Menantang Maut dengan Wisata ke Krakatau yang Baru Meletus

Infografik Mozaik Letusan Krakatau
Aktivitas Gunung Anak Krakatau saat erupsi terlihat dari KRI Torani 860 di Perairan Selat Sunda, Jumat (28/12/2018). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Oleh: Petrik Matanasi - 4 Januari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Sebelum letusan 27 agustus 1883, kawasan Krakatau dijadikan paket wisata orang kaya Batavia.
tirto.id - Rogier Diederik Marius Verbeek tidak datang ke Hindia Belanda sebagai ahli gunung berapi. Laki-laki kelahiran Doorn 7 April 1845 itu, adalah insinyur tambang lulusan Delft. Dia memulai kariernya di pertambangan batubara Kalimantan bagian timur. Selain di Kalimantan, Verbeek juga pernah bekerja di Jawa dan Sumatera.

Verbeek pertama kali injak Pulau Krakatau pada Juli 1880. Pulau itu, tulisnya, "Wilayah yang secara geologis sama sekali tak dikenal". Simon Winchester, dalam bukunya yang terkenal, Krakatau: Ketika Dunia Meledak 27 Agustus 1883 (2006), sempat mengutip tulisan Verbeek. Winchester juga menulis, "Ia sendiri (Verbeek) juga sama sekali belum dikenal, kecuali sebagai spesialis tambang batu bara di Borneo Timur".



Waktu menginjak Pulau Krakatau, Verbeek sedang bekerja sementara kepada Imperial Beacons & Coastal Lighting Service, satu maskapai tambang Belanda. Verbeek sampai di pulau itu juga dengan kapal milik maskapai tersebut, Egeron.

“Dalam perjalanan kembali ke Batavia, saya mampir sebentar ke pulau-pulau di Selat Sunda,” aku Verbeek.

Seperti ditulis Winchester, Krakatau adalah yang paling menarik hati Verbeek. Di sana, Verbeek membuat sketsa keempat pulau Krakatau. Waktu berperahu ke utara, dari gugusan pulau yang digambarnya, dia melihat sesuatu yang mirip aliran lava yang baru saja terjadi.

Sayangnya kapal Egeron punya maskapai Belanda itu tak bisa berlama-lama di sana. Jadi, tidak ada waktu yang cukup baginya mengumpulkan sampel-sampel batu dari sekitar puncak gunung. Verbeek yang tinggal di Bogor, mau tidak mau harus kembali ke Utrecht, Belanda, untuk membuat peta Sumatera bagian barat. Karena itu pula, Verbeek tak sempat menyaksikan letusan pertama Krakatau pada 19 Mei 1883.

Setelah letusan pertama, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Frederiks'Jacob memerintahkan AL Schuurman, ahli pertambangan yang jadi deputi Verbeek, untuk sebisa mungkin memantau Krakatau. Orang-orang Belanda di sekitar Batavia rupanya tertarik dengan peristiwa tersebut.

Semua tampak baik-baik saja setelah letusan pertama. Mereka tahu Hindia Belanda dipenuhi gunung-gunung api dan letusan gunung api bukan yang luar biasa. Maka lahirlah paket wisata laut yang dibuat oleh maskapai pelayaran Belanda. Yang ikut tur ini akan naik kapal uap bernama Gouvernour General Loudon—yang berbobot mati 1.239 ton, ke sekitar lokasi letusan. Kapten Lindemen bertindak sebagai nakhoda kapalnya.

Iklan wisata itu ditempel di dinding gedung klub Harmonie dan Concordia, tempat orang-orang Eropa kaya dansa-dansi, makan ala Eropa atau sekadar bersantai. Iklan yang dipasang pada Sabtu 26 Mei 1883 itu, seminggu setelah letusan pertama, menarik minat orang untuk berwisata ke gunung api di sekitar Selat Sunda.

Peminatnya lumayan, 86 orang yang masing-masing membayar biaya 25 gulden. Artinya bisa terkumpul uang sekitar 2 ribu gulden lebih. Dalam pelayaran Gouvernour General Loudon itulah Schuurman ikut serta memantau Krakatau sebagai wakil pemerintah. Dari Batavia mereka berlayar ketika hari masih malam, dan subuhnya mereka mendekati Selat Sunda dan terus mendekati gunung api, yang mereka kira tidak akan mengamuk lagi. Mereka tiba di sana pada 27 Mei 1883.

Kapten Lindemen tak merapat terlalu dekat, dia membuang sauh agak jauh dari pulau. Untuk mencapai pulau, para wisatawan disediakan sekoci untuk mendarat ke pulau. Merasa letusan awal tak akan diikuti letusan berikutnya yang lebih dasyat, maka masih ada orang berani yang mau menginjak pulau itu.

Dalam laporannya, Schuurman melaporkan, "Pemandangan pulau itu fantastis: pulau itu telanjang dan kering, hutan tropisnya yang kaya telah lenyap, dan asap naik dari pulau seperti keluar dari oven". Sepenglihatan Schuurman, dasar kawah tertutup oleh “kerak buram yang berkilat-kilat.” Terkadang kawah terlihat kemerah-merahan.

Orang-orang Eropa yang rela bayar itu betah berada seharian di kaki gunung api yang baru saja meletus itu. Mereka tampak menikmati melihat sol sepatu mereka terbakar. Jika ada semburan asap atau gas belerang yang keluar, mereka berlarian cari perlindungan. Seorang Eropa bernama Hamburg, yang paling betah dan paling akhir keluar dari daratan pulau gunung berapi itu, tak lupa ambil foto.

Kapten Lindemen hanya di atas kapal. Dia enggan berlama-lama di sekitar gunung api itu. Ketika hari mulai gelap, ada alasan untuk pulang. Klakson kapal dinyalakan. Wisata menantang maut itu pun usai. Kapal angkat sauh pada pukul 8 malam untuk kembali ke kehidupan nyata mereka yang nyaman di Batavia.



Ketika berlayar dari Eropa menuju Batavia pada 3 Juli 1883, Verbeek melihat Krakatau meletus. Pada 11 Agustus, Kapten HJG Frezenaar dari Angkatan Darat Kerajaan Belanda, melakukan survei topografi militer di sana selama dua hari. Dia sendirian di sana. Dia melihat ada 14 lubang dari 3 kawah yang menyemburkan material.

“Kapten Freezenaar ternyata menjadi orang terakhir yang pernah menapaki kaki di Krakatau,” tulis Winchester.

Setelahnya seperti ditulis Muhamad Saleh dalam Syair Lampung Karam—yang ditransliterasi oleh Suryadi dalam Syair Lampung Karam: Sebuah Dokumen Pribumi tentang Dahsyatnya Letusan Krakatau 1883 (2009:33-34).

“Berbunyi guruh menderu-deru/Dikatakan kapal apinya itu/Gaduhlah orang di dalam negeri/Mengatakan datang kapalnya api/lalu berjalan berperi-peri/Nyatalah Rakata empunya bunyi.”

Krakatau dengan dahsyatnya meletus dari 24 hingga 27 Agustus 1883. Ahmad Arif, dalam Hidup Mati di Negeri Cincin Api (2013: 60) menulis bahwa erupsi Krakatau dalam ukuran Volcanic Explosivity Index, hanya kalah dari letusan gunung Tambora pada 1815.


Setelah letusan besar itu, berkat laporannya yang panjang tentang Krakatau, Verbeek pun jadi orang penting terkait Gunung Krakatau. Kisahnya, pernah dirilis oleh BBC dalam film Krakatoa: The Last Days(2006).

Baca juga artikel terkait STATUS GUNUNG ANAK KRAKATAU atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight