13 Juni 1927

Melati van Java: Menulis sebagai Minoritas Berlapis

Oleh: Uswatul Chabibah - 13 Juni 2021
Dibaca Normal 4 menit
Melati van Java berdarah indo, menulis novel berisi tokoh-tokoh perempuan Indo berkarakter kuat.
tirto.id - “Apa ini obatnya, aku tidak tahan lagi kalau kamu merajuk, cuma bocah pribumi yang begitu. Kamu pasti dapat sifat ini dari ibumu.”

Itu adalah omelan Nyonya Van Vaerne kepada cucu perempuannya, Theodore van Vaerne, dalam novel Fernand karya Melati van Java, yang terbit pada 1874. Theo memang diasuh oleh neneknya yang Belanda totok, walaupun ia merasa lebih dekat dengan babunya. Ketika pada suatu sore Theo mendapati neneknya tertidur pulas, hatinya melonjak gembira. Ia pun mengendap-endap naik ke bale-bale untuk menikmati kudapan kesukaannya tanpa gangguan. Pelan-pelan Theo membuka daun pisang pembungkus kue-kue yang berpadu warna dengan tape dan kelepon. Babu kesayangannya yang menyiapkan. Jika neneknya tahu, Theo bisa habis kena marah karena kelakuannya yang sangat pribumi.

Ketika dewasa, Theodore menolak dinikahkan dengan seorang pria kaya-raya yang menurutnya membosankan. “Saya tidak akan puas dengan kehidupan rumah tangga yang biasa-biasa saja,” dalihnya. Theo memutuskan melakukan perjalanan seorang diri dari Jawa ke Belanda, bolak-balik. Theo memilih mencari cintanya sendiri, dan pada akhirnya menemukan Fernand van Leeuwenburgh, yang juga berdarah Indo seperti dirinya, demikian catat Vilan van de Loo dalam disertasinya di Leiden, “Melati van Java: dochter van Indië”, hlm. 78-79.

Pada abad ke-19, sifat-sifat individu dianggap sebagai sesuatu yang diwariskan serta dilekatkan pada ras tertentu. Ras kulit putih “secara alami” dianggap sebagai ras paling unggul, sementara ras-ras lain berada di bawahnya. Yang berdarah murni alias kulit putih totok jelas lebih superior dibandingkan anak-anak dari pasangan campuran, yang dilihat sebagai kemunduran ras.


Kelompok Eurasia atau Indo sudah ada sejak abad ke-17 ketika Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC, Perusahaan Dagang Hindia-Belanda) berdiri di Hindia. Karena para pedagang VOC tiba di Hindia untuk menetap selamanya, maka mereka harus segera “dihindiakan” atau “verindischen”. Cara paling cepat untuk menjadi Hindia adalah melalui percampuran dengan perempuan pribumi.

Hingga 1870, 80% populasi Eropa di Hindia adalah kelompok Eurasia. Namun, sejak pertengahan abad, orientasi ke Hindia mulai berubah. Pembukaan Terusan Suez pada 1869 memangkas perjalanan panjang dari Eropa ke Hindia selama berbulan-bulan hanya menjadi enam pekan. Durasi perjalanan yang kian pendek ini memungkinkan untuk menjadikan Hindia sebagai tujuan bekerja sementara serta memperkaya diri sebelum kembali ke Eropa. Karena itu, siapapun yang menginjakkan kaki di Hindia berusaha sekuat tenaga untuk tetap menjadi Belanda (verhollandste). Sejak 1880, berkat semakin mudahnya perjalanan, perempuan-perempuan totok Belanda pun berdatangan, yang serta-merta mengubah komposisi perempuan Eropa di Hindia. Tidak hanya itu, perempuan berdarah murni Eropa juga berperan sebagai penjaga superioritas moral dan peradaban Eropa. Populasi Indo kian mengecil dan posisinya pun semakin terkucil, demikian tulis P. Boudewijn dalam "'You inherited that trait from your Eurasian mother': The representation of mixed-race characters in Dutch colonial literature" yang dimuat diDutch Crossing, 40(3), hlm. 242-243.

Seperti halnya Theodore van Vaerne yang berdarah Indo, Melati van Java, yang bernama asli Nicolina Maria (Marie) Sloot, juga berbapak Belanda dan beribukan Indo. Nenek Marie bernama Sajia, seorang nyai tangsi keturunan China. Di dalam novel-novelnya, Marie senantiasa memunculkan karakter perempuan-perempuan Indo dengan karakter-karakter yang kuat, melawan stigma yang dilekatkan pada perempuan Indo. Deskripsi Nicolaus de Graaff pada 1701 mengenai perempuan Indo merupakan penggambaran khas yang senantiasa direproduksi, “… yang kami maksud sebagai perempuan Hindia Belanda adalah perempuan atau anak perempuan yang lahir di Hindia dari orang tua Belanda, dan mereka disebut lip lap oleh orang kebanyakan, karena hampir semuanya gila…” tulis J.M. Kroef dalam "The Indonesian Eurasian and His Culture" yang dimuat di Phylon (1940-1956) (1995).

Marie, Perawan Gereja yang Menulis

Pada 1871, ayah Marie, Carel Sloot, memutuskan kembali ke Belanda ketika masa pensiunnya sebagai guru tiba. Marie dan dua adiknya, ibu dan neneknya, semua lahir dan besar di Hindia. Marie mewarisi mata neneknya yang sipit dan kulit yang lebih gelap dibandingkan dua saudaranya. Pada Agustus 1871, keluarga penganut Katholik-Roma ini hijrah ke Belanda meninggalkan Hindia. Marie berusia 18 tahun ketika meninggalkan negeri tropis yang sangat dicintainya, dengan koper penuh naskah coretannya sejak remaja. Buku-buku terpaksa ia tinggalkan.

Setahun kemudian pada 1872, Marie menerbitkan cerita pertamanya, Twee Moeders, di majalah mingguan gereja, Het Katholiek Stuiversmagazijn. Ia menggunakan nama samaran Mathilde. Di tahun yang sama, Voor God en Koning juga terbit di majalah tersebut. Keaktifan keluarga Sloot di gereja sangat berpengaruh dalam merintis jalan panjang Marie.

Debut pertama Marie sebagai novelis adalah pada 1874 ketika De jonkvrouwe van Groenerode terbit. Untuk pertama kalinya, ia menggunakan nama Melati. Penerbitnya, Kolff, menambahkan “van Java”. Sejak itulah Melati van Java muncul semerbak seiring karya-karyanya yang terus ditelurkan. Setidaknya terdapat 48 judul terbit dalam rentang waktu 1872 hingga 1917, termasuk empat karya yang ia tulis dengan nama pena Max van Ravestein.

Infografik Mozaik Nicolina Maria Sloot
Infografik Mozaik Nicolina Maria Sloot. tirto.id/Quita


Dalam Indische Letteren, Vol. 7, 2020, Vilan van de Loo mengelompokkan karya-karya Marie dalam tiga genre. Genre pertama adalah roman sejarah. Jeanne d'Arc yang terbit pada 1894 ia tulis atas nama Mathilde. Tetapi roman sejarah yang paling masyhur bagi penduduk Indonesia hingga kini adalah Van slaaf tot vorst; historisch-romantische schets uit de geschiedenis van Java (1887-1888), yang lebih dikenal dengan judul Soerapati (1907). Kisah perjuangan Untung Soerapati melawan Belanda dan kisah cintanya yang pelik diterjemahkan dengan gemilang oleh Ferdinand Wiggers dengan judul Dari Boedak sampe Djadi Radja; menoeroet karanganja Melati van Java; tersalin dalem bahasa Melajoe renda 2 Jilid (1898).

Genre kedua dalam karya Marie adalah novel moral klasik. Tetapi kontribusi besar Marie adalah pada genre ketiga, yakni novel Hindia-Belanda. Sebagian besar karya Marie layak dikelompokkan sebagai novel Hindia, karena tidak hanya berlatar di Hindia, tetapi juga menampilkan karakter dan budaya Hindia. Fernand adalah salah satunya.


Marie kerap memunculkan tokoh utama perempuan Indo dengan karakter kuat. De familie van den resident (1875) yang berlatar di Jawa mengisahkan Constance van Elven, anak hasil hubungan di luar nikah antara Frans van Elven dengan seorang perempuan Jawa. Meskipun diperlakukan semena-mena oleh ibu tirinya karena warna kulit, Constance tumbuh menjadi seorang gadis yang berhati mulia. Ia bahkan membantu sang ayah yang terlilit utang lantaran menuruti gaya hidup mewah istrinya. Dalam novel lain, Het Boschmeisje (1903), Marie menceritakan kisah seorang nona Maluku bernama Maria Voornwijck yang kapalnya karam dalam perjalanan, dan membuatnya terdampar di pedalaman hutan Perancis selama bertahun-tahun.

Meskipun penulis perempuan bukan merupakan sesuatu yang lazim—mengingat perpustakaan pun hanya boleh dimasuki laki-laki—tetapi Marie beruntung mendapatkan dukungan keluarga dan komunitas gereja Katholik di Limburg. Marie sendiri menyatakan, “Sungguh ganjil. Seorang perempuan Katolik Roma, seorang gadis, yang menulis, pastilah dianggap mencurigakan di Belanda.” (L.v.d. B: ‘Wat Melati van Java vertelde’ dalam De Tijd, 18 Februari 1922, dikutip Van de Loo).

Betapa pun ganjil kehadirannya di dalam masyarakat, Marie tetap menulis. Ia merupakan perempuan Hindia pertama yang novel-novelnya terjual laris di Belanda. Beberapa novelnya bahkan diterjemahkan dalam bahasa Perancis, Denmark, dan Jerman. Eksistensinya sebagai penulis pun diakui oleh komunitas sastra di Belanda. Pada 1893, Maatschappij der Nederlandse Letterkunde mengundangnya sebagai anggota. Marie adalah satu dari 13 perempuan penulis Belanda yang menjadi anggota pertama organisasi ini, selain sebagai satu-satunya perempuan Indo ("De eerste vrouwelijke leden van de Maatschappij", Nieuw Letterkundig Magazin, Vol. 18, 2000, hlm. 16).

Marie Sloot, atau Melati van Java, lahir di Semarang pada 13 Januari 1853. Meski lebih banyak belajar di rumah bersama ibunya, pada 1865-1866, Marie sempat bersekolah di sekolah khusus perempuan yang didirikan oleh para Suster Ursulin di kawasan Noordwijk, Batavia—kini SMA Santa Ursula, Jakarta. Putri Hindia ini tidak pernah berkesempatan menginjakkan kaki lagi di kampung halamannya. Ia meninggal di Noordwijk yang tidak terletak di Batavia, melainkan di Belanda, 94 tahun lalu pada 13 Juni 1927.

Baca juga artikel terkait HINDIA BELANDA atau tulisan menarik lainnya Uswatul Chabibah
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Uswatul Chabibah
Editor: Windu Jusuf
DarkLight