Membaca 'Atheis', Menelusuri Ruang Pengalaman Para Tokohnya

Membaca Atheis di Bandung
Jalan Lengkong Besar, alamat rumah Kartini. tirto.id/Irfan Teguh Pribadi
Oleh: Irfan Teguh - 25 Juni 2019
Dibaca Normal 7 menit
Tahun ini roman Atheis karya Achdiat Kartamihardja berusia 70 tahun. Tirto menelusuri sejumlah tempat di Kota Bandung yang dijadikan latar cerita.
tirto.id - Achdiat Kartamihardja memungkasi roman Atheis dengan darah dan iman yang tersisa. Hasan, tokoh utamanya, pemuda puritan dan peragu yang telah bersalin keyakinan, barangkali masih mempunyai ampas akidah pada Tuhan-nya.

“Hasan jatuh tersungkur. Darah menyebrot dari pahanya. Ia jatuh pingsan. Peluru senapan menembus daging pahanya sebelah kiri. Darah mengalir dari lukanya, meleleh di atas betisnya. Badan yang lemah itu berguling-guling sebentar di atas aspal, bermandi darah. Kemudian dengan bibir melepas kata ‘Allahu Akbar’, tak bergerak lagi…”

Kisah tragis Hasan dalam pencarian jati diri tersebut tahun ini memasuki usia ke-70 sejak mula-mula terbit pada 1949. Roman Atheis menjadi salah satu karya penting dalam perjalanan sastra Indonesia modern.

“Penyelaman ke dalam jiwa tokoh-tokoh, pemilihan kejadian-kejadian di dalam plot-plot, pembayangan tema, dan lain-lain unsur yang menjadikan Atheis suatu well-made novel,” ungkap Subagio Sastrowardoyo dalam Sastra Hindia Belanda dan Kita (1983).

Pada 1974 Atheis sempat diangkat ke layar lebar oleh sutradara Sumandjaja. Seperti romannya, filmnya juga menimbulkan kontroversi, bahkan saat masih dalam proses perencanaan. Hal ini, menurut J.B. Kristanto dalam Katalog Film Indonesia 1926-2005 (2005), membuat ulama sohor, Hamka, turun tangan menjadi supervisornya.

Meski film ini kurang berhasil secara komersial, tapi mampu meraih Plakat Djamaluddin Malik pada Festival Film Indonesia 1975 untuk film adaptasi novel terbaik.

Roman Atheis dibangun lewat cerita berbingkai. Kisah ini disampaikan kepada pembaca lewat tokoh “saya” yang berjumpa dengan Hasan yang memberikan sebuah naskah kepadanya, berupa pengalaman hidup Hasan sendiri. Tokoh “saya” kemudian bertindak sebagai juru kisah.

Andries “Hans” Teeuw, pakar sastra dan budaya Indonesia asal Belanda, seperti dikutip Sastrowardoyo menyusun roman Atheis lewat sebuah rumusan (C [B (A) B] C). A merupakan pokok kisah, B hubungan Hasan dengan tokoh “saya”, dan C adalah cerita kematian Hasan berdasarkan laporan orang lain.

Bangunan cerita ini membuat cerita dalam roman Atheis berlapis. Pembaca mesti tajam tiliknya dengan peralihan antarbagian ini untuk menghindari kebingungan dalam mengikuti alur cerita.

Salah satu unsur lain yang menarik dalam roman ini ialah latar tempat, dan yang paling banyak dipakai adalah Bandung. Di kota inilah Hasan bergulat dengan pelbagai pemikiran baru, tarik-menarik dengan pemikiran lamanya yang kolot.

Tempat-tempat ini juga dianggap penting oleh tokoh “saya” ketika ia menerima naskah kisah ini dari Hasan. Ia hendak memastikan cerita yang dituturkan oleh kawannya tersebut.

“Saya akan mengunjungi tempat-tempat, ke mana ia pernah pergi, dan meminta keterangan yang cukup kepada orang-orang yang pada masa itu pernah bergaul atau berhubungan dengan Hasan,” ungkapnya.

Jika tokoh “saya” mengunjungi tempat-tempat itu untuk mengonfirmasi cerita, maka kiwari penelusuran tempat dan lanskap kota yang tercantum dalam Atheis barangkali bisa menjadi cara alternatif dalam mengingat ulang dan mengenalkan kembali kisah ini kepada para pembaca lama. Kepada pembaca terkini, ini adalah cara baru untuk memperkenalkan roman itu.


Tempat Tinggal dan Watak

Secara garis besar sekujur latar roman didominasi wilayah Bandung selatan, yang dulu menjadi permukiman pribumi. Sementara Bandung bagian utara adalah wilayah permukiman orang-orang Belanda dan Eropa lainnya. Batas kedua wilayah ini adalah rel kereta api.

Meskipun Atheis tidak mengisahkan pertentangan antara Belanda dan Jepang dengan rakyat Indonesia yang tertindas, karakter-karakter di dalamnya tetap dikisahkan berada di bawah tekanan penjajahan.

“Dengan menyadari suasana zaman yang melingkungi hidup tokoh-tokoh roman ini, maka menjadi jelas mengapa alam pikiran tokoh-tokoh Atheis dipenuhi masalah-masalah politik,” terang Subagio Sastrowardoyo.

Di luar soal politik, imbuh Sastrowardoyo, pemilihan tempat tinggal tokoh-tokoh utama juga merupakan perwujudan kepribadian mereka.

Selama di Bandung, Hasan tinggal di rumah bibinya di Jalan Sasakgantung. Jalan ini berupa jalan kecil dengan kualitas tidak terlalu bagus yang melewati sejumlah perkampungan.

Pada 1940-an Jalan Sasakgantung bukan daerah para menak yang mapan secara ekonomi, garis keturunan, dan pendidikan. Jalan itu dihuni para pegawai rendahan seperti Hasan, juga para pedagang kecil. Di lingkungan perkampungan seperti inilah Hasan tinggal, lingkungan yang menuntut warganya bersikap tertib.

Sementara Kartini tinggal di Jalan Lengkong Besar, sebuah ruas jalan yang banyak dihuni para menak. Ia sempat menjadi istri seorang rentenir tua keturunan Arab karena dipaksa kawin oleh orang tuanya. Tempat tinggal dan lingkungannya ini membuat Kartini tak canggung dalam pergaulan kehidupan kota.

Dan Rusli, kawan masa kecil Hasan yang bertemu lagi di Bandung, tinggal di Jalan Kebon Manggu. Sebuah jalan kecil di pinggir Jalan Kalipah Apo yang digambarkan dalam roman tersebut dipenuhi rumah pelacuran. Lingkungan tempat tinggalnya ini menunjukkan bahwa Rusli suka menentang ukuran moral yang umum.

“Dengan memaklumi daerah tempat tinggal tokoh masing-masing itu kita dapat menerima dengan lebih wajar, misalnya kekikukan Hasan dalam menghadapi tokoh-tokoh lain,” imbuh Sastrowardoyo.



Sungai, Bioskop, dan Taman

Selain Jalan Sasakgantung, Jalan Lengkong Besar, dan Jalan Kebon Manggu, tempat lain yang dapat ditelusuri adalah Sungai Ci Kapundung yang membelah Kota Bandung. Di sungai ini Hasan mandi sebanyak empat puluh kali selama satu malam, dari bakda isya sampai menjelang subuh.

“Tiap kalinya aku mencemplungkan diri ke dalam air, menyelam ke dalam, dan sesudah itu lekas ke luar dari dalam air, lalu duduk di pinggir kali, membiarkan tubuh menjadi kering lagi dengan tidak boleh mempergunakan handuk. Kalau sudah kering mesti lekas mencemplungkan diri lagi ke dalam air. Begitulah seterusnya sampai empat puluh kali,” terang Hasan menjelaskan ritualnya dalam mempelajari tarekat yang ia dan orang tuanya anut.

Ci Kapundung sekarang, terutama yang jauh dari hulu, seperti sungai-sungai lainnya di perkotaan, tentu sudah tak layak untuk dijadikan tempat mandi. Limbah industri dan rumah tangga telah mencemarinya. Termasuk di bagian sungai yang melintasi Jalan Sasakgantung tempat Hasan tinggal.

Ketika Hasan mulai dekat dengan Kartini—sebelum akhirnya mereka menikah—mereka sempat menonton film di bioskop sekitar Jalan Suniaraja. Bioskop ini, jika melihat catatan Sjarif Amin dalam memoar bertajuk Keur Kuring di Bandung (1983), diperkirakan bioskop Empress yang semula bernama Apollo seperti terdapat dalam roman Rasia Bandoeng (1918) karangan Chabanneau.

Setelah mereka keluar dari bioskop dan sampai di Parapatan Kompa—simpang antara Jalan Suniaraja dan Jalan Pangeran Sumedang atau sekarang bernama Jalan Oto Iskandar Di Nata—mereka berjalan menuju sebuah taman yang sekarang bernama Taman Dewi Sartika di depan Kantor Wali Kota Bandung.

