Menuju konten utama

Membongkar Kecenderungan Pria Bule Memperistri Wanita Asia

Banyak pria bule mencari istri wanita Asia dengan anggapan bahwa perempuan Asia lebih penurut dibanding perempuan di negerinya. Asumsi itu tentu saja cuma dihasilkan dari prasangka

Membongkar Kecenderungan Pria Bule Memperistri Wanita Asia
CEO Facebook Mark Zuckerberg bersama istrinya, Priscilla Chan .FOTO/Annie Leibovitz

tirto.id - Para pria kulit putih sudah lama dianggap memiliki kecenderungan memilih istri orang Asia. Di Indonesia, ada beberapa contoh pesohor bersuamikan “bule” misalnya Julia Perrez, Ayu Azhari, Melanie Ricardo, atau Lia Wa Ode. Di luar sana, ada Mark Zuckerberg, bos Facebook yang beristri Priscilla Chan, seorang wanita beretnis Tionghoa.

Yellow Fever merupakan sebutan bagi kecenderungan saat seorang pria berkulit putih tertarik secara khusus kepada wanita dari ras Asia. Penelitian dari Sunny Woan tahun 2008 menyatakan kecenderungan ini terbentuk dari beragam peristiwa, misalnya sejarah imperialisme bangsa kulit putih kepada bangsa Asia dan keterlibatan wanita Asia dalam industri pornografi.

Sejarah imperialisme Barat di Asia pernah mengukir perampasan hak-hak perempuan Asia. Para perempuan di negara jajahan diperkosa dan dipaksa melayani kebutuhan biologis para tentara. Perang, pemerkosaan, kekerasan seksual ini kemudian menciptakan stereotip hiperseksual pria Kaukasoid di mata para perempuan Asia.

Pada perang Filipina-Amerika misalnya, yang berkecamuk lebih dari satu dekade dan membunuh lebih dari 250 ribu orang Filipina. Amerika menerapkan “barter” bagi mereka yang tak ingin mati kelaparan: satu gadis untuk sebuah burger.

Dalam perang, adalah suatu keharusan bagi para perempuan setempat untuk menerima para tentara Amerika yang menginginkan tubuh mereka. Para kombatan bahkan menjadikan perempuan sebagai rampasan perang yang sah. Kasus ini banyak terjadi pada perang-perang Asia Timur, Filipina-Amerika, Perang Dunia pertama, dan Perang Vietnam.

Setelah perang usai, kepulangan tentara militer Amerika di Asia membawa sederet cerita dan stereotip terhadap perempuan Asia. Mereka digambarkan sebagai pribadi lucu, seperti boneka, sederhana, dan sensual. Stereotip ini diperburuk dengan eksploitasi wanita Asia dalam beragam industri pornografi, misalnya film atau komoditas di lokalisasi.

Jennifer Lynn Gossett dan Sarah Byrne di tahun 2002 melakukan penelitian terhadap 31 situs porno. Hasilnya, setengah dari gambaran pemerkosaan atau penyiksaan menunjukkan wanita Asia sebagai korbannya dan satu hingga tiga pria putih sebagai pelaku.

Penelitian lanjutan juga menemukan korelasi kuat antara ras dan pedofilia, misal ditunjukkan oleh pencarian judul seperti “Japanese Schoolgirls" atau "Asian Teens.” Gambaran perempuan Asia dalam bentuk pornografi secara konsisten juga didapatkan melalui pencarian dengan kata kunci "torture.”

Gerakan Feminis Kulit Putih

Para pria kaukasian makin semangat mencari pendamping seorang wanita Asia di tahun 1970 saat gerakan feminis Amerika mulai naik. Gerakan ini memposisikan wanita kulit putih sebagai individu yang lebih berorientasi karier.

Maka, di tahun ini banyak pria Amerika berpaling mencari jodoh wanita Asia yang lebih dianggap setia dan tunduk. Kemudian, muncullah gerakan “pesan pengantin Asia” yang menjadi antitesis gerakan feminis Amerika. Ada stereotip yang berkembang, bahwa para feminis gencar menolak penaklukan, sedang wanita Asia malah digambarkan sebagai objek penikmat.

Selain itu, media barat juga turut menciptakan persepsi bahwa berkencan dengan pria berkulit putih adalah keren. Sementara, pria Asia digambarkan kurang maskulin, sehingga menimbulkan preferensi bawah sadar banyak perempuan Asia untuk lebih memilih berkencan dengan pria kaukasian.

Hal itulah yang menyebabkan kemungkinan peningkatan jumlah pasangan berkulit putih pada perempuan Asia. Pria berkulit putih melambangkan sebuah kesejahteraan bagi mereka. Menurut laporan The Telegraph, perempuan Asia mempunyai impian untuk hidup lebih makmur di negara-negara Barat. Menikah dengan pria Amerika menjadi cara mereka untuk memperoleh green card.

infografik yellow fever

Tak Melulu Penurut

Psikologi di balik yellow fever ini pernah coba digambarkan oleh Debbie Lum dalam film dokumenternya, Seeking Asian Female. Film itu merekam perjuangan seorang pria Amerika berusia 60 tahun, Steven dalam mencari pendamping seorang wanita Asia. Steven begitu menginginkan perempuan Asia setelah melihat pernikahan putranya dengan seorang imigran Jepang adem ayem.

Selama bertahun-tahun, Steven memburu wanita idamannya lewat beragam katalog dan situs-situs kencan. “Selama lima tahun terakhir pasti sudah ada ratusan gadis yang berbeda-beda dari Cina yang saya kirimi surat," katanya.

Ia kemudian dipertemukan dengan Sandy, buruh pabrik yang tumbuh di kebun teh sebuah pegunungan Cina. Perempuan berusia 30 tahun ini ditemuinya pada salah satu situs pencarian jodoh di internet. Steven kemudian terbang ke Cina untuk menjumpai gadis impiannya. Usahanya berbuah hasil. Dua minggu kemudian, ia kembali ke California bersama Sandy, setelah gadis itu setuju untuk menikah dengannya.

"Aku bahagia sekali," katanya.

Namun, kebahagiaan Steven tak berlangsung lama. Belum lagi fantasi-fantasinya mengenai perempuan Asia habis terjawab, ia dan istrinya harus bersitegang karena masalah paling mendasar: komunikasi.

Bahasa Inggris Sandy sangat standar, sementara Steven tidak tahu bahasa Cina sepatah pun. Mereka kerap bertengkar karena tak saling memahami apa yang dikatakan pasangannya.

Kepada Debbie Lum-lah Steven kerap berkeluh kesah atas keterbatasan bahasa Sandy, juga karakter istrinya yang ternyata jauh dari sifat “penurut”. Sandy sangat berapi-api dan tidak takut untuk menegaskan pandangannya kepada Steven.

Dalam salah satu adegan, wanita ini berani mengancam akan memotong jari Steven bila pria itu ketahuan berbohong padanya. Ini jelas merupakan salah satu bukti bertentangan atas gambaran stereotip perempuan Asia yang kerap disebut penurut tadi.

Melihat cerita Steven, para pria kaukasian mungkin perlu berpikir ulang tentang anggapan stereotipikal bahwa wanita Asia lebih penurut. Apalagi, sekarang feminisme juga semakin bergaung di Asia.

Baca juga artikel terkait WANITA atau tulisan lainnya dari Aditya Widya Putri

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Aditya Widya Putri
Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani