Mencari Jejak Moyang Somalia dan Yaman di Kalimantan

infografik jejak genetik austronesia
Ilustrasi perempuan Madagaskar yang memiliki moyang orang Banjar. Foto/Istimewa
Oleh: Husein Abdulsalam - 25 Februari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Penelitian genetika terbaru ungkap hubungan genetis antara orang Yaman, Somalia, Madagaskar, dan Nusantara.
tirto.id - Pradiptajati Kusuma melihat peta kecil itu dengan saksama. Dia menengok batas timur dan barat Lautan Hindia. Di barat, Lautan Hindia mentok hingga ke tepi timur Afrika dan selatan Jazirah Arab. Di timur, Lautan Hindia berujung kepulauan Nusantara.

Di tepi timur Afrika, ada suatu tempat yang bila dilihat di peta, seperti sedang menanduk Jazirah Arab. Tempat itu berjuluk Tanduk Afrika. Di sana lah orang-orang Somali bermukim. Sebagian besar dari mereka kini tinggal di negara Somalia. Sedangkan wilayah Jazirah Arab yang "ditanduk" Tanduk Afrika itu merupakan tempat tinggal orang-orang Yaman.

Pradipta menunjuk pulau-pulau yang terhampar di Nusantara bagian timur dan gugusan kepulauan Polinesia di Lautan Pasifik, kemudian, melingkarinya. Setelah itu, dia kembali menceritakan bagaimana peneliti genetika seperti dirinya bisa mengetahui bahwa moyang orang Madagaskar di Afrika berasal dari pulau-pulau yang ditunjuknya tadi.

Laki-laki yang biasa dipanggil Pai itu berkata, "Dari jejak mitokondria ini."

Mitokondria terdapat di dalam sel. Dan, di dalam mitokondria, ada materi genetik yang diwariskan hanya oleh ibu ke seluruh anak-anaknya. Materi itu ialah DNA mitokondria (mtDNA). Tubuh manusia sendiri terdiri sekitar atas puluhan triliun sel. Mitokondria berfungsi mengubah asupan makanan menjadi energi yang dapat digunakan tubuh.

Selain itu, di dalam sel juga terdapat inti-sel. Di situ lah materi genetik bernama kromosom tinggal. Ada kromosom 1, kromosom 2, hingga kromosom 22. Mereka disebut juga autosom. Selain kelompok autosom, kromosom X dan kromosom Y juga menghuni inti-sel. Pihak ibu maupun bapak mewariskan seluruh kromosom, kecuali kromosom Y, kepada anak-anaknya. Kromosom Y diwariskan hanya oleh bapak.

Data materi genetik semacam itu sekarang bukan barang langka. Lembaga Eijkman, tempat Pai bekerja, misalnya telah mengumpulkan dan menganalisis hampir 6 ribu sampel DNA dari beberapa lokasi di Indonesia. Hal serupa juga dilakukan lembaga pengampu uji genetika di negara lain. Bahkan, jasa penelusuran leluhur melalui uji materi genetik tengah digemari warga Amerika Serikat.

Setelah mendapatkan data tersebut, peneliti genetika mengelompokkan manusia-manusia yang memiliki kesamaan DNA mitokondria dan kromosom Y dalam suatu populasi genetik. Suatu populasi genetik memiliki marka atau motif DNA khas yang disebut haplogroup. Lewat cara itu, jejak moyang seseorang atau etnis tertentu ditentukan.

Motif Polinesia yang Menyempil di Madagaskar

Yang diteliti Pai beberapa tahun belakangan ini ialah haplogroup berkode B4a1a1. Selain di Polinesia, haplogorup tersebut juga ditemukan di orang-orang Indonesia bagian timur. Dan, varian Motif Polinesia juga ditemukan di Madagaskar, Afrika.

"Kami bilang ini [B4a1a1] dengan nama Motif Polinesia karena [haplogroup] itu hampir seratus persen ditemukan di Polinesia. Motif Polinesia ini juga ditemukan di Madagaskar, dengan tambahan dua [mutasi berjenis] 1473T dan 3423A. Kesemuanya ini disebut haplogroup B4a1a1b dan kami sebut Motif Madagaskar," kata Pai.

Hasil penelitian yang diterbitkan Pai tahun lalu menunjukkan orang-orang Banjar yang bermukim di Kalimantan Selatan, dilihat dari bahasa dan autosom, merupakan moyang orang-orang Madagaskar dan Komoros. Pelayar Sriwijaya berperan penting dalam membawa gen tipe Austronesia itu ke Madagaskar.

Namun, yang bikin Pai dan sesama peneliti lainnya penasaran ialah di DNA mitokondria orang-orang Banjar tidak ditemukan Motif Madagaskar. Begitu juga di DNA mitokondria orang-orang yang tinggal di wilayah Nusantara lainnya. Pai menerka pembawa haplogroup itu di kepulauan Nusantara sudah punah atau belum dicuplik dalam survey DNA termutakhir. Oleh karena itu, hal ini perlu diteliti lebih lanjut.

"Bisa jadi Motif Madagaskar ini masih ada di Indonesia, tetapi belum ditemukan karena sampelnya kurang banyak atau sudah tidak ada lagi. Jumlahnya sedikit, hanya diturunkan dari ibu," ujar Pai.

Tiada jejaknya di Nusantara, Motif Madagaskar ternyata ditemukan di tempat lain. Itu lah sari penelitian yang baru-baru ini melibatkan Pai. Hasil penelitian itu terbit di jurnal Genome Biology and Evolution dengan judul "Evidence of Austronesian genetic lineages in East Africa and South Arabia".

“Kami menemukan Motif Madagaskar di populasi Yaman dan Somalia,” ujar Pai sambil membuat garis berpanah di peta, menghubungkan Madagaskar dengan Somalia dan Yaman.

Motif Madagaskar ditemukan pada satu individu asal Somalia dan dua dari Yaman. Ketika dicek autosomnya, dua individu berasal dari Madagaskar sebelum akhir abad ke-18. Satu individu sisanya berasal dari populasi lainnya pada akhir abad ke-19.

Dengan membandingkan perawakan tubuh, orang-orang Madagaskar, terutama yang tinggal di dataran tinggi seperti di Antananarivo, mirip dengan orang-orang Nusantara. Itu memang karena keduanya berbagai autosom yang sama. Sedangkan perawakan tubuh orang Somalia, Yaman, dan Nusantara sulit dicari kemiripannya.

Di orang Madagaskar, jejak autosom Banjar mencakup 37-40 persen. "Tapi, di orang Somalia dan
Yaman, jejak genetik Austronesia hanya 1-10 persen," kata Pai.



Melacak Jejak Nusantara di Yaman dan Somalia

Menurut Pai, kadar jejak autosom Nusantara di orang-orang Somalia dan Yaman amat kecil sebabnya orang Madagaskar yang tiba di Somalia kawin dengan orang Afrika, sedangkan yang tiba di Yaman kawin dengan orang Arabia. Hasil perkawinannya, kawin lagi dengan orang lokal di sana.

Namun kehadiran Motif Madagaskar di Somalia dan Yaman membuat para peneliti menengarai kemungkinan jalur baru migrasi manusia di Lautan Hindia bagian timur. Terciptanya jalur itu berkaitan dengan tiga momen. Momen pertama yakni terbentuknya jaringan dagang Lautan Hindia yang menghubungkan Afrika bagian timur, Timur Tengah, dan Asia.

Kedua, kedatangan orang-orang Austronesia di wilayah Lautan Hindia pada abad ke-8 hingga ke-13. Sedangkan momen ketiga ialah pengembangan koridor perdagangan Swahili yang meliputi Somalia bagian selatan, kepulauan Komoros, Madagaskar, dan Mozambik.

"Dari penelitian sebelumnya, kami melihat mereka [Austronesia] berhenti di Komoros, lalu pergi ke selatan [ke Madagaskar]. Mungkin orang-orang Sriwijaya [sebagai pembawa gen Austronesia] itu pergi ke Afrika Timur untuk berdagang dengan Kerajaan Swahili," ujar Pai.

"Tetapi, kami tidak tahu jalurnya. Yang kami lakukan ialah menjawab pertanyaan Motif Madagaskar Yaman dan Somalia berasal dari Madagaskar atau dari Indonesia?" kata Pai.

Menurut penelitian Pai, Motif Polinesia tidak ditemukan di dataran Asia Tenggara dan jazirah India. Sebabnya masih berupa kemungkinan, yakni orang Austronesia membatasi interaksinya dengan orang-orang di wilayah itu atau mereka langsung menuju Madagaskar atau Komoros.

Baca juga artikel terkait GENETIKA atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Suhendra
DarkLight