22 Februari 1987

Melihat dari Dekat Kanonisasi Andy Warhol

Andy Warhol. tirto.id/Nauval
Oleh: Sabda Armandio - 22 Februari 2020
Dibaca Normal 5 menit
Karya-karya yang merupakan sisi lain dari stereotip Andy melibatkan kecelakaan mobil dan pesawat, kecanduan obat-obatan, kursi listrik, hingga bintang film yang bunuh diri.
Ketika menyebut namanya, orang berpikir tentang sesuatu yang menor, serba cerah, dan kadang terlihat seperti overdosis kegembiraan, “tapi Warhol juga, bahkan pada tahun-tahun awal, memiliki ketertarikan pada kematian dan kerusakan,” kata Celeste Adams, direktur Grand Rapids Art Museum, saat menggagas pameran bertajuk Rapid Exposure: Warhol in Series pada Maret 2008.

Karya-karya yang merupakan sisi lain dari stereotip Andy melibatkan kecelakaan mobil dan pesawat, kecanduan obat-obatan, kursi listrik, hingga bintang film yang bunuh diri.

Andy takut pada rumah sakit, dan selalu berusaha keras menghindari operasi. Karena itu, dia punya Dr. Denton S. Cox, yang merawatnya selama bertahun-tahun. Selain dokter pribadi, Andy juga punya gejala gallbalder disease selama bertahun-tahun pula. Di sini anda bisa melihat kaitan antara dokter pribadi dan penyakitnya, yang kemudian mengarahkannya pada rumah sakit New York-Cornell Medical Center pada 20 Februari 1987.

“Aku akan bikin kamu kaya raya kalau kamu nggak mengoperasiku,” kata Andy kepada Dr. Bjorn Thorbjarnarson, dokter ahli bedah yang menanganinya.

Sebelum operasi, tinggi Andy 180 cm dengan berat 58,2 kilogram. Dia juga kena anemia dan dehidrasi. Operasi berhasil. Dia bangun dan berencana ke pertunjukan balet. Pada 22 Februari 1987, tepat hari ini 33 tahun lalu, Andy yang itu meninggal dunia pukul setengah tujuh pagi waktu Manhattan. Pemeriksaan post mortem menyebutkan berat Andy saat mati 68,2 kilogram, beberapa kilogram lebih berat dari ketika ia masuk rumah sakit.

Proses otopsi menyatakan bahwa kematian Andy disebabkan oleh ventricular fibrillation, masalah ritme jantung yang tidak stabil. Paru-parunya dipenuhi cairan dan trakeanya juga dimasuki cairan berwarna merah muda, kerusakan organ yang diakibatkan oleh kelebihan cairan. Ia meninggal karena serangan jantung akibat tekanan operasi dan kelebihan cairan. Obsesinya pada kematian dan kerusakan, tampaknya, benar-benar menuntunnya pada kematian dan kerusakan.

“Ketika tubuh yang sedang sakit melewati trauma operasi besar, tekanan pada seluruh sistem—termasuk jantung—kadang-kadang bisa berakibat fatal,” kata Dr. Stewart Redmond Walsh.

Tembakan Valerie Solanas dan S.C.U.M Maniefsto

Dalam cerita anak populer Charlotte’s Web karangan E.B. White, jangkrik-jangkrik merasa memiliki kewajiban untuk mewartakan ke seluruh dunia bahwa musim panas juga punya waktu kedaluwarsa. Jangkrik-jangkrik itu, di sela rerumputan, menyebar rumor tentang kesedihan dan hal-hal yang berubah setelahnya.

Jangkrik-jangkrik itu bisa anda bayangkan sebagai .32 Beretta yang melontarkan peluru ke tubuh Andy pada Juni 1968. Seperti kebanyakan tubuh manusia, tubuh Andy tidak cukup elastis untuk melontarkan balik peluru melainkan melesap menembus perut, hati, limpa, kerongkongan, dan paru-paru. Andy segera dikabarkan tewas, meski dokter berkata lain: ia masih hidup. Namun, Andy tampaknya tak benar-benar pulih, baik fisik maupun mental.

Pemilik jangkrik itu bernama Valerie Solanas. Dan kini anda fokus pada cerita Valerie Solanas.

Valerie Solanas adalah seorang aktivis dan penulis. Tiga tahun sebelumnya, pada 1965, ia meminta Andy untuk memproduseri drama terbarunya. Menurut beberapa kawan Andy, pendekatan itu tak berjalan mulus.

“Drama itu dianggap terlalu vulgar, tak ada humor. Bahkan Andy dan kawan-kawannya berpikir naskah itu terlalu berlebihan,” kata Jose Diaz, kurator Andy Warhol Museum di Pittsburgh, Pennsylvania. Andy menerima salinan naskah, tetapi tak tertarik memasukkan namanya ke dalam karya itu.

Dua tahun setelahnya, Valerie Solanas mendirikan Society for Cutting Up Men dan menulis S.C.U.M Manifesto—untuk memahami konteks manifesto ini, saya merekomendasikan anda membaca biografi Valerie Solanas: The Defiant Life of the Woman Who Wrote Scum (and Shot Andy Warhol), dan memahami betapa memuakkannya konsep kanonisasi dan siapa-paling-berhak-menentukan dan tentu saja kekerasan terhadap perempuan yang masih terjadi hingga hari ini, di luar ketidaksepakatan anda terhadap aksi Valerie Solanas.

Saat mencari nama Valerie Solanas anda akan menemukan banyak artikel yang, baik sembunyi mau pun secara terang-terangan, membuat kesan bahwa Valerie Solanas adalah orang gila dan jahat yang menyakiti Andy, pahlawan anda. Persis seperti bagaimana media-media membuat Sid Vicious tampak keren dengan memunculkan gambaran Nancy Spungen yang gila.

Tetapi, jika anda mau mencari tahu lebih banyak, anda akan menemukan bahwa Valerie Solanas adalah orang yang berkata kepada dirinya sendiri, “Bangsat, aku harus melewati hari ini lagi. Aku harus bertahan lagi.” Ia adalah orang yang melihat ke depan dan di depannya berdiri raksasa yang menghalangi pandangan anda. S.C.U.M Manifesto adalah ketapel yang melemparkan batu-batu kepada raksasa itu.

Ia, barangkali, adalah anda sendiri.

S.C.U.M Manifesto penting bagi sejarah perempuan. Dalam The History of Zines, pustakawan Donny Smith berkata bahwa S.C.U.M Manifesto adalah sesuatu yang sulit dikategorikan, “Kadang ia seperti feminis klasik, brosur kaum marjinal, klasik cult, racauan, kebencian terhadap laki-laki, anti-feminis, anarko-sosialis, utopia, bahkan apokaliptik.”

Waktu berjalan dan Andy menghilangkan naskah drama Valerie Solanas, yang kemudian ditemukan di laci yang tak pernah terpakai. Valerie Solanas yakin bahwa Andy berusaha mencuri properti intelektualnya. Satu minggu sebelum penembakan, Solanas menagih naskahnya kepada Andy. Kekahawatiran itu tidak berlebihan mengingat Andy, dengan apa yang ia miliki saat itu, sangat mungkin mencatut idenya.

Pada 3 Juni 1968. Valerie Solanas muncul di 33 Union Square West, kantor baru Andy, dan mengabarkan kepada Andy bahwa kedigdayaan The Factory memiliki sisi gelap dan musim panas pasti berakhir; jangkrik-jangkrik-nya E.B. White sudah mengabarkan jauh-jauh hari.

“Sejak ditembak, segala sesuatu berjalan seperti mimpi. Aku nggak tahu lagi arti dari semuanya,” katanya kepada New York Times, “Aku bahkan nggak tahu apakah aku masih hidup atau sudah mati. Sedih sekali.”

The Dandy Warhol

Andy memulai hidupnya sebagai orang asing yang mengamati masyarakat. Sebagai anak dari imigran Slovakia, ia belajar bahasa Inggris dari radio dan televisi. Pada masa-masa remaja ia senang memakai sepatu yang kebesaran, mengenakan pakaian ibunya, dan memoles kukunya dengan cat. Ia diejek dan disiksa ayah dan saudara laki-lakinya. Ia tumbuh dalam rasa malu, rendah diri, dan perasaan terasing. Televisi, melalui iklan-iklan mereka, adalah jendela yang memperlihatkan dunia kepadanya.

Setelah lulus dari sekolah menengah, Andy berencana belajar di University of Pittsburgh dengan keinginan untuk menjadi guru seni. Namun, keinginannya berubah dan ia mendaftar di Carnegie Intitute of Technology di Pittsburgh dan mulai mempelajari seni komersial.

Andy mendapat perhatian pada akhir 1950 dan pada 1961 memperkenalkan konsep ‘pop art’, yang fokus pada benda-benda komersial yang diproduksi masal.

Andy, sebagai gay dan banyak dari karyanya terinspirasi oleh gerakan LGBT bawah tanah, terkenal sebelum kerusuhan Stonewall. Meski begitu, ia tidak mengambil bagian dari aktivisme dan pergerakan.

Di dalam After Modern Art, David Hopkins mengungkapkan keresahannya mengenai mengapa homoseksualitas dalam karya Andy tak diketahui secara luas, bahkan mengalami reduksi oleh pada akademik dan kritikus, hingga setelah kematiannya.

Simon Watney penulis, sejarawan seni, dan aktivis AIDS asal Inggris menduga bahwa ketidakseriusan Andy merupakan hal fundamental untuk strategi bertahan. Homoseksualitas, khususnya pada 1980-an, masih dianggap sebagai rintangan.




Andy Hari Ini Dalam Seni Rupa

“Warhol bagus buat ukuran modern art (dan ukuran anak DKV pada zamannya). Sayang, orangnya lebih beta dibanding tulisan-tulisan tentang kekaryaannya sendiri,” kata Bonggal Hutagalung, perupa asal Jogja yang pernah menghabiskan waktunya untuk membenci Andy.

“Maksudku, kepintarannya yang mungkin lumayan itu kemudian lebih banyak didukung dengan tulisan orang semacam Clement Greenberg (esais, penulis kritik seni visual) dan kemudian dibalut mistifkasi seni yang dimanfaatin Warhol dengan bertindak slengean dan semi-misterius, kayak nggak pedulian, tapi memancing atensi.”

Bonggal memulai pencariannya mengenai Andy dengan semangat untuk membuktikan bahwa Andy bukan siapa-siapa. “Karena menurutku, visualnya taik. Jadi aku diskusi dan belajar, kemudian sampai pada titik 'oh, iya, kayaknya ini art deh, bukan murni goblok'.”

Dari hasil pencarian Bonggal, keputusan membuat Marylin Monroe berwarna-warni itu terinspirasi dari asuhan keluarga Andy yang katolik. “Dia liat seleb itu sudah macam ikon gede banget yang sebanding sama ikon agama—atau semacam itulah—makanya warna Marylin Monroe yang dipilih mirip dengan pewarnaan Bunda Maria.”

Kebencian Bonggal pada Andy juga menuntun dia mendedah kaleng supnya.

“Ya, biasalah, berawal dari skeptis terus aku menemukan bahwa keputusan mengambil benda atau subject matter yang bagi orang awam langsung bisa diidentifikasi. Katanya, kaleng sup itu diinspirasi dari masa kecilnya yang miskin dan kemudian mendapati bahwa kaleng sup itu penting buat bertahan. Nah, terlepas dari sensasi romantis-romantis kayak gitu, memang kemudian aku sadari enak sih membacanya dengan dihubung-hubungkan dengan fenomena ‘kekurangan dalam kelebihan’ masyarakat urban. Ya, makanan tuh, banyak tersedia tapi belum tentu bisa dibeli.”

“Membaca seniman perlu dapet konteks masyarakat waktu dia lahir, besar, dan hidup berkarya. Termasuk membaca Warhol,” lanjut Bonggal. “Oh, iya, waktu di sekolah seni, dia benci banget dengan generasinya Willem de Kooning yang masuk kanon akademi. Warhol, agaknya, kontra banget sama kekaryaan Willem de Kooning.”

“Kalau yang kotak brillo itu referensinya kardus, tapi eksekusinya pake material kayu, disablon Philadelphia Museum of Art. Jadi, sekilas mimetik kardus brillo dengan bahan sculptural. Secara teknis nggak gampang. Tapi, ya, si Warhol memang sukanya nyuruh orang kerja, sih. Aku rasa ada perbedaan kuat antara seniman yang turun langsung ke medan laga penguasaan material dengan seniman yang modal jari telunjuk. Terakhir kali aku dengar fungsi sosial seni memang salah satunya yang bagi-bagi rezeki. Uang produksi turun ke artisan.”

Salah satu seniman besar yang bisa memberi jawaban mengenai pentingnya memakai artisan adalah Jeff Koons.

“Kalau nggak salah Koons juga doyan Warhol. Koons pakai artisan buat secara spesifik mengejar eksekusi ide dia, yang mana biasanya butuh untuk mengakses teknik produksi yang cuma bisa dilakukan orang tertentu. Koons sangat ekstrem di kualitas, dia bisa meniru karakter balon tapi pakai material logam. Semacam pendekatan terhadap material yang supercanggih tapi twist-nya untuk mengeksekusi subject matter yang sekilas banal. Perbedaannya, Warhol nggak sekeren Koons dalam hal pertukangan atau mendelegasikan teknik, dia buka jalan aja.”

Sebagai seorang seniman, saya meminta Bonggal untuk membayangkan bagaimana rasanya berada di zaman yang sama dengan Andy, dan dia menjawab:

“Nggak enak sih ada di bawah bayang orang besar yang menampilkan citra ‘nggak peduli’. Intimidatif, kayaknya, dan mungkin memunculkan citra Warhol tukang makan orang. Makanya, mengutip Raka Ibrahim (jurnalis Asumsi.co), kita mesti mempertanyakan kanon. Ayolah, kita uji lagi dalam praxis kesenian kita. Sintesa macam apa yang relevan? Quo vadis progress atau stagnasi? Atau kalau enggan sekali bicara ke arah seni rupa hari ini, kita mempelajari sejarah seni rupa dan kanonisasi buat bikin semacam personal compass dan bertanya ke diri sendiri ’kekaryaan gue lagi di mana sih?’

Mempelajari latar belakang dan lanskap sosio-budaya tiap kekaryaan seorang kanon itu jadi penting supaya kita nggak dibodohi seniman karbit yang cacat logika dan sembunyi di balik tema. Nggak sanad. Soal sanad ini Joan Miro sempat mengeluhkan adanya senseless junk yang keluar masuk galeri seni. Benda-benda limbo.”

Bonggal mengakui dampak visual Andy memang sangat besar dan dari situlah ia berangkat untuk mempelajari Andy.

“Apa, sih, catchy approach-nya? Ayo kita pelajari ulang supaya saat mendesain ‘produk’ atau konten nggak muncul kebiasaan asal buat, nggak belajar, dan asal pilih medium yang penting pop. Biar nggak terseret omong kosong skena seni rupa, atau malah jadi racun dengan menyebar kebohongan dengan memanfaatkan keawaman publik.”

Baca juga artikel terkait SENIMAN atau tulisan menarik lainnya Sabda Armandio
(tirto.id - Mild Report)

Penulis: Sabda Armandio
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight