Membela Timor Timur, Meretas Indonesia

Infografik Membela Timor Leste Meretas Indonesia
Monumen Insiden Santa Cruz di Dili, Timor Leste. Insiden Santa cruza dalah salah satu episode paling berdarah dalam sejarah Timor Timur. [Foto/Flick]
Oleh: Husein Abdulsalam - 26 Oktober 2017
Dibaca Normal 3 menit
Salah satu perang ciber paling seru di awal era internet menyasar Indonesia karena kasus kekerasan di Timor Timur.
tirto.id - Pada pertengahan 1997, Departemen Luar Negeri (Deplu) Indonesia geger. Persisnya pada 30 Juni 1997, menjelang ambrolnya perekonomian Indonesia oleh krisis dahsyat, sekelompok peretas yang menamakan diri Urban Kaos mengganti tampilan situsweb Deplu. Mereka memajang logo “Urban Kaos” di bagian atas situsweb. Tepat di bawah logo tersebut, tertulis sebuah klaim siangkat: “This site Hacked by UrBan KaOs.

Ulah Urban Kaos membuat pemerintah Indonesia kalang-kabut, apalagi mereka menampilkan tiga kata kunci yang menjadi alasan mereka meretas situsweb Deplu: “Free East Timor”. Sikap membela kemerdekaan Timor Timur itu pun dipertegas dengan pernyataan, “UrBaN KaOs mendukung harapan orang Timor… Berjuang Sampai Mati… Pantang Menyerah.”

Baca juga: Curhat Hackers dan Nestapa Telkomsel

Pesan yang mereka sampaikan memberi gambaran bahwa Urban Kaos tidak hanya melakukan peretasan (hacking) namun juga menyuarakan kritik sosial-politik kepada pemerintah Indonesia – kegiatan yang secara umum disebut hacktivism.

Jika peretas didefinisikan sebagai orang atau sekelompok orang yang gemar melakukan eksplorasi terhadap sistem pemrograman, baik komputer maupun perangkat digital lainnya, lalu aktivisme diartikan sebagai aksi terencana guna memerolah tujuan sosial politik. Para hacktivist berusaha memadukan keduanya. Mereka meretas untuk mengampanyekan atau memeroleh tujuan sosial politik.

Wired melaporkan hacktivism digunakan pertama kali oleh kelompok peretas dan seniman Cult of the Dead Cow. Bagi mereka, hacktivism dimaksudkan sebagai usaha mengembangkan dan menggunakan teknologi untuk mendorong perlindungan hak asasi manusia dan keterbukaan pertukaran informasi.

“Profesional Killers, Made in Indonesia”

Dalam Ulah Hacker Politik Membebaskan Tanah Lorosa’e, Timor Timur Menyerang Indonesia (2009), Hendracaroko Marpaung menyebut sejak 1996 berbagai macam situsweb yang dikelola pemerintah Indonesia kerap menjadi sasaran para hacktivist pendukung kemerdekaan Timor Timur.

“Urban Kaos untuk serangan kali ini (serangan kepada Deplu) hanya ingin menunjukkan pada Deplu RI dan pembaca bahwa mereka memiliki perhatian terhadap situasi di Timor Timur. Dan tidak hanya mereka yang melakukan hal serupa, Urban Kaos hanya representasi dari dukungan-dukungan tersebut,” sebut Hendracoko.

Meretas dan mengubah tampilan muka situsweb dilakukan oleh Urban Kaos bukan hanya kepada Deplu saja. Hendracaroko mencatat, pada 23 Desember 1996, Urban Kaos meretas 28 situs milik pemerintah Indonesia. Mereka mengubah wajah semua situsweb tersebut dengan menampilkan logo “Portuguese Hacker Against Indonesian Tyranny” disertai ungkapan solidaritas terhadap 250 orang korban tewas peristiwa Santa Cruz.

Pagi hari 28 Oktober 1991, jasad aktivis muda pro-kemerdekaan, Sebastiao Gomez, ditemukan tergeletak di dekat gereja Moteal. Pada 12 November 1991, jasadnya dimakamkan di Santa Cruz. Namun upacara pemakaman tersebut berubah menjadi demonstrasi yang berakhir dengan berondongan peluru oleh aparat keamanan Indonesia.

Baca juga: Mengenang 25 Tahun Kejahatan Indonesia di Santa Cruz

“Mereka ingin memecundangi pemerintah Indonesia dengan seolah-olah ingin berkata: ‘Anda bukan apa-apa di Internet.’ Jika pemerintah Indonesia memiliki kekuasaan besar atas Timor Timur bukan berarti pemerintah Indonesia memiliki kekuasaan yang sama besarnya di internet,” sebut Hendracoko.

Kemudian, serangan demi serangan berlanjut. Pada 22 November 1997 kelompok yang menamakan diri Portuguese Hackers Against Indonesia (PHAI) – tanpa menyebut Urban Kaos – meretas situsweb lembaga pemerintah Indonesia.

Lalu pada 10 Februari 1997 kelompok Toxyn meretas situsweb Deplu. Mereka mengganti logo situsweb dengan tulisan “Welcome to the Department of Foreign Affairs Fascist Republic of Indonesia”.

Tidak hanya kepada situs lembaga sipil, pada 24 April 1997 kelompok Toxyn meretas situsweb Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Mereka menampilkan tulisan “Profesional Killers, Made in Indonesia” dengan latar belakang tentara memegang senjata. Terakhir, pada 8 Februari 1998, kelompok Kaotik meretas 43 situs Indonesia.

Baca juga: Ragam Cerita dari Masa Orde Baru

Menurut Hendracokro, peretasan terhadap situs ABRI memiliki tujuan memberi citra negatif bagi ideologi penguasa. Dengan menampilkan perilaku para politikus dan militer yang melakukan tindak pembunuhan, mereka hendak memberi gambaran kepada dunia wajah Indonesia di zaman Orde Baru sebagai negara yang fasis dan otoriter.

Merdeka di Dunia Siber

"Kami berharap untuk memperhatikan pentingnya penentuan nasib sendiri dan kemerdekaan rakyat Timor, tertindas dan dilanggar selama puluhan tahun oleh pemerintah indonesia. Kami harap Anda memberikan perhatian penuh terhadap langkah historis menuju kebebasan ini, kami meminta Anda untuk membantu kita memerangi tirani Indonesia yang menduduki Timor."

Kelompok Toxyn memunculkan rangkaian kalimat di atas dalam setiap serangannya kepada situsweb di Indonesia. Majalah elektronik para peretas, Phrack Magazine, menyebut bahwa kampanye kemerdekaan Timor Timur merupakan salah satu hacktivism yang pertama dan yang tersebar di seluruh dunia. Bahkan kepada Hendracoko, salah satu peretas Toxyn berinisial Dr.m0xx mengklaim mereka melakukan peretasan dengan motif sosial-politik sebelum konsep hacktivism muncul.

Selain dikampanyekan oleh para hacktivist, kemerdekaan Timor Timur juga digemakan melalui sebuah alamat situsweb. Pada 1997, penyedia layanan internet Connect Ireland membuat country code top-level domain (ccTLD) untuk Timor Timur dengan kode .tp. Kode tersebut adalah singkatan dari Timor Portuguese.

Baca juga: Merdeka dari Pendudukan Indonesia



Melalui situsweb www.freedom.tp sejarah kolonialisme dan kondisi mutakhir Timor Leste dikabarkan ke seluruh dunia. Situsweb tersebut mengajak para pengunjungnya untuk mendukung kemerdekaan Timor Timur dan mengutuk penindasan yang dilakukan militer Indonesia.

Selain persoalan informasi, bahasa simbol juga bermain dalam hal ini. Keberadaan domain .tp menjadikan Timor Timur sejajar dengan negara-negara merdeka yang memiliki ccTLD sendiri, seperti Indonesia (.id), Amerika Serikat (.us), atau Canada (.ca). Stewart Taggart dalam artikelnya “Irish Eyes Smile On Dot-Tp” bahkan menyebut pendiri dan managing director Connect-Ireland Martin Maguire telah mendeklarasikan kemerdekaan Timor Timur di cyberspace.

Rentetan aksi itu tentu saja memantik reaksi. Pada 1999 domain .tp mulai diserang.

“Penyerangan ini sistematis dan berlangsung lama, dari 18 lokasi berbeda, dan menarget domain bernama .tp. Fakta bahwa saya telah mendapat telepon yang memberi tahu saya untuk berhenti memberikan hosting bagi domain Timor Timur, mengarahkan saya bahwa ini bukan serangan peretas biasa,” ujar Maguire kepada Wired.

Siapa dalang di balik penyerangan? Spekulasi pun bermunculan. Maguire percaya bahwa penyerangan tersebut disponsori oleh pemerintah Indonesia. Sedangkan juru bicara Kedutaan Indonesia di London mengatakan tuduhan Maguire itu tidak berdasar. Menurutnya, pemerintah Indonesia tidak memiliki kepentingan terhadap perusahaan Irlandia.

Baca juga: Sejarah Timor Leste dan Hikayat Mario Vegas Carrascalao

Sementara itu, Space Rogue, yang saat itu menjad editor Hackers News Network bependapat bahwa penyerangan itu dilakukan sekelompok peretas yang bersimpati kepada pemerintah Indonesia.

“Jika benar peretasan tersebut dilakukan atau disponsori oleh pemerintah Indonesia, maka ia akan menjadi perang siber pertama yang terdokumentasi,” ujar Taggart.

Setelah melewati perundingan yang cukup alot, penentuan pendapat rakyat Timor Timur lewat referendum diaksanakan pada 30 Agustus 1999. Hasilnya, sebanyak 78,50 persen rakyat Timor Timur ingin merdeka dari Indonesia. Setelah itu, pada PBB menyerahkan kekuasaan sepenuhnya kepada Timor Leste pada 2002. Pada 30 Septmber 2005, Timor Leste memiliki ccTLD baru, yakni .tl.

Yang jelas domain .tp dan kelompok peretas Urban Kaos, PHAIT,hingga Toxyn telah turut serta bersolidaritas kepada perjuangan rakyat Timor Timur meraih kemerdekaannya dari Indonesia.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - Politik)

Reporter: Husein Abdulsalam
Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Zen RS
DarkLight