Hari Buku Sedunia 2020

Memajukan Perbukuan dan Literasi Tidak Bisa Menggunakan Anekdot

Oleh: Irfan Teguh - 8 Mei 2020
Dibaca Normal 3 menit
Data konkret diperlukan agar kerja-kerja perbukuan tidak menggunakan anekdot.
tirto.id - Hilmar Farid selaku Dirjen Kebudayaan hadir sebagai pembicara dalam rangkaian acara Hari Buku Sedunia 2020 yang dihelat oleh Perkumpulan Literasi Indonesia. Tema yang dibicarakan dalam kesempatan itu (2/5/2020) adalah "Perbukuan dalam Gerak Pemajuan Kebudayaan"

Menanggapi dunia perbukuan di tengah pandemi seperti sekarang, Hilmar Farid mengungkapkan bahwa apa yang telah dilakukan oleh pemerintah memang masih terbatas. Para pelaku industri perbukuan, khususnya penerbit hanya dapat insentif pajak sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 44 Tahun 2020.

Selain itu, negara juga hanya menanggung PPH 21 pegawai penerbitan dan percetakan. Artinya, hal tersebut tidak memadai untuk situasi seperti sekarang di mana para penerbit telah kehilangan pelbagai hal.

Meski demikian, Hilmar menegaskan bahwa persoalan pemajuan perbukuan memang bukan tugas satu dua pihak, melainkan banyak pemangku kepentingan.


Riset dan Data

Di luar pelbagai kekurangan tersebut, Hilmar menekankan bahwa untuk pemajuan perbukuan, harus dimulai dengan riset dan data sebagai landasan penting untuk bekerja.

“Mau bikin apa, mulai dari mana, dengan skala seperti apa, semua bergantung pada riset dan data. Tanpa itu, hanya akan bekerja dalam lingkaran,” ungkapnya.

Menurutnya, tanpa landasan seperti itu, dunia perbukuan hanya melakukan hal yang sama, berulang-ulang: punya ritual yang sama, menyoroti kelemahan-kelemahan, belum bisa melangkah secara konkret untuk melakukan perbaikan.

Salah satu hal yang ia soroti dari dunia perbukuan di Indonesia adalah kerap menggunakan anekdot. Misalnya, membahas studi terkait literasi berdasarkan data Central Cennecticut State University dengan beberapa variabel dari PISA tahun 2016, yang menyimpulkan bahwa Indonesia berada di posisi 60 dari 61 negara.

Namun menurut Hilmar, tidak banyak yang membaca secara rinci tentang riset tersebut bahwa lima variabel yang diperiksa itu adalah perpustakaan, surat kabar, input pendidikan, output pendidikan, dan ketersediaan komputer.

“Tidak ada urusan dengan buku sama sekali,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa dari segi surat kabar dan ketersediaan komputer Indonesia masih rendah, namun soal perpustakaan justru di atas beberapa negara Eropa dan Asia. Belum lagi soal output pendidikan yang menempatkan Indonesia di posisi menengah. Beberapa capaian ini, imbuhnya, seharusnya tidak perlu terjebak narasi umum tentang posisi Indonesia tersebut. Yang perlu dibenahi adalah hal-hal yang lemah dan mempertahankan yang sudah baik.

Menurut Hilmar, tahun lalu Komite Buku Nasional telah membuat pemetaan permasalahan.

“Saya di kementerian tahu persis bahwa urusan koordinasi untuk literasi bukan hal mudah, tantangannya luar biasa, tapi sudah dipetakan,” ungkapnya.


Pemetaan Perbukuan

Dalam laporan tentang geografi perbukuan Indonesia, terdapat tiga kluster, yakni Jawa (kluster 1), Sumatera ditambah beberapa wilayah di Kalimantan dan Sulawesi (kluster 2), sisanya kluster tiga yang berarti tingkatnya paling rendah. Menurutnya, jika hendak berbicara dalam skala yang serius dan benar, maka harus turun sampai ke tingkat kabupaten dan kota dengan membuat pemetaannya.

“Karena jangan-jangan, kita akan mendapatkan gambaran yang berbeda dengan peta sebelumnya. Ada daerah-daerah tertentu yang masuk kluster tiga, tapi ada kluster satunya. Ada daerah-daerah di kluster satu yang ada kluster tiganya,” jelasnya.

Tak menutup kemungkinan bahwa pusat-pusat perkotaan di kluster 3 setara dengan kluster 1, begitu juga sebaliknya. Jika geografi perbukuan ini dipelajari secara cermat, maka amat banyak informasi untuk memutuskan strategi pemasaran: ke arah mana penerbitannya, dan seterusnya. Data konkret tersebut diperlukan agar dapat bekerja dengan tidak menggunakan anekdot.

“Kalau mau bergerak, tidak cukup dengan success story. Jika skala pergerakan ini ingin diperluas secara nasional, maka tidak cukup dengan kisah-kisah tersebut," ujarnya.

Data tentang geografi perbukuan Indonesia amat berguna untuk menentukan ceruk pasar penerbitan dan pelbagai strateginya. Menurut Hilmar, sebagai contoh terdapat 10 genre yang penjualannya di atas 10 juta pada tahun 2018, yaitu novel, buku anak, buku sekolah, buku agama, komik, dan lain-lain.

“Ada ilmunya untuk mengembangkan dunia perbukuan, yang penting tidak lagi semata-mata melihat buku ini menarik bagi si penulis, editor, tapi bisa bunyi tidak? Inilah pilihan-pilihan yang harus mulai dibicarakan serius,” ungkapnya.

Rumus yang dapat dilaksanakan menurut Hilmar Farid, kurang lebih sebagai berikut; ada buku-buku yang sangat penting, tapi kemungkinan kecil bisa laku, ini urusan pemerintah. Jika buku-buku marketable, bisa menjual, digerakkan oleh dunia usaha. Pembagian kerjanya dapat dibuat seperti demikian.


Sumber Daya Kreatif dan Kolaborasi

Hilmar kemudian membahas elemen-elemen dalam dunia perbukuan yang memerlukan sumber daya kreatif sebagai kekuatan utama. Menurutnya, penulis Indonesia hebat-hebat, namun mesti ada program yang mendukung mereka untuk tetap berkarya. Salah satu upaya yang dilakukan Dirjen Kebudayaan adalah memfasilitasi bantuan kebudayaan, di antaranya residensi penulis.

Ia berharap peluang untuk mengembangkan sumber daya kreatif dalam dunia perbukuan harus cermat. Menurutnya, kapasitas menulis harus ditingkatkan melalui pendidikan, pelatihan, penguasaan bahasa, riset, dan sebagainya.

Ia mengutip sastrawan Subagio Sastrowardoyo yang mengatakan bahwa karya para penulis Indonesia dengan bakat alamnya telah menerima banyak penghargaan. Apalagi jika ditambah penguatan kapasitas dengan caya yang sistematis”.

Selain mendorong para penulis untuk mengembangkan kemampuannya, hal lain yang disoroti adalah soal kerja-kerja kolaborasi antarpenerbit. Kiwari, di Indonesia terdappat sekitar 8 ribu penerbit, sementara yang dapat terus menghidupi perusahaannya lebih kecil dari angka itu.

Hilmar menyarankankan agar para penerbit berkonsolidasi untuk memperluas ceruk pasar seperti yang dilakukan oleh penerbit Penguin dan Random House.

"Penerbit independen dengan karya-karya baik, tapi kemampuan finansial kurang, belajar untuk melakukan kolaborasi yang sama," terangnya.

Terakhir ia mengungkapkan bahwa sekarang dan ke depan, buku mesti "memanusiakan", artinya harus relevan, personal, dengan pendekatan yang membuat buku itu dirasakan kehadirannya.

=======

Laporan ini ditulis oleh Vudu Abdul Rahman (Pengajar, Penulis, Pegiat Literasi Tasikmalaya). Hari Buku Sedunia 2020 yang diadakan oleh Perkumpulan Literasi Indonesia berlangsung pada 23 April-2 Mei 2020. Tahun ini mengusung tema Indonesia Online Festival, "Book Lovers in the Time of Corona: Sharing, Collaboration and Create"

Baca juga artikel terkait HARI BUKU SEDUNIA 2020 atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Irfan Teguh
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight