Menuju konten utama

Menanti Perang Dinasti Pilkada 2020 di Tangerang Selatan

Pilkada Tangerang Selatan bak perang antar dinasti. Para kandidat punya jejaring politik berdasarkan kekeluargaan masing-masing.

Menanti Perang Dinasti Pilkada 2020 di Tangerang Selatan
Pasangan bakal calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Muhamad (kedua kanan) dan Rahayu Saraswati (kanan) menyerahkan berkas pendaftaran ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Tangerang Selatan di Setu, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (4/9/2020). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/wsj.

tirto.id - Pilkada 2020 di Tangerang Selatan bak arena pertarungan antar dinasti. Para calon kepala daerah yang akan ikut berkompetisi merupakan orang-orang yang memiliki hubungan darah atau keluarga dari politikus-politikus lama yang punya kuasa, sebagaimana makna dinasti itu sendiri.

Sebenarnya politik dinasti bukan hal baru di Tangsel. Ia sudah mendarah daging setidaknya dua dekade terakhir.

Mari kita mulai dari Airin Rachmi Diany, Wali Kota Tangsel yang menjabat sejak April 2011. Suaminya, Tubagus Chaeri Wardana—atau yang akrab disapa Wawan—seorang taipan yang justru tersangkut kasus megakorupsi pada 2013 lalu, adalah anak Tubagus Chasan Shohib, seorang “oligark terkuat di Banten”—mengutip penelitian LIPI. Ia kerap menggunakan jawara untuk membangun kekuasaan di seluruh Provinsi Banten.

Chasan memiliki empat orang anak: Ratu Atut Chosiyah, Ratu Tatu Chasan, Tubagus Chaeri Wardana, dan Tubagus Haerul Jaman—anak tiri. Semua anaknya menduduki jabatan strategis di Provinsi Banten.

Ratu Atut Chosiyah adalah mantan Gubernur Banten yang menjabat sejak 2007 dan terkena skandal korupsi pada 2014. Ratu Tatu Chasan, pernah menjadi Wakil Bupati Serang sejak 2010 dan saat ini menduduki kursi Bupati Serang sejak 2016. Wawan adalah suami Airin. Sedangkan Tubagus Haerul pernah menjabat sebagai Wali Kota Serang sejak 2011 sampai 2018.

Nama-nama di atas adalah jejaring politik dinasti Banten generasi kedua. Mari kita lihat di generasi ketiga.

Ratu Atut punya seorang anak laki-laki bernama Andik Hazrumy. Dia adalah Wakil Gubernur Banten, menjabat sejak 2017. Adiknya Atut, Ratu Tatu, juga punya seorang anak lelaki bernama Pilar Saga Ichsan.

Pilar inilah cikal bakal perpanjangan tangan politik dinasti. Ia resmi mendaftarkan diri sebagai Wakil Wali Kota Tangsel untuk pilkada mendatang. Pilar akan berdampingan dengan Benyamin Davnie, Wakil Wali Kota Tangsel yang sudah menjabat sejak 2011 bersama Airin. Keduanya diusung Partai Golkar.

Salah satu pesaing Pilar adalah Rahayu Saraswati Djojohadikusumo. Saras adalah keponakan dari Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Ia adalah putri Hashim Djojohadikusumo, salah satu taipan terkenal Indonesia. Saras mendaftarkan diri sebagai Wakil Wali Kota, mendampingi Muhammad yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Daerah Tangsel. Kedua diusung oleh Partai Gerindra, PDIP, PSI, PAN, dan Hanura.

Kontestan lain adalah Siti Nur Azizah Ma’ruf, putri Wakil Presiden Ma’ruf Amin. Ma’ruf orang asli Banten, walau kalah suara saat pilpres lalu. Ia resmi mendaftarkan diri sebagai Wali Kota Tangsel didampingi Ruhamaben, mantan Direktur PT. Pembangunan Investasi Tangerang Selatan (PITS)—BUMD. Mereka diusung oleh PKS, Partai Demokrat, dan PKB.

Bobroknya Politik Dinasti

Politik dinasti rentan digerogoti korupsi, kolusi, dan nepotisme, tanpa memberikan keuntungan langsung kepada rakyat. Hal tersebut diamini oleh pengajar politik Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komaruddin.

“Jika suatu daerah dikuasai politik dinasti, maka tak akan berkembang dan cenderung korup,” kata Ujang saat dihubungi wartawan Tirto, Kamis (17/9/2020) siang. “Politik dinasti itulah yang mengakibatkan APBD dan kekayaan alam di daerah dikuasai oleh keluarga tertentu. Ini yang bisa membuat banyak kepala daerah melakukan korupsi.”

Fenomena politik dinasti di Indonesia rentan merusak dan menghancurkan proses demokratisasi karena hanya orang-orang itu saja yang berkuasa di suatu daerah. Lebih tajam lagi: hanya keluarga itu-itu saja yang memiliki jabatan di daerah tertentu.

Politik dinasti di suatu daerah, kata Ujang, akhirnya mengeliminasi kesempatan orang lain yang sebenarnya kompeten dan cakap dalam memimpin dan menjadi kepala daerah. Kata dia, politik dinasti sudah menjadi penyakit akut di pilkada yang dilaksanakan di banyak daerah.

Lalu siapa yang berpeluang menang dalam perang dinasti ini? Pengajar ilmu politik dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Leo Agustino menilai Rahayu Saraswatilah orangnya. Alasannya, banyaknya partai yang mendukung dan terutama dua besar pemenang Pemilu 2019: Partai Gerindra dan PDIP.

“Asumsinya partai akan menggerakkan mesin politik, meminta anggota partai dan simpatisan untuk kemudian memilih kandidat. Jumlah partai yang mendukung lima. Secara matematis, jauh lebih besar dukungan ke Rahayu,” katanya saat dihubungi wartawan Tirto, Kamis sore.

Untuk Pilar, kata Leo, memang terbukti memiliki jejaring politik dinasti yang kuat, bahkan sampai ke Provinsi Banten. Apalagi ada Airin yang cukup sukses memimpin Tangsel. “Jejaring ini bisa dimanfaatkan Pilar,” kata Leo.

Kendati demikian, ada titik lemah dari jejaring Pilar: dua tokoh utamanya pernah tertangkap KPK, Wawan dan Ratu Atut. Kata Leo, kasus Wawan bisa menurunkan elektabilitas Airin dan jejaring keluarganya.

“Kalau enggak ada suaminya, Airin akan sangat cemerlang. Ini membuat masyarakat Tangsel yang sudah rasional dan banyak pemilih muda yang pintar, berpikir dua kali memilih Pilar,” katanya.

Untuk Siti Nur Azizah, kata Leo, tak banyak yang bisa diharapkan. Salah satunya karena ia hanya mengandalkan coattail effect dari ayahnya. “Ia maju karena ada ayahnya sebagai Wapres. Kalau tidak, ia enggak akan maju. Dia enggak akan jadi siapa-siapa,” tutupnya.

Baca juga artikel terkait PILKADA TANGSEL atau tulisan lainnya dari Haris Prabowo

tirto.id - Politik
Reporter: Haris Prabowo
Penulis: Haris Prabowo
Editor: Rio Apinino