Menebak Kiprah GNPF-MUI Setelah Pertemuan dengan Jokowi

Oleh: Felix Nathaniel - 27 Juni 2017
Dibaca Normal 3 menit
Perwakilan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) akhirnya ditemui oleh Presiden Jokowi dalam suasana halal bi halal Minggu lalu. Bagaimana kelanjutan gerakan yang kurang lebih berumur 8 bulan pasca pertemuan itu?
tirto.id - Tim tujuh yang mewakili Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Majelis Ulama Indonesia (MUI) GNPF-MUI dan Presiden Jokowi bertemu secara tertutup pada acara Open House Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Minggu, (25/6).

Dialog tersebut disebut-sebut oleh pihak GNPF-MUI sebagai sesuatu yang sangat penting dalam mewujudkan Indonesia yang kuat, bersatu, dan berdaulat. Bagaimana kelanjutan GNPF yang pertama kali muncul menjelang Aksi Bela Islam I yang berlangsung pada 14 Oktober 2016, setelah pertemuan dengan Presiden Jokowi itu?

Pada konferensi pers di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta Selatan Selasa (27/6), Ketua GNPF-MUI Bachtiar Nasir ditemani oleh pengurus GNPF-MUI seperti Zaitun Rasmin sebagai Wakil Ketua GNPF-MUI, Muhammad Luthfie Hakim selaku bendahara GNPF-MUI, Yusuf Martak pengurus GNPF-MUI, Sobri Lubis dari FPI, dan Panglima GNPF-MUI Munarman.

“Ini juga kebutuhan kedua pihak (Presiden Jokowi dan GNPF-MUI) untuk berdialog itu. Saya rasa ini sebuah keniscayaan. Jadi saya rasa ini kebutuhan kedua pihak, bukan hanya satu pihak kami minta,” kata Bachtiar Nasir dalam konferensi pers.

Dialog dengan Presiden Jokowi ini bisa dikatakan merupakan cita-cita dari GNPF-MUI sejak peristiwa Aksi Bela Islam jilid II (4/11/2016). Menurut Bachtiar Nasir, Aksi Bela Islam jilid III (2/12/2016) dan seterusnya tidak perlu terjadi, andai saja Presiden Jokowi bersedia membuka dialog sejak aksi 411. Jokowi memang sempat singgah di Monumen Nasional pada aksi 212, tapi menurut Bachtiar, tidak ada dialog intensif yang terjadi pada saat itu.

Zaitun Rasmin juga mengutarakan hal yang serupa dengan Bachtiar Nasir. Ia berharap diskusi dalam bentuk dialog ini akan terus berlanjut untuk ke depannya. Zaitun merasa sangat bersyukur atas proses silaturahim yang telah terjadi. Ia sendiri merasa bahwa sifat orang Muslim, dan juga orang Indonesia, adalah suka melakukan komunikasi dengan berdialog.

"Diskusi yang dibuka oleh Presiden bukan hanya sekali. Dan kita mengharapkan atau tidak. Kalau tidak, ya kita tidak lanjut, tapi karena ini yang kita idam-idamkan sejak 411, ya kita lanjut,” pungkasnya.

Dialog ini semacam saling konfirmasi kedua pihak terhadap beberapa persoalan yang timbul. Pada ceramah yang disampaikan oleh Bachtiar Nasir pada Salat Id di Al Azhar Minggu lalu juga, ia sempat menyinggung terkait umat Islam yang diperlakukan tidak adil. Selain itu, Bachtiar juga menuduh ‘pemilik modal’ ingin menguasai ekonomi, hukum hingga politik.

“Bahkan pemilik modal mengangkangi hukum, sehingga umat Islam, juga harus saya nyatakan, merasa ada ketidakadilan hukum terhadap umat Islam. Dan mulai merambah, sudah ekonomi dia kuasai, hukum dia kuasai, sekarang mau menguasai politik,” ujarnya.

Bachtiar menegaskan bahwa dialognya dengan Presiden Jokowi membahas tentang ketidakadilan hukum yang terasa pada umat Muslim. Presiden Jokowi sendiri, menurut Bachtiar, menyangkal adanya ketidakadilan yang dirasa terjadi tersebut. Bachtiar sendiri paham bahwa pihak rezim dan Presiden Jokowi tidak merasa melakukan diskriminasi muslim dan non-muslim, tetapi ia tetap bersikukuh bahwa hal itu sedang terjadi di masyarakat saat ini.

“Kami menyadari bahwa pak Presiden dan rezim merasa tidak ada kriminalisasi ulama, tidak merasa adanya upaya-upaya menyematkan Islam dengan berbagai sematan-sematan intoleran, anti-pancasila dan anti-kebhinekaan, tidak,” katanya.

“Kami datang untuk menyampaikan bahwa faktanya memang ada.”

Kelanjutan GNPF-MUI


Atas dasar hal ini, Munarman yang juga hadir dalam konferensi pers pun mulai angkat bicara. Menurut Munarman, GNPF-MUI akan tetap berada di barisan umat Islam dalam membela dan mengawal semua persoalan-persoalan yang menimpa umat Islam, terutama yang sudah terjadi. Posisi GNPF, ditegaskan Munarman, bukan dalam pengawalan perkara, tapi dalam pengawalan umat Islam.

Masih banyak pekerjaan rumah dari umat islam yang perlu dikomunikasikan karena ada kesenjangan persepsi. Saat ini berlangsung ketidakjelasan soal hukum yang menimpa ulama dan aktivis Islam, tentunya perlu penyelesaiannya dengan jalan dialog dengan pemerintah.

“Sampai hari ini, tim kita secara teknis masih terus bekerja. Ya terutama terhadap memprioritaskan perkara-perkara dan kasus-kasus yang sudah terjadi,” kata mantan juru bicara FPI tersebut.

Dalam hal ini, Munarman meyakini bahwa GNPF-MUI akan tetap ada dan tidak meninggalkan umat Islam dalam permasalahan yang dihadapi. “Kami meyakinkan dan menegaskan, GNPF berdiri untuk membela – tetap membela – dan mengawal perkara-perkara itu. Jadi tidak ada meninggalkan segala macam,” lanjutnya.

Sedangkan terkait dengan aksi-aksi GNPF berikutnya, wakil ketua umum GNPF-MUI, Zaitun Rasmin mengaku akan terus mengedepankan dialog. Zaitun mengaku pihaknya akan sangat senang dalam melakukan dialog dan terbuka kepada setiap golongan.

”Ke depan, kalau ada hal-hal yang diperlukan, saya rasa (kami) terbuka (untuk komunikasi),” ujarnya.

Pihak GNPF-MUI pun masih menjalin relasi baik dengan salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia, yakni Front Pembela Islam (FPI) melalui komunikasi dengan Habib Rizieq Shihab selaku pimpinan FPI. Hal ini dikatakan oleh Muhammad Luthfie Hakim selaku Bendahara GNPF-MUI yang juga hadir pada konferensi pers hari ini.

“GNPF tetap kompak dan masih sangat solid terhadap Habib Rizieq Shihab,” katanya. “Tidak ada perpecahan di kami, tidak ada sama sekali.”

Pengakuan Luthfie tersebut juga diperkuat dengan pernyataan dari Bachtiar Nasir. Menurut Bachtiar, segala tindakan dan pertemuan yang digagas oleh GNPF-MUI selalu dikoordinasikan terlebih dahulu dengan Rizieq Shihab, meskipun saat ini ia berada di Yaman. “Jadi tidak ada satu pun pertemuan sebelum dan sesudahnya yang tidak kita koordinasikan dengan Habib Rizieq.”

Ketua umum FPI, Ahmad Sobri Lubis juga mengaku bahwa Habib Rizieq Shihab sekarang sangat nyaman berada di Yaman dan tidak dalam permasalahan serius. Sobri menuturkan bahwa Rizieq Shihab selalu mengontrol dan pihak GNPF-MUI beserta FPI selalu melaporkan hal yang terjadi kepada Rizieq Shihab.

“Jadi tidak pernah putus komunikasi,” tegas Sobri.

Terkait pertemuan dengan Presiden Jokowi, Sobri juga menyatakan bahwa Rizieq sangat puas terhadap kabar tersebut. “Habib Rizieq sangat bersyukur karena ini merupakan program yang diharapkan Habib Rizieq sejak awal,” katanya.

Mendukung hal tersebut, Luthfie juga menambahkan bahwa melalui pesan whatsapp, Rizieq Shihab mengucap puas akan dialog yang dilakukan GNPF-MUI dengan Presiden Jokowi. “Terima kasih atas kerja kerasnya,” tutur Luthfie membacakan pesan Rizieq Shihab.

Baca juga artikel terkait GNPF MUI atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Felix Nathaniel
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Suhendra
DarkLight