“Jadi kami tidak berbelok ke Jalan Pasar Baru dan Alun-alun, melainkan mengambil jalan terus, melalui Jalan Suniaraja, Jalan Landraad, dan Pieterspark,” tulis Hasan.

Pada zaman Belanda tempat mengadili pribumi untuk kasus pidana dan perdata dinamakan Landraad. Di Jalan Landraad di Kota Bandung memang terdapat sebuah gedung pengadilan yang salah satunya pernah dipakai untuk mengadili Sukarno dan kawan-kawannya sesama pengurus Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 1930. Gedung ini sekarang bernama Gedung Indonesia Menggugat, dan Jalan Landraad telah bersalin nama menjadi Jalan Perintis Kemerdekaan.

Sementara Pieterspark merupakan taman pertama di Kota Bandung. Keberadaan taman ini tentu saja di sebelah utara rel kereta api, karena di sisi inilah orang-orang Belanda dan Eropa lainnya tinggal.

Seperti disebutkan sebelumya, tempat tinggal tokoh-tokoh utama dalam roman Atheis berada di sisi selatan rel kereta api, tapi mereka sesekali main ke utara untuk sekadar bertamasya seperti yang dilakukan Hasan dan Kartini.

Selain mereka, ada juga sejumlah pekerja seks komersial atau Achdiat menyebutnya 'lonte' yang menyelinap ke Pieterspark dan dikejar-kejar para agen polisi kolonial.

“Lonte! Lonte! Masih berani juga kamu menyelundup!” teriak seorang agen polisi sambil mengejar buruannya saat Hasan dan Kartini duduk di sebuah bangku di taman tersebut.


Membaca Atheis di Bandung
Sungai Ci Kapundung, tempat Hasan mandi menjalankan ritual tarekat. tirto.id/Irfan Teguh Pribadi

Ruas Jalan Hasan

Hasan bekerja di Jawatan Air Kotapraja. Alamat kantornya tidak disebutkan, tapi yang jelas di wilayah utara Bandung. Hal ini diketahui saat Hasan menerangkan bahwa pada Sabtu, saat kantor-kantor pemerintah hanya bekerja sampai pukul satu siang, ia meluncur melintasi Jalan Merdeka Lio yang mulut jalannya terletak di sisi Jalan Wastukancana.

“Melancar sepedaku di atas Jalan Merdeka Lio. Aku tak usah banyak mendayung, karena jalannya mudun,” ucapnya.

Ia terus meluncur ke bawah, ke arah selatan. Saat hendak sampai ke Jalan Braga yang sangat ramai oleh pelbagai kendaraan, ia menghindarinya.

“Aku tidak suka kepada keriuhan dan keramaian seperti itu. Oleh karena itu aku tidak mengambil Jalan Braga, melainkan membelok ke kanan, ke Jalan Landraad, terus ke Alun-alun lewat [Jalan] Banceuy,” ungkapnya.

Tempat tinggal Hasan di Jalan Sasakgantung membuat ia kerap melalui jalan-jalan kecil, juga gang, saat hendak menuju ke rumah Rusli di Jalan Kebon Manggu. Dua jalan kecil ini memang agak lurus, tapi terpotong oleh ruas-ruas jalan besar seperti Jalan Balonggede, Jalan Dewi Sartika, dan Jalan Oto Iskandar Di Nata.

Jadi, selain karena Hasan kurang menyukai keriuhan, keberadaan jalan-jalan kecil ini pun membuatnya kerap mengambil jalan pintas. Seperti misalnya saat ia hendak “mengislamkan” Rusli dan Kartini pada awal-awal mereka bertemu.

“Sepedaku melancar didorong oleh keyakinan suci. Tidak mengambil jalan kemarin, melainkan mengambil jalan terobosan, yaitu Gang Awiwulung. Seakan-akan suatu lambang bagiku sebagai seorang mistikus untuk mengambil jalan yang singkat. Bukankah mistik itu jalan yang sesingkat-singkatnya untuk bersatu dengan Tuhan? Begitulah kata guru,” katanya.


Membaca Atheis di Bandung
Jalan Kebon Manggu, alamat rumah Rusli. tirto.id/Irfan Teguh Pribadi

Penginapan di Sekitar Stasiun Bandung

Setelah melewati masa-masa manis, kehidupan rumah tangga Kartini dan Hasan kerap diwarnai pertengkaran. Suatu hari, setelah bertengkar hebat, Kartini pergi meninggalkan rumah.

Mula-mula ia hendak pergi ke Padalarang, ke rumah sepupunya dari garis mendiang ayahnya, tapi ia urungkan karena merasa malu. Ia juga berpikir untuk pergi ke rumah kawannya, namun ini pun ia batalkan karena merasa tak enak.

Ia hanya berjalan tak tentu tujuan, dan akhirnya bertemu dengan Anwar, kawannya, juga kawan Hasan dan Rusli. Setelah singgah di sebuah restoran, Kartini diantar Anwar pergi ke stasiun: rupanya ia berubah pikiran, hendak ke Padalarang. Namun, karena telah sore, Anwar membujuknya untuk bermalam dulu di sebuah penginapan di dekat stasiun.

“Demikianlah layaknya Kartini, ketika Anwar setengah membujuk setengah mendesak mengusulkan, supaya malam itu ia menginap saja di sebuah penginapan dekat stasiun, agar besok paginya bisa terus berangkat dengan kereta api yang paling pagi ke Padalarang,” tulis Achdiat.

Dalam kondisi kejiwaan goncang karena pertengkaran, Kartini akhirnya menurut. Di penginapan tersebut Anwar ternyata hendak memperkosanya. Saat duduk berdua di sebuah kamar, berahinya menjompak.

“Maka ditariknya tangan Kartini, lalu pinggangnya dipeluknya lagi. Tapi licin seperti belut Kartini bisa melepaskan dirinya serta melompat keluar dari sudut yang sempit itu. Dengan cepat seperti tukang copet, tangannya yang kiri menjewang tas pakaiannya dari lantai, lalu lari keluar, meninggalkan Anwar dalam kamar yang tidak berani terus mengejar keluar kamar,” imbuh Achdiat.

Penginapan ini pula yang sempat disinggahi Hasan saat ia tiba dari kampungnya di Garut ketika ayahnya telah meninggal, saat ia telah berkali-kali bertengkar dengan Kartini, dan waktu kondisi fisiknya semakin lemah karena tekanan batin.

Lewat buku tamu, Hasan mengetahui bahwa Kartini dan Anwar pernah singgah di penginapan ini. Hal ini tentu membuatnya emosi, rasa cemburu dan sebal membakar jiwanya. Dengan kemarahan meluap-luap, meski badannya ringkih, Hasan berlari tak tentu tujuan meninggalkan penginapan.

“Hasan lari terus. Lari terkapah-kapah. Napasnya mengap-mengap […] Sinere tiba-tiba berbunyi. Tanda bahaya udara. Hasan agak mengeram larinya. Tapi ia lari terus.”

Saat berlari kesetanan itulah Hasan ditembak aparat keamanan Jepang. Dan sebelum tak bergerak lagi ia sempat berucap “Allahu Akbar”.




Infografik Tur Roman Atheis di Bandung
Infografik Tur Roman Atheis di Bandung. tirto.id/Rangga

Wisata dan Kanon Sastra

Tempat-tempat lain dalam roman Atheis masih banyak, seperti kantor, warung kopi, restoran, toko, dan lain-lain, yang semuanya menjadi ruang pengalaman bagi para tokoh dalam kisah ini.

Dalam konteks wisata kota, semua lokasi yang menjadi ruang pergulatan antara Hasan dan kawan-kawannya sangat mungkin untuk disusun menjadi sebuah rute perjalanan “sastrawi”. Hal ini bisa menjadi wisata alternatif, juga lebih mendekatkan antara pembaca dengan bahan bacaannya dalam konteks hubungan antara cerita dan ruang penceritaan.

Pada 2017 sebuah komunitas pegiat sejarah Kota Bandung, Komunitas Aleut, sempat melakukan perjalanan berdasarkan roman ini. Tapi, karena pelbagai keterbatasan, titik-titik yang dilaluinya tidak terlalu lengkap. Dan kemarin, Minggu (23/6/2019), mereka mengulang perjalanan yang sama.

Saya mengikuti dua perjalanan tersebut. Jumlah peserta yang turut serta, baik pada 2017 maupun 2019, tidak terlalu banyak. Sebagai sebuah karya sastra klasik yang ditulis pada akhir 1940-an, Atheis jelas berjarak dengan generasi kiwari. Sehingga barangkali mereka tidak terlalu tahu dan hirau dengan karya ini.

Atau mungkin saja generasi sekarang juga tak hendak mengelap-ngelap kanon sastra klasik yang bagi mereka tak ada hubungannya secara langsung dengan kehidupan mereka. Bisa jadi mereka punya kanon sastra sendiri yang lebih mewakili zaman dan pengalamannya. Persis seperti pemahaman yang berjarak antara Hasan dan ayahnya.

Baca juga artikel terkait SASTRA INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Irfan Teguh
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight