."


Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa informasi terkait microchip yang ditanamkan lewat vaksin virus corona, serta vaksin yang mengandung chip AntiKristus, dan dapat memonitor kegiatan manusia bersifat salah dan menyesatkan (false& misleading).


==============

Tirto mengundang pembaca untuk mengirimkan informasi-informasi yang berpotensi hoaks ke alamat email factcheck@tirto.id.

Apabila terdapat sanggahan ataupun masukan terhadap artikel-artikel periksa fakta maupun periksa data, pembaca juga dapat mengirimkannya ke alamat email tersebut.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight