R.N. Bayu Aji
Dosen Jurusan Pendidikan Sejarah, FISH Unesa. Menekuni Sejarah dan Olahraga Indonesia

Meluruskan Kembali Tujuan PON

29 September 2016
Dibaca Normal 2 menit
Gagasan awal dan dilaksanakannya Pekan Olahraga Nasional (PON) sebagai gelaran olahraga di Indonesia adalah mencari bibit-bibit atlit berbakat di setiap cabang olahraga di seluruh penjuru negeri ini untuk mempersiapkan diri dalam keikutsertaan Asian Games pertama 1951 dan Olimpiade Musim Panas Helsinksi 1952. Selain itu, semangat yang digelorakan melalui PON adalah memupuk persaudaraan, persatuan untuk membangun karakter bangsa melalui olahraga.

Akan tetapi, seiring dengan perjalanan penyelenggaraannya, PON yang seharusnya menjadi etalase hasil pembinaan atlit daerah berubah menjadi ajang pencomotan atlit antar daerah di Indonesia dengan iming-iming bonus ratusan juta rupiah dan bahkan sampai miliaran. Mengharumkan nama daerah tentu saja merupakan misi mulia, namun jika dilakukan dengan berbagai cara, tentu saja membuat gerah. Ketidaksabaran membina atlit-atlit inilah yang membuat pemerintah provinsi memilih jalan potong kompas dan “membeli” atlit nasional untuk mendulang pundi-pundi emas.

Hal yang lebih memalukan lagi adalah terjadinya tawuran antar atlit dan atar suporter di venue Polo Air. Begitu juga di pertandingan tinju dan gulat, perselisihan antar official dan tawuran juga tak terhindarkan. Aksi mogok bertanding serta terjadinya perubahan peraturan teknis dalam pertandingan maupun perlombaan sejumlah cabang olahraga turut mewarnai PON Jabar kali ini.

Dibutuhkan Politik Olahraga

Manusia pada hakikatnya telah melakukan olahraga semenjak awal peradaban manusia dimulai. Olahraga dan masyarakat merupakan suatu hal yang tidak terpisahkan. Olahraga dapat digambarkan sebagai sebuah representasi dari dunia sosial yang melingkupinya. Begitupun sebaliknya, olahraga juga menyumbang terbentuknya masyarakat karena olahraga bukanlah semata-mata aktivitas fisik belaka. Olahraga mengandung nilai-nilai tertentu yang bisa menyumbangkan konstruksi nilai-nilai dan budaya dalam masyarakat.

Manusia pada dasarnya adalah "Homo Ludens" menurut J. Huizinga. Manusia memiliki sifat dasar untuk bermain dan olahraga sebagai permainan memiliki karakteristik terbebas. Secara fungsional olahraga memiliki peran untuk menyehatkan tubuh, sementara pada sisi sosial berperan dalam menanamkan nilai-nilai dan norma kehidupan yang patut untuk direnungkan dan diterapkan. Lebih jauh lagi olahraga bahkan dapat menunjukkan karakter dan identitas sebuah bangsa.

Pada tahun 1947, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Wikana dalam laporan majalah Tjakram menyampaikan pidato kenegaraan tentang gerakan olahraga. Gerakan olahraga telah nyata tidak bisa dipisahkan dari gerakan kebangsaan dan kewajiban bagi masyarakat adalah untuk memperhatikan gerakan olahraga sebagai suatu bagian kebulatan tekad perjuangan.

Di saat Indonesia telah menjadi sebuah negara, tujuan perjuangan bangsa adalah menegakkan negara Republik Indonesia menjadi negara yang besar. Olahraga menjadi perhatian dan urusan negara sebagai representasi dari negara. Keolahragaan yang menjadi tujuan para penggemar dan atlitnya apabila dilihat dari sudut kenegaraan adalah jalan untuk menegakkan negara. Menurut Wikana, hasil olahraga tidak bisa dilihat dari hasil pertandingan saja, olahraga adalah pembangunan bagi perjalanan bangsa dan negara.

Olahraga harus dikembangkan secara merata dan menjadi kebiasaan. Olahraga tidak hanya sebagai tontonan dan harus dilakukan oleh masyarakat sebagai bentuk dukungan terhadap negara dalam mengembangkan visi olahraga. Olahraga merupakan salah satu sektor yang menjadi perhatian dari negara untuk dikembangkan lebih serius di era kemerdekaan. Olahraga memiliki potensi yang cukup besar untuk mengenalkan dan membanggakan Indonesia sebagai bangsa yang masih baru saat itu.

Keberhasilan dalam dunia olahraga, tentu saja akan membuat bangga sekaligus mengangkat citra bangsa Indonesia di mata dunia. Keberhasilan dalam pembinaan olahraga serta prestasi yang berhasil diraih, tentu saja akan menjadi magnet penarik perhatian bagi bangsa-bangsa lainnya dalam memandang Indonesia. Olahraga yang dikemas dalam bentuk kompetisi, menjadi sarana yang tepat untuk menarik perhatian dunia.

Dalam setiap tahun, banyak sekali agenda-agenda yang berkaitan dengan olahraga yang dalam ajang tersebut melibatkan olahragawan-olahragawan dari berbagai negara. Misalnya dalam Olimpiade, Asian Games, dan lain sebagainya yang dalam kompetisinya banyak diikuti negara-negara besar, sehingga setiap negara peserta kompetisi selalu menginginkan untuk menjadi yang terbaik.

Seandainya Indonesia mampu berprestasi dalam ajang olahraga tingkat internasional seperti Olimpiade ataupun Asian Games, tentu hal tersebut akan menjadi catatan positif Indonesia di mata dunia, terutama dalam bidang olahraga. Selain itu, prestasi yang diukir akan menumbuhkan rasa kebanggaan terhadap bangsa yang mana hal tersebut akan sangat bermanfaat dalam membangun rasa cinta terhadap bangsa dan negara.

Sukarno pernah membangun visi olahraga Indonesia. Ia menegaskan bahwa olahraga merupakan sarana, yakni sarana untuk membangun manusia, untuk membangun komunitas nasional yang berarti membangun bangsa, menciptakan rasa hormat antar sesama. Kita semua harus menjadi satu bangsa yang besar, bangsa baru, bangsa yang pantas menjadi contoh daripada seluruh umat manusia di dunia ini. Republik Indonesia menghendaki supaya seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke berolahraga. Berolahraga atas landasan revolusi, bukan berolahraga tanpa tujuan mental, bukan berolahraga tanpa tujuan nasional.

Sudah saatnya dunia olahraga Indonesia mempelajari dan meneladani perjalanan historis olahraga yang telah dibangun oleh para founding fathers. Mereka semua menjadikan olahraga sebagai sarana untuk membangun karakter bangsa dan negara melalui politik olahraga. Marilah kita semua merefleksikan diri, mencoba untuk meluruskan kembali tujuan diselenggarakannya PON untuk membangun bangsa dan negara ini melalui olahraga.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.
DarkLight