Menuju konten utama

Melihat Orang Lain Menderita Itu Menyenangkan, Kenapa?

Rasa iri dan narsistik adalah beberapa faktor yang menyebabkan seseorang bahagia melihat orang lain menderita.

Melihat Orang Lain Menderita Itu Menyenangkan, Kenapa?
Ilustrasi orang tertawa liat orang sedih. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Setiap manusia pasti memiliki "sisi gelap" dalam dirinya masing-masing dan salah satunya adalah senang melihat orang lain susah. Ada istilah menarik terkait hal itu: schadenfreude.

Dalam tiga puluh tahun terakhir, sejumlah psikolog melakukan berbagai penelitian guna mencari tahu asal muasal terciptanya “sisi gelap” manusia tersebut. Tapi sampai hari ini belum ada temuan yang disepakati bersama. Salah satu penelitian tersebut dimulai dengan menelusuri proses terciptanya kata schadenfreude.

Menurut telusuran Quartz, kata schadenfreude pertama kali muncul dalam karya penulis roman asal Jerman, Christian Heinrich Spiess, yang berjudul Biographies of Suicides dan terbit pada 1739. Dalam karyanya tersebut, Spiess mengisahkan pengalamannya berkunjung ke sebuah desa kecil di mana ia mendapat kisah nyata seorang tahanan pria yang bunuh diri di dalam penjara karena patah hati setelah hubungan cintanya kandas.

Spiess kemudian turut mengamati ekspresi wajah orang-orang di desa itu dan menemukan berbagai varian ekspresi di antara mereka, mulai dari yang terkesan ingin tahu hingga marah. Namun juga ada ekspresi lain yang ia ungkapkan dengan istilah tertentu: schadenfreude--paduan dua kata bahasa Jerman (schaden) yang artinya kekerasan dan (freude) yang artinya kebahagiaan.

Dalam "Facebook With a Side of Schadenfreude", Atlantic memuat pendapat satu narasumbernya yang menyebut tindakan mengamati unggahan orang lain yang mengesankan kesuksesan atau kebahagiaan, membuat pembaca merasa hidupnya tidak beruntung atau buruk.

Naskah tersebut turut memuat pernyataan profesor komunikasi Ohio State University yang bilang bahwa bila seseorang membutuhkan semangat, maka ia akan mencari unggahan dari orang-orang yang dianggap kurang beruntung atau tidak sebaik dirinya. Membandingkan diri dengan orang lain yang lebih tidak beruntung, membuat seseorang merasa lega atau berbahagia.

Ada pula saatnya di mana orang jauh lebih berbahagia melihat orang lain susah di kehidupan nyata ketimbang di dalam kisah-kisah fiksi.

Salah satu contohnya bisa dilihat dari riset berjudul “Schadenfreude is Higher In Real-Life Situations Compared to Hypothetical Scenarios” yang dilakukan pada 9-10 Desember 2015 dan Juni 2016. Sampel penelitian pertama melibatkan 59 partisipan (30 wanita) Argentina dengan rentang usia usia 20 dan 60 tahun. Sementara untuk riset kedua dilanjutkan pada perhelatan Copa America 2016 dengan melibatkan 120 partisipan asal Argentina. Untuk meraih akurasi yang signifikan, riset dilakukan persis setelah laga selesai dimainkan.

Pada riset pertama, para partisipan disuguhkan skenario bila Tim Brasil kalah dalam pertandingan melawan Tim Peru. Hasilnya, responden pendukung tim merasa senang kala melihat tim dukungannya menang.

Ketika pertandingan benar-benar berlangsung pada pertengahan 2016, kesenangan melihat tim idola berhasil mengalahkan tim lain lebih melonjak ketimbang cerita skenario yang disampaikan beberapa bulan sebelumnya.

Gejala Pemicu

Makalah “Schadenfreude Deconstructed and Reconstructed : A Tripartite Motivational Model” yang terbit dalam New Ideas of Psychology (2018) memaparkan ada beberapa faktor pemicu schadenfreude.

Pertama, rasa iri. Orang cenderung tidak mendukung sosok yang terlalu gemilang--memiliki latar belakang pendidikan, jabatan, harta yang nampak berlebihan.

Penelitian ini pernah menguji penilaian orang terhadap satu orang sukses yang mengalami kejadian buruk dan nasibnya berubah 180 derajat. Responden menganggap kegagalan adalah sesuatu yang layak didapat oleh seorang "over achiever" atau "highly achiever". Dan mereka puas melihat kegagalan menimpa orang sukses.

Rasa iri yang berdampak pada schadenfreude ini muncul karena ada perasaan inferior dalam pribadi seseorang. Gejala schadenfreude akan semakin terlihat bilamana jarak antara superioritas dan inferioritas semakin besar.

Kedua, sikap kompetitif di dalam grup. Riset ini menyebut bahwa individu yang terikat dalam sebuah kelompok sangat mungkin menganggap rekan sesamanya sebagai lawan.

Ketiga, bila individu terdiagnosis mengalami gangguan mental psikopat. Penelitian ini mengutip pendapat Heilbrun yang menyebut psikopat mengalami kesenangan bila melihat penderitaan orang lain atau korban kejahatannya.

Keempat, bila individu memiliki perpaduan elemen psikopat, narsistik, dan machiavellianism--sifat mementingkan diri sendiri dan melakukan tindakan manipulatif demi mencapai tujuan. Paduan sifat-sifat tersebut bisa membuat orang antusias terhadap aksi kekerasan yang bisa dilihat dari berbagai tayangan video atau program televisi.

Kelima, orang yang kurang atau tidak percaya diri. Sifat tidak percaya diri membuat seseorang menjadikan tindak schadenfreude sebagai alat untuk meningkatkan rasa percaya diri lewat perbandingan dengan orang lain yang nasibnya lebih buruk.

Di samping itu, para pengidap gangguan depresi juga rentan terhadap aksi schadenfreude.

Schadenfreude bukan jenis emosi yang gampang dibicarakan,” kata Tiffany Smith, penulis Schadenfreude The Joy of Another’s Misfortune dalam wawancaranya dengan Longreads.

Ia pernah merasa begitu bersalah karena merasakan emosi tersebut. Tadinya Smith pikir hanya dia satu-satunya orang di dunia ini yang pernah merasa senang atas penderitaan orang lain. Setelah menelusuri schadenfreude lebih dalam, barulah ia merasa sedikit lega.

“Aku tidak jadi merasa sebagai orang yang paling buruk di dunia.”

Infografik senang melihat orang susah

Infografik senang melihat orang susah. tirto.id/Quita

Smith meyakini schadenfreude bisa timbul mulai dari lingkungan yang paling dekat seperti kakak-adik dalam keluarga. Soal penyebab munculnya Schadenfreude, Smith nampak sependapat dengan seorang neurosaintis yang ia wawancara.

“Kenikmatan saat melihat seseorang dihukum atau mengalami kekerasan ialah tanda bahwa kita sebenarnya sedang berada dalam situasi terancam dan tidak sepenuhnya nyaman dengan kondisi kita sendiri,” kata Lisa Feldman Barrett kepada Smith.

“Mereka yang mengalami schadenfreude tertawa lebih keras dan merasa lebih bahagia ketimbang mereka yang merasa senang,” ungkap Smith.

Perasaan senang melihat orang lain susah ini juga bisa dikaitkan dengan produksi hormon oksitosin dalam tubuh. Scientific American pernah memuat hasil penelitian yang menyebut hormon oksitosin memiliki potensi dalam membuat seseorang merasa iri atau bersikap schadenfreude.

Hormon tersebut biasanya memunculkan rasa percaya, empati, dan keinginan untuk berbuat baik dalam diri seseorang. Tetapi di sisi lain juga bisa menghasilkan efek negatif. Meski demikian, hal itu masih perlu ditelusuri lebih lanjut.

Baca juga artikel terkait PSIKOLOGI atau tulisan lainnya dari Joan Aurelia

tirto.id - Mild report
Penulis: Joan Aurelia
Editor: Eddward S Kennedy