Memuji dan Membenci Sirkuit Baru MotoGP Thailand

Oleh: Renalto Setiawan - 7 Oktober 2018
Dibaca Normal 4 menit
Sirkuit Internasional Buriram memang terlihat sebagai tipe sirkuit cepat. Sirkuit ini mendapat respons beragam dari para pembalap.
tirto.id - Pada September 2017 lalu tanda tangan Sakon Wannapong, bos SPORTS Authority of Thailand (SAT), mengawali sebuah sejarah besar bagi Thailand. Bersepakat dengan Dorna Spors, penyelenggara MotoGP, Thailand menjadi salah satu tuan rumah MotoGP musim 2018 hingga musim 2020 nanti.

Hajatan akbar yang kali pertama bagi Thailand itu sudah dimulai sejak Jumat (5/10) hingga Minggu (7/10). MotoGP musim 2018 bertajuk PTT Thailand Grand Prix, Sirkuit Internasional Buriram akan melangsungkan MotoGP seri 15 musim 2018. Rangkaian PTT Thailand Grand Prix dimulai dengan sesi latihan pertama hingga ketiga [FP1-FP3], juga kualifikasi pertama dan kedua [Q1 dan Q-2] yang digelar Jumat hingga Sabtu.

Pada Sabtu, Marc Marquez menempati pole position atau start terdepan dalam hasil kualifikasi MotoGP Thailand pada Sabtu (6/10/2018) di Sirkuit Internasional Buriram. Sang juara bertahan MotoGP 2018 meraih pole keempatnya musim ini setelah menaklukkan sang rival Valentino Rossi (Movistar Yamaha) dengan perbedaan hanya 0,011 detik.

Pada hari Minggu, sirkuit yang mulai dibuka pada 2014 lalu tersebut akan menjadi tempat bagi Marc Marquez, Jorge Lorenzo, Andrea Dovizioso, Valentino Rossi, juga pembalap-pembalap lainnya untuk beradu cepat dalam lomba yang sesungguhnya.



Menurut Sakon pada Januari 2018 lalu, MotoGP Thailand bisa menarik turis-turis dari berbagai macam negara untuk datang ke Thailand. Ia yakin bahwa modal sebesar 300 juta dolar baht yang dikeluarkan Thailand untuk menyelenggarakan MotoGP selama tiga tahun, bisa kembali berkali-kali lipat.

Namun, Sakon barangkali bukan satu-satunya orang yang yakin bahwa MotoGP Thailand bisa berbuah kesuksesan. Mengingat PTT Thailand Gran Prix digelar mendekati akhir musim 2018, para pembalap unggulan disinyalir akan menampilkan perlombaan yang seru. Bedanya, pembalap itu tidak mengejar keuntungan, melainkan mengejar gelar juara yang bisa menentukan perebutan satu tempat untuk menjadi juara dunia.

Tantangan Sirkuit Baru


Panjang lintasan Chang International Circuit atau Sirkuit Internasional Buriram mencapai 4,6 Km, 3 lintasan lurus yang sangat panjang menanti para pembalap untuk menggeber motor dengan kecepatan maksimal, dan 12 tikungan juga siap membuat para pembalap beradu cerdik dalam 26 putaran. Namun, jauh-jauh hari sebelum lomba, Valentino Rossi ternyata sudah mengeluh tentang sirkuit tersebut.

Pada 2015 lalu, satu tahun setelah Sirkuit Internasional Buriram dibuka, Valentino Rossi dan Yamaha mengadakan tes di sirkuit tersebut. Setelah menjajal motornya, Rossi merasa sirkuit tersebut jauh dari menyenangkan.

“[Sirkuit] itu sangat membosankan, tidak mempunyai banyak tikungan, hanya lintasan lurus yang sangat panjang. Saya rasa ini (Sirkuit Internasional Buriram) bukan tempat menyenangkan untuk dikunjungi,” ujar Rossi, dilansir dari situs Motosport.

Rossi juga menilai kondisi Sirkuit Internasional Buriram juga tidak layak untuk digunakan balapan. Ia lalu menyimpulkan, “Jadi, saya tidak sepenuhnya gembira pergi ke Thailand, terutama, saat berada di lintasan balap. Tapi jika kami harus berlomba, aku akan melakukannya.”

Yang menarik, Rossi ternyata mengubah komentarnya setelah kembali menjajal sirkuit tersebut pada awal Februari 2018 lalu. Dalam tes resmi MotoGP tersebut, meski hanya mampu finis di peringkat ke-12, Rossi mengatakan, “Saya ingat bahwa track ini mirip dengan Austria, jadi saya sangat khawatir. Namun ketika Anda melintasinya sirkuit ini mungkin lebih mirip dengan Argentina [...] Track ini tidak terlalu sulit tapi sangat menyenangkan. Secara teknik sangat mudah, tapi tidak membosankan.”

Seperti Sirkuit Sepang, Malaysia, Sirkuit Internasional Buriram juga diarsiteki oleh Herman Tilke. Uniknya, meski mempunyai arsitek yang sama, tantangan yang diberikan Sirkuit Sepang dan Sirkuit Internasional Buriram sangat berbeda.

Dilihat secara kasat mata, Sirkuit Sepang memang terlihat lebih menantang daripada Sirkuit Internasional Buriram. Sepang hanya mempunyai dua lintasan lurus panjang, di antara tikungan ke-14 dan ke-15, serta di antara tikungan ke-15 dan tikungan pertama. Selebihnya, Sepang mempunyai 15 tikungan yang membutuhkan kehati-hatian untuk dilibas.



Sementara itu, Sirkuit Internasional Buriram mempunyai 3 lintasan lurus yang sangat panjang. Tiga lintasan lurus panjang tersebut bahkan mempunyai jarak berdekatan, sehingga memungkinkan para pembalap menggeber motornya dengan kecepatan penuh. Namun, setelah para pembalap menjajalnya, sejumlah pembalap ternyata menganggap Sirkuit Buriram bukanlah sirkuit cepat dan tak kalah menantang daripada Sepang.

“Ada tiga tikungan yang sangat tajam dan sisanya adalah lintasan lurus yang panjang. Namun bagi motor saya, itu adalah lintasan yang sangat lambat... ,” ujar Andrea Dovizioso, pembalap Ducati, setelah hanya berada di peringkat ketujuh dalam tes pada Februari 2018 lalu.

Tak jauh berbeda dengan Dovizioso, Dani Pedrosa yang berhasil mencatatkan waktu tercepat selama menjajal motor di Buriram Februari 2018 lalu, juga beranggapan bahwa para pembalap tak bisa asal-asalan memacu motornya di Sirkuit Internasional Buriram, Rekan satu tim Marc Marquez tersebut menyebut bahwa Sirkuit Buriram sedikit sempit. Tanpa kejelian dalam memilih line, memacu motor secepat mungkin di sirkuit tersebut hanya akan menimbulkan bencana.

Infografik MotoGP Thailand

Ducati Diunggulkan, Marquez Berpeluang

Performa Ducati dalam seri MotoGP terakhir memang mengagumkan. Di GP Austria, Ceko, dan San Marino, mereka selalu menang. Sementara Dovizioso menjadi yang tercepat di Austria dan San Marino, Jorge Lorenzo tak terkejar di Austria. Sedangkan di Aragon, meski gagal menang, Dovizioso yang finis di peringkat kedua mampu memberikan perlawanan sengit terhadap Marc Marquez.

Selain motor baru Desmosedici GP18, penampilan bagus Ducati tersebut didukung oleh adaptasi yang mereka lakukan di sepanjang musim 2018 ini. Menjelang GP Italia Juni 2018 lalu, Jorge Lorenzo pernah mengeluh bahwa motornya tidak nyaman ditunggangi. Ducati langsung tanggap. Mereka kemudian melakukan perubahan pada aero fairing juga bentuk tanki bahan bakar.

Aero fairing baru didesain lebih kecil dari sebelumnya, dengan maksud membuat Desmosedici GP18 menjadi lebih cepat saat masuk ke dalam tikungan. Sedangkan bentuk tanki bahan bakar baru disesuaikan dengan gaya balap Lorenzo dan Dovizioso.


Hasil perubahan tersebut ternyata sangat mujarab. Dalam gelaran GP Italia, Lorenzo dan Dovizioso nyaris tak terkejar pembalap-pembalap lainnya; mereka berhasil finis di peringkat satu dan dua. Dan pada seri berikutnya, Lorenzo bahkan kembali menang di Catalan. Jika Dovizioso tidak terjatuh di GP Catalan tersebut, prestasi Ducati di Italia bukan mustahil untuk kembali diulang.

“Hari ini tidak ada yang bisa mengejar saya. Saya bisa menang dengan cara seperti ini [memimpin jauh di depan]. Menang bersama Ducati di sini [Mugello] rasanya seperti mimpi,” ujar Lorenzo setelah memenangi GP Italia.

Sayangnya di Thailand nanti kekuatan Ducati dipastikan pincang. Kondisi Lorenzo belum pulih benar setelah mengalami kecelakaan di Aragon. Ia sendiri mengaku, meski berpeluang besar mengikut lomba, cedera kaki yang dialaminya akan membuatnya kesulitan untuk meraih kemenangan. Oleh karenanya, Ducati pun hanya bisa melimpahkan harapannya untuk menang kepada Andrea Dovizioso.

Tantangan terberat Ducati untuk memenangi GP Thailand tentu saja datang dari Marc Marquez. Juara Dunia MotoGP tahun 2017 sedang berada dalam momentum bagus. Setelah gagal menang di Italia, Austria, dan San Marino, ia berhasil menang di Aragon.

Terlebih, RC213V yang sekarang juga tak keteteran untuk menyaingi performa Ducati. Selain top speed-nya meningkat, akselerasi bagus motor tersebut juga memungkinkan Marquez untuk melakukan manuver-manuver nekat yang biasa ia lakukan. Jika Marquez gagal mengimbangi kecepatan Dovizioso dalam lintasan lurus, ia bisa mencuri kesempatan di setiap tikungan lambat yang biasanya menyulitkan bagi Ducati, terutama di tikungan terakhir, tikungan ke-12, yang sangat tajam.

Seperti diwartakan Crash, Maverick Vinales, pembalap Yamaha, menyebut bahwa dia tidak mempunyai ekspektasi untuk memenangi balapan di Buriram. Sementara itu Andrea Ianone, pembalap Suzuki, juga mengatakan bahwa ia mengalami kesulitan saat menjajal lintasan tersebut pada tes Feburari 2018 lalu. Ia dan Alex Rins, rekannya di Suzuki, memang tampil bagus di Aragon. Mereka bahkan mampu finis di urutan ketiga dan keempat, tapi Buriram sama sekali berbeda dengan Aragon.

Siapakah yang menorehkan sejarah di Buriram?

Baca juga artikel terkait MOTOGP 2018 atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Suhendra