Membedah 'Bukit Algoritma': Pemilik Tanah sampai Penyandang Dana

Oleh: Haris Prabowo, Vincent Fabian Thomas - 13 April 2021
Dibaca Normal 3 menit
Siapa pemilih lahan Bukit Algoritma, calon Silicon Valley Indonesia? Dari mana mereka mendapatkan uang?
tirto.id - Sejumlah perusahaan swasta akan membangun pusat pengembangan industri dan teknologi 4.0 serta sumber daya manusia di wilayah Sukabumi, Jawa Barat. Dinamakan ‘Bukit Algoritma’, proyek ini akan dibangun di atas tanah seluas 888 hektare dan menghabiskan dana sebesar Rp18 triliun.

Dua perusahaan swasta yang berencana membangun proyek tersebut adalah PT. Kiniku Nusa Kreasi dan PT. Bintang Raya Lokalestari. Dua perusahaan itu membuat sebuah perusahaan kerja sama operasional (KSO) bernama PT. Kiniku Bintang Raya, yang ketua pelaksananya diisi oleh Budiman Sudjatmiko, politikus PDIP yang merupakan Komisaris PTPN V.

‘Bukit Algoritma’ itu akan disulap bak Silicon Valley di Amerika Serikat, yang jadi pusat perusahaan-perusahaan teknologi global. Mereka juga akan menggandeng salah satu BUMN bidang konstruksi sebagai penggarap, PT. Amarta Karya (Amka)—tanda tangan kontrak pada 7 April lalu.

“Untuk tahap pertama selama tiga tahun, Amka menjadi mitra kepercayaan untuk membangun infrastruktur, termasuk akses jalan raya, fasilitas air bersih, pembangkit listrik, gedung konvensi dan fasilitas‐fasilitas lainnya,” kata Budiman.

Budiman juga mengaku sedang melobi sebuah BUMN agar bisa melakukan pengadaan sinyal 5G di lokasi itu.

Kepada wartawan Tirto, Senin (12/4/2021), Budiman bercerita bahwa mimpi membangun ‘Silicon Valley-nya Indonesia’ salah satunya karena didorong keresahan banyak ilmuwan, periset, dan inovator yang merasa kurang mendapat tempat di negara sendiri. Kata dia, mereka adalah orang-orang sudah melewati studi doktoral dengan riset yang bagus, hingga ada yang pernah bekerja di Tesla—perusahaan otomotif milik Elon Musk, namun merasa bingung saat pulang kampung.

“Mereka melihat dan mendengar teman-teman mereka yang pulang ke Indonesia tapi kerjanya administratif. Mereka takut dengan kisah-kisah seperti itu. Mereka banyak dapat beasiswa dari pemerintah, kalau memutuskan tidak pulang karena takut ilmunya enggak kepakai, sangat disayangkan,” kata Budiman.


Tempat pulang itulah yang coba disediakan Budiman. Tempat itu akan menjadi bagian dari ekosistem yang juga termasuk desa-desa, kota-kota, hingga kampus-kampus Indonesia dan luar negeri. “Teknologi maju berbasis nano, kecerdasan buatan, kuantum, biologi, penyimpanan energi, dan lain-lain,” kata dia.

Ia mengklaim kalau proyek tersebut tak akan menggunakan dana APBN atau pajak. “Ini bukan proyek negara, ini proyek swasta. Kita enggak pakai APBN, enggak pakai pajak warga. Saya datang dengan tangan di atas. Kami mau bawa investasi, bukan minta uang dari APBN,” katanya.

Dana pembangunan ‘Bukit Algoritma’ yang katanya murni dari investor asing dan nasional itu “sebagian bukan cuma untuk fisik, tapi juga untuk pendanaan anak-anak muda yang mau berkarya lewat start up.”

Gabungan Megaproyek KEK Sukabumi

Proyek ‘Bukit Algoritma’ ini tidak berdiri di atas lahan kosong. Lahan seluas 888 hektare tersebut adalah milik PT. Bintang Raya Lokalestari. Dalam laporan Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) tahun 2018, perusahaan itu tercatat mengusulkan tanah tersebut untuk menjadi KEK Sukabumi, dengan kegiatan utamanya: pariwisata, fusi sains, dan teknologi.

Pada 2018 lalu, PT. Bintang Raya Lolalestari getol mengajak kerja sama dua perguruan tinggi ternama di Jawa Barat, Universitas Padjajaran (Unpad) dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Unpad ditunjuk sebagai mitra Agro Health Ecopark, sedangkan ITB ditunjuk sebagai mitra ITB NBIC (Nanotechnology, Biotechnology, Information Technology dan Cognitive Science) Innovation Park.

Sepanjang 2019, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil juga beberapa kali mengajukan sejumlah daerah di wilayah otoritasnya untuk dijadikan KEK. Kata dia, yang paling menjanjikan ada di daerah Cikidang—yang merupakan tanahnya PT. Bintang Raya Lokalestari.

Pada awal 2020, anak buah Ridwal Kamil menyebut KEK Cikidang yang totalnya menyentuh 888 hektare—awalnya hanya 330 hektare—tinggal diresmikan Presiden Joko Widodo.

Namun, 10 Februari lalu, terungkap bahwa kawasan di Cikidang tersebut bisa menjadi KEK karena ada rencana pembangunan pariwisata terintegrasi dari MNC Lido City—salah satu anak perusahaan Ketua Umum Partai Perindo sekaligus konglomerat media, Hary Tanoe. Saat itu para pengamat mengkritik karena penetapan itu rentan konflik kepentingan karena putri Hary Tanoe menjabat sebagai Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Budiman membenarkan bahwa dirinya ditawari oleh PT. Bintang Raya Lokalestari untuk mengelola tanah seluas 888 hektare tersebut. Kata pihak perusahaan, tanah tersebut sudah diajukan sebagai KEK ke Dewan Ekonomi KEK kendati belum diisi konsep apa pun.

“Manusianya belum ada. Saya ada manusianya, saya ada konsepnya, kami bangun business plan. Kami ajukan ke investor, ternyata kebanyakan investor luar negeri yang tertarik. Dalam negeri beberapa masuk sebagai tenant atau pengguna. Kalau kawasan dan sebagainya luar negeri yang tertarik, investor dari negara Amerika, Asia, Eropa, dan Timur Tengah,” kata Budiman.

Ia juga membenarkan kalau proyek ‘Bukit Algoritma’ tersebut akan masuk ke dalam megaproyek KEK Sukabumi. Budiman juga mengaku tahu bahwa sudah ada kerja sama dengan Unpad dan ITB.

“Sudah MOU dengan ITB pengelolaan 25 hektare dan Unpad 25 hekatre. Cuma karena belum diapa-apain, belum ada investornya, saya diminta mengambil alih ini, syaratnya: carikan investor, carikan SDM inovator dan perisetnya, carikan market, ekosistem pasarnya. Saya carikan tiga-tiganya,” kata dia.

“Tapi kami ingin ajak negara lewat BUMN. Untuk main contractor, kami ngasih uang dari investor ke PT. Amarta Karya,” tambahnya.


Kepada wartawan Tirto Budiman juga memberikan dokumen profil perusahaan PT. Kiniku Nusa Kreasi, yang menjalin relasi PT. Bintang Raya Lokalestari. Perusahaan yang berdiri sejak 2018 itu bergerak di bidang elektronika, teknologi informasi & komunikasi, hingga marketing. Kata Budiman, perusahaan itu yang bertugas menjadi pemodal. “Yang dapat modal adalah PT. Kiniku Nusa Kreasi,” kata dia.

Rencana pembangunan ‘Bukit Algoritma’ tersebut mendapat kritik deras dari publik. Salah satu karena rencana proyek tersebut tampak lebih mengedepankan pembangunan infrastruktur dan seperti mengabaikan yang lain.

Terkait kritik tersebut, Budiman menjawab: “Pertama, ini yang kelihatan infrastrukturnya. Tapi sebenarnya pembangunan SDM sudah dari 2018. Saya kumpulan 200-an orang inovator dan periset,” kata Budiman. Yang dia maksud adalah Inovator 4.0, sebuah organisasi yang kerap ia promosikan lewat media sosial.

“Ada yang enggak masuk Inovator 4.0, tapi diajak juga. Ini kan bukan klub eksklusif. Mereka bingung ketika ilmu mereka mau dipakai bagaimana di Indonesia.”

Baca juga artikel terkait BUKIT ALGORITMA atau tulisan menarik lainnya Haris Prabowo & Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Haris Prabowo & Vincent Fabian Thomas
Penulis: Haris Prabowo & Vincent Fabian Thomas
Editor: Rio Apinino
DarkLight