Menuju konten utama
Pemilu Serentak 2024

Membaca Strategi PAN soal Erick Thohir Kandidat Capres Potensial

Erick Thohir dinilai bisa memberikan efek elektoral ke PAN meski bukan kader. Namun tantangannya adalah meyakinkan KIB agar menerimanya.

Membaca Strategi PAN soal Erick Thohir Kandidat Capres Potensial
Menteri BUMN Erick Thohir (tengah) didampingi Ketua Umum DPP PAN Zulkifli Hasan (kiri) dan Sekjen PAN Eddy Soeparno (kanan) saat menghadiri kegiatan Workshop Nasional DPP PAN di Nusa Dua, Badung, Bali, Selasa (5/10/2021). ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/hp.

tirto.id - Partai Amanat Nasional (PAN) melirik Menteri BUMN, Erick Tohir sebagai kandidat bakal capres terkuat di internal partai. Hal ini disampaikan Wakil Ketua Umum DPP PAN, Yandri Susanto. Ia menyebut nama Erick selalu muncul dalam usulan yang diberikan oleh DPD PAN di seluruh kabupaten dan kota di seluruh Indonesia.

“Pemilu raya di kabupaten dan kota merekomendasikan 10 nama. Di antara 10 nama itu, nama Erick Thohir ada semua,” kata Yandri di Gedung Nusantara V, Komplek DPR/MPR RI pada Senin (25/7/2022).

Yandri mengklaim, nama Erick tidak asal muncul secara dadakan. Erick sudah berhubungan aktif dengan PAN sejak lama. Eks bos klub bola Inter Milan itu kerap hadir dalam acara PAN, baik acara resmi maupun informal dengan status pribadi atau sebagai menteri BUMN.

Nama Erick muncul dari aspirasi pengurus tingkat DPD PAN, tanpa intervensi DPP PAN. Ia masuk dalam daftar 10 kandidat bakal capres PAN yang diusulkan. Akan tetapi, PAN akan melakukan penyaringan dan akan dibahas dalam rapat kerja nasional partai berlambang matahari itu.

“Dari 10 nama itu sedang berlangsung rakerwil di tingkat provinsi dan 10 nama dikerucutkan menjadi 6 nama dan akan disampaikan ke DPP untuk dibahas di rakernas pada akhir Agustus nanti,” kata Yandri.

Namun Yandri mengaku, PAN belum berpikir untuk meninggalkan koalisi Indonesia Bersatu (KIB) karena Erick dekat dengan PDIP dan bisa membuat PAN mengusung Erick via PDIP. Ia menegaskan, PAN bisa mengajukan bakal capres lewat koalisi yang sudah ada.

“Saat ini kami belum sampai ke sana [koalisi]. Segala sesuatunya itu, kan, bagian dari komunikasi dan tentu akan dilaporkan dan dibahas di tingkat KIB. Baik dari segi skema, kesepakatan dan masih belum ada sampai ke sana. Tapi bahwa silaturahmi itu awal dari menuju proses yang lebih maju tentu harus segera dimulai,” kata dia.

Anggota KIB yang lain pun mengaku tidak menolak kemungkinan nama Erick menjadi bakal kandidat. Wakil Ketua Umum DPP PPP, Arsul Sani mengakui, nama Erick Thohir adalah salah satu kandidat potensial dalam diskusi di internal KIB yang saat ini masih berisi tiga parpol, yaitu Golkar, PAN dan PPP. Ia mengacu pada hasil survei yang menunjukkan elektabilitas Erick yang terus menanjak dan namanya menjadi kandidat kuat di internal PAN.

“Pak Erick itu salah satu bakal capres potensial, bukan dari KIB, tapi dari survei,” kata Arsul di Gedung Nusantara V, Komplek DPR RI pada Kamis (28/7/2022).

Meski demikian, kata dia, KIB masih membuka nama kandidat lainnya yang saat ini juga beredar dalam pusaran survei. “Kami semua terbuka, tidak hanya dengan nama Erick, tapi juga ada Ganjar [Pranowo], Andika [Perkasa], dan Anies [Baswedan]” kata dia.

Tinggal Menunggu Sikap Koalisi

Pemerhati politik sekaligus peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wasisto Raharjo Jati menilai, Erick yang menjadi kandidat kuat capres PAN meski bukan kader adalah upaya adaptif PAN dalam meraih simpati pemilih pemula. Hal ini tidak lepas dari upaya PAN mempertahankan posisinya di kancah politik nasional.

Wasisto mengatakan, citra Erick yang muda dan energik bisa menjadi simbol PAN yang tengah bertransformasi menjadi partai anak muda. Wasisto pun menilai Erick punya modal untuk menjadi bakal capres daripada kader senior PAN yang menjadi kepala daerah maupun kader muda lain karena faktor pendukung seperti posisi dan karier sebelum di dunia politik.

“Posisi ET yang duduk jadi seorang menteri dan juga salah satu pengusaha nasional yang besar, tentu punya daya tawar lebih ke internal PAN. Apalagi dua ketum PAN sebelumnya dan sekarang juga berlatar belakang pengusaha,” kata Wasisto kepada reporter Tirto, Kamis (28/7/2022).

Wasisto mengakui Erick memiliki kapasitas untuk menjadi bakal calon presiden maupun wakil presiden. Akan tetapi, kata dia, Erick masih butuh 'pengalaman' dalam dunia politik agar lebih matang. Meski demikian, Erick bisa memberikan efek elektoral kepada PAN meski bukan kader, tapi perlu ada proses yang dilalui, termasuk kemungkinan maju jadi bakal capres atau cawapres.

“Kalau benefit secara elektoral, tentu ada, namun berproses. Hal ini mengingat ET juga masih pemain baru dalam kompetisi politik 2024,” kata Wasisto.

Soal potensi Erick maju lewat PAN sebagai kandidat di Pemilu 2024, Wasisto berkata, “Saya pikir semua parpol koalisi, termasuk PAN ketika mencalonkan figur tertentu, tentu sudah berpikir realistis untung ruginya.”

Wasisto menilai, sikap PAN jika mendukung Erick menjadi bakal capres/cawapres akan mempengaruhi hubungan mereka dengan dua partai lainnya di KIB, yakni PPP dan Golkar. Ia menduga akan ada disharmoni antara PAN dengan mitra koalisinya.

Namun, Wasisto pesimistis PAN akan keluar dari KIB. Ia menduga PAN akan mengubah secara redaksional sikap politiknya, bukan nominasi tapi pemetaan figur potensial. PAN juga akan melakukan lobi agar koalisi tetap berjalan.

“Tergantung dari pembicaraan internal dalam KIB. Setidaknya ketiga partai ini perlu berpikir matang soal nominasi kandidat yang tepat,” kata Wasisto.

Sementara itu, Dosen Komunikasi Politik Universitas Multimedia Nusantara, Silvanus Alvin menilai, wajar Erick masuk dalam daftar capres potensial PAN. Sebab, Erick dinilai tokoh muda sehingga bisa menarik pemilih muda.

“Erick Thohir termasuk dalam tokoh-tokoh nasional saat ini sehingga wajar saja bila PAN memasukkan namanya sebagai kandidat capres. Apalagi Erick juga masuk kategori tokoh muda sehingga cocok dengan preferensi dari kaum Milenial dan Gen-Z, serta relevan pula dengan Gen-X," kata Alvin kepada Tirto.

Alvin menilai, kemungkinan Erick bisa menjadi bakal calon tidak lepas dari fenomena Jokowi. Meski fenomena Jokowi disebut anomali karena bisa menjadi presiden dengan latar belakang bukan pengurus utama partai maupun hanya berbasis kepala daerah. Keinginan publik, kata Alvin, masih berharap pemimpin dari sipil. Erick yang notabene sipil punya kesamaan dan bisa mengambil momentum untuk maju dalam Pemilu 2024.

Di sisi lain, kata dia, Erick memang memiliki elektabilitas tidak besar seperti Prabowo Subianto, Anies Baswedan maupun Ganjar Pranowo dalam berbagai survei. Akan tetapi, elektabilitas Erick masih bisa naik. Ia menduga, ada strategi tertentu untuk meningkatkan elektabilitas Erick.

Lantas, apakah Erick bisa menjadi capres-cawapres yang diusung KIB? Alvin menilai politik adalah hal dinamis. Ia yakin PAN tidak akan keluar dari koalisi. KIB justru akan membangun komunikasi bersama dan mencari cara agar komunikasi lancar, apalagi para ketua umum koalisi berada di dalam pemerintahan saat ini.

“Pembahasan mengenai siapa yang akan diusung oleh koalisi tentu masih terlalu dini untuk diputuskan. Semua masih dalam tahap mix and match. Namun, di era digital saat ini, tentunya ketika sebuah partai seperti PAN bersikap ke publik bahwa Erick Thohir adalah kandidat capres kuat mereka, maka pasti ada perhitungan di internal yang sudah dilakukan,” kata Alvin.

Alvin memberi catatan nama Erick harus masuk dalam Rakernas PAN pada 26 Agustus 2022, bila ingin didukung partai. Jika tidak, kata dia, maka upaya mendorong Erick sebagai bakal capres maupun cawapres akan menjadi tantangan. Oleh karena itu, para ketum dan elite partai membangun komunikasi untuk meloloskan strategi tersebut.

“Peluang PAN mendorong Erick Thohir itu ada, tapi kalau bicara hasil, itu persoalan lain. Hanya saja peluang itu ada,” kata Alvin.

Baca juga artikel terkait PEMILU 2024 atau tulisan lainnya dari Andrian Pratama Taher

tirto.id - Politik
Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Abdul Aziz