Menuju konten utama

Menatap Jauh Ketahanan Air Indonesia

Jumlah penduduk yang terus meningkat membuat kebutuhan air ikut meningkat.

Menatap Jauh Ketahanan Air Indonesia
Bendungan Raknamo, Kupang, NTT Sumber: dok. Kementerian PUPR. foto/dok kementerian PUPR

tirto.id - NASA, lembaga antariksa Amerika Serikat, punya strategi menarik untuk mencari tahu apakah benar ada kehidupan selain di bumi: follow the water. Carilah air. Ini strategi yang benar, sebab air adalah sumber penting bagi kehidupan.

“Ketika kami menemukan air—baik itu di danau yang tertutup es, atau di lautan dalam, atau di celah retakan tanah kering—asal ada air, kami menemukan mikroba yang bisa hidup di sana,” ujar Brian Glazer, Oseanografer dari Universitas Hawaii at Manoa.

Setelah berbagai ekspedisi, ditemukanlah es di kutub utara dan selatan bulan. Ini artinya, sangat mungkin ada air yang terpendam di dalam bulan. Pada 1996, pesawat luar angkasa Clementine mengumpulkan data dari bulan. Dari hasil itu, terindikasi ada es di bawah kawah dekat kutub selatan bulan.

Dua tahun kemudian, data terbaru yang dikumpulkan NASA menyatakan bahwa ada lebih banyak es di kutub utara bulan. Para ilmuwan mereka memperkirakan ada sekitar enam miliar ton air es yang mungkin terpendam di bawah kutub bulan.

Penemuan air di bulan ini kemudian juga diikuti oleh penemuan cairan di Mars. Penemuan air di dua tempat ini mungkin jadi pertanda awal bahwa ada kehidupan selain di bumi, sesuai kesepakatan para ilmuwan: di mana ada air, di situ ada kehidupan. Dan sangat mungkin penemuan ini adalah jawaban dari pertanyaan yang sudah tercetus sejak lama: apakah umat manusia benar-benar sendirian di galaksi ini?

Begitu pentingnya air bagi kehidupan, membuat Benjamin Franklin, salah satu bapak bangsa Amerika Serikat, pernah berujar, “Ketika sumur-sumur telah kering, barulah kita sadar betapa berharganya air.” Kalimat itu terus diingat dan dikutip setiap orang berbicara tentang ketahanan air.

Indonesia juga sadar betul betapa pentingnya air. Tak heran kalau pemerintahan Joko Widodo memprioritaskan ketahanan air dalam periode keduanya ini. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan bahwa jumlah penduduk yang terus meningkat akan membuat kebutuhan air terus meningkat. Jika tak dikelola dengan baik, maka dampak buruknya akan serius.

“Untuk itu pemerintah perlu mengambil langkah-langkah untuk memperkuat ketahanan air, termasuk membangun ketahanan terhadap bencana yang ditimbulkan oleh air (water related disaster),” ujar Basuki.

Bendungan, Irigasi, dan Embung

Sejak 2015, Kementerian PUPR merilis visi kerja mereka. Ada 5 visi yang dicatat dalam rumusan berjudul “Terwujudnya Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang Handal Dalam Mendukung Indonesia yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong” ini.

Visi nomor pertama adalah mempercepat pembangunan infrastruktur sumber daya air, termasuk sumber daya maritim. Ketahanan air dijadikan visi pertama sebab sektor ketahanan air adalah hal penting yang bisa berdampak pada banyak hal penting lain, seperti kedaulatan pangan dan kedaulatan energi.

Visi ini berada di jalur yang benar. Menurut Hari Suprayogi, Direktur Jenderal Sumber Daya Air, pada 2015-2020 target Presiden Jokowi adalah membangun 65 waduk besar. Hingga minggu pertama Desember 2019, capaian pembangunan waduk mencapai 61 bendungan, yang terdiri atas 45 bendungan baru yang sedang dibangun, dan 16 bendungan sudah selesai.

“Dengan 16 bendungan yang sudah selesai, kita sudah menambah tampungan air sejumlah 1,5 miliar meter kubik. Jadi sekarang Indonesia sudah punya 231 waduk yang setara dengan 12 miliar meter kubik tampungan. Sehingga dengan adanya waduk baru ini, tampungan setara dengan nyaris 14 miliar meter kubik air,” tutur Hari.

Pembangunan 61 waduk baru ini ditargetkan akan selesai semua pada akhir 2024. Pada 2020 ditargetkan 11 bendungan selesai. Kemudian 11 bendungan lagi akan rampung pada 2021, dan pada 2022 disusul 12 bendungan yang selesai. Pada 2023, diperkirakan ada 7 bendungan tambahan , dan 4 bendungan terakhir akan selesai pada 2024. Ketika semua bendungan selesai, maka jumlah tampungan air di seluruh Indonesia bisa mencapai 16,18 miliar meter kubik yang tersebar di 279 bendungan.

Selesainya bendungan-bendungan ini juga punya pengaruh besar ke pelayanan publik lain seperti layanan air baku maupun layanan listrik. Untuk layanan air baku, misalkan. Pada 2019, ketika 16 bendungan selesai, debit air mengalir adalah 6,59 meter kubik per detik. Jika pada 2024 ada 61 bendungan yang selesai, debit airnya bisa mencapai 54,13 meter kubik per detik.

Begitu juga untuk layanan listrik. Sebelum ada 16 bendungan selesai, pasokan listrik adalah 5.897 MW. Pada 2019, jumlahnya meningkat jadi 6.011 MW seiring 16 bendungan yang rampung dan beroperasi. Pada 2024, diprediksi layanan listrik ini akan mencapai 6.138 MW.

Infografik Advertorial PUPR 2

Infografik Advertorial PUPR. tirto.id/Mojo

Selain waduk, Kementerian PUPR juga fokus meningkatkan sistem irigasi. Pada 2015-2019, ditargetkan ada pembangunan jaringan irigasi baru sebanyak 1 juta hektare. Kementerian PUPR berhasil melampaui target ini dengan berhasil membangun jaringan irigasi baru seluas 1,8 juta hektare. Ditambah lagi, ada rehabilitasi jaringan irigasi yang sudah ada, seluas 3 juta hektare.

Saat ini, total luas layanan irigasi di Indonesia adalah 7,1 juta hektare. Sekitar 6,3 juta hektare diairi air dari non waduk, dan 762 ribu hektare berasal dari waduk. Karena jumlah waduk bertambah, maka pengairan yang bersumber dari waduk turut bertambah jadi 880,1 ribu hektare.

Selain itu, Kementerian PUPR mengenalkan program irigasi premium, yakni irigasi yang berasal dari pasokan air waduk. Dengan irigasi premium ini, maka sawah masih bisa diairi walau musim kemarau. Menurut Hari, irigasi dari waduk ini baru mencapai 11 persen dari total irigasi. Dengan target 65 bendungan yang akan selesai pada 2024, diharapkan irigasi dari waduk bisa mencapai 20 persen.

Kementerian PUPR juga menargetkan pembangunan 1.000 embung, alias cekungan penampung air. Hingga saat ini, pembangunan embung sudah melebihi target dengan data sementara mencapai 1.613 embung di seluruh Indonesia.

Embung ini tersebar sebanyak 353 buah di Sumatera, 388 di Jawa, 485 di Bali dan Nusa Tenggara, 204 di Sulawesi, 30 di Kalimantan, 105 di Maluku, dan 48 di Papua. Seluruh embung ini punya kapasitas penampungan air sebanyak 94,21 juta meter kubik.

Visi Kerja Menuju 2024

Memasuki 2020, Kementerian PUPR turut mencanangkan Proyek Prioritas Nasional. Dalam konteks ketahanan air, kementerian yang dipimpin oleh Basuki Hadimuljono ini akan terus membangun banyak infrastruktur di seluruh Indonesia. Benang merahnya tetap sama seperti periode sebelumnya: melanjutkan pembangunan bendungan, irigasi, embung, dan pencegah bencana karena air.

Di Aceh, misalkan, ada pembangunan bendungan Rukoh, drainase di Pidie Jaya, juga pengaman pantai di Meulaboh. Sedangkan di Sumatera Barat ada restorasi Danau Maninjau, pengendalian banjir di beberapa titik, juga pembangunan pengaman pantai di Pariaman dan Pantai Mentawai. Begitu pula di Jawa, Kalimantan, Sumatera, Bali dan Nusa Tenggara, juga Maluku dan Papua. Aka ada beberapa proyek pembangunan bendungan, pembangunan embung, pengaman pantai, hingga rehabilitasi di beberapa waduk.

“Memang untuk pembangunan ini tidak mudah, karena banyak yang memakai lahan masyarakat dan hutan. Kendala paling besar adalah pembebasan lahan yang memerlukan biaya besar,” ujar Hari.

Pada 2020, Kementerian PUPR mendapat anggaran sebesar Rp120,1 triliun. Sekitar Rp43,9 triliun akan difokuskan untuk menyelesaikan infrastruktur SDA seperti pembangunan waduk, jaringan irigasi, pembangunan embung, hingga berbagai proyek rehabilitasi. Dari dana untuk infrastruktur sumber daya air itu, sekitar Rp18,5 triliun akan dialokasikan untuk bendungan dan embung.

Selain membangun bendungan, anggaran itu juga untuk membangun 70 embung baru, yang sebagian besar berada di daerah kering di Nusa Tenggara dan Maluku. Beberapa yang akan dibangun adalah Embung Bokondini, Botawa, juga Sempaja.

“Selain itu, akan ada revitalisasi 3 danau, antara lain pembangunan Alur Tanu Ponggol di Danau Toba untuk menunjang pariwisata, dan revitalisasi Danau Rawa Pening yang akan menyediakan air baku dan tenaga listrik di Jawa Tengah,” ujar Menteri Basuki.

Target jangka panjang Kementerian PUPR adalah mencapai ketersediaan air dalam tampungan mencapai 120 meter kubik per kapita per tahun pada 2030 kelak. Saat ini ketersediaan air dalam tampungan Indonesia masih di angka 58 meter kubik per kapita per tahun. Ini masih kalah dengan di Thailand, yang mencapai 1.200 meter kubik per kapita per tahun.

“Selain membangun tampungan-tampungan baru, masyarakat juga bisa berpartisipasi dengan menggunakan air secara bijak dan hemat,” kata Hari.

(JEDA)

Penulis: Tim Media Servis