Mayor Polak: Anggota Partai Sosialis Indonesia Dulunya PNS Kolonial

Penulis: Petrik Matanasi, tirto.id - 30 Des 2021 10:00 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Mayor Polak pernah jadi PNS di era Kolonial dan NICA Belanda. Dia lalu jadi politisi wakil Indo-Eropa dan PSI lalu merekrutnya.
tirto.id - Kala Jepang menyerang dan kemudian menduduki Hindia Belanda pada 1942, hidup Mayor Polak berantakan. Dia bukan tentara, melainkan pegawai sipil kolonial. Nama lengkapnya Johan Bernard Abraham Fortunatus Mayor Polak.

Buku Kami Perkenalkan (1954, hlm. 102) menyebut Polak lahir di Malang pada 4 Nopember 1905. Kariernya sebagai PNS kolonial merentang dari 1929 hingga saat Jepang datang menyerbu Hindia Belanda. Selama itu, dia pernah menjadi aspiran kontrolir di Malang, juga di Bondowoso, dan kemudian di Tuban.

Di Bondowoso, Polak merangkap sebagai anggota Dewan Kabupaten. Dia akhirnya menjadi kontrolir untuk urusan pertanahan di Kalimantan Barat dan kemudian kontrolir urusan sosial-ekonomi desa di Cirebon. dia pernah pula menjadi sekretaris keresidenan Cirebon. Jelang pecahnya Perang Dunia II, Polak dia berdinas di Keresidenan Batavia.

Kariernya tentu saja putus di era Pendudukan Jepang. Selama masa pendudukan, Polak merana jadi tawanan perang Jepang. Sebagai seorang Indo-Belanda, Polak tentu saja jadi sasaran kecurigaan Kempeitai (polisi rahasia Jepang).

Jepang menangkap Polak dan menawannya di Padang. Setelah bebas, dia terlibat dalam gerakan antifasisme Jepang Eenheid door Democratie (EDD) di Cirebon. Orang-orang dalam gerakan antifasisme Jepang biasanya dicap militer Jepang sebagai komunis berbahaya dan lazimnya akan mendapat hukuman berat.

"Setelah Jepang Kalah beliau dan para romusha (Belanda maupun pribumi) dirawat di Singapura," tutur Gde Bayu Adhyasa, cucu Mayor Polak.

Di Singapura, Polak pernah bekerja di Netherlands Bureau for Documentation and Registration of Indonesians. Lalu sekira akhir 1945, Polak kembali ke Indonesia dan bekerja lagi jadi pegawai kolonial. Semula, dia bekerja sebagai kontrolir di Jakarta hingga sekira Maret 1946.

Polak kemudian terlibat di sekitar pendirian Negara Indonesia Timur (NIT) pada akhir 1946. Polak menjadi salah satu anggota parlemen NIT yang berpusat di Makassar. Polak mewakili golongan Indo Eropa. Sejak Januari 1947, Polak ditunjuk jadi asisten residen yang diperbantukan untuk dewan raja-raja Bali yang disebut Paruman Agung.

"Menteri Dalam Negeri NIT, Anak Agung Gde Agung, memperbantukan kami pada pada Raja Bali dengan tugas membentuk daerah otonom Bali secepat mungkin," tulis Polak dalam memoarnya yang tertanggal 1 Februari 1982.

Setelah Konferesi Meja Bundar (KMB) dan pengakuan kedaulatan 27 Desember 1949, NIT bubar. Dari dalam parlemen NIT pun ada anggota macam Arnold Mononutu yang mendukung Republik Indonesia. Ketika NIT melebur dalam Republik Indonesia Serikat (RIS), anggota parlemen NIT masuk pula ke dalam parlemen RIS. Mayor Polak termasuk orang yang ikut didalamnya.

Infografik MILD mayor polak
Infografik MILD mayor polak. (tirto.id/Quita)


RIS lalu bubar pada Agustus 1950 dan Indonesia kembali menjadi negara republik. Di masa ini, Mayor Polak memilih tetap tinggal di Indonesia dan bahkan jadi warga negara. Dia kemudian turut menjadi anggota DPR RI mewakili warga Indo-Eropa.

Sejak 1952, dia menjadi penganut Hindu dan punya nama Bali Nyoman Sukarma.

Mayor Polak kemudian direkrut ke dalam Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang dipimpin mantan Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Mayor Polak tentu punya kecocokan dengan PSI. Selain terpelajar, Mayor Polak punya kecenderungan politik dan antifasisme yang sama dengan PSI.

Jauh sebelum tentara Jepang mendarat di Indonesia, Mayor Polak rupanya pernah menjadi anggota Indische Sociaal Democratische Partij (ISDP) dan Sociaal-Democratische Arbeiderspartij (SDAP). Keduanya menampung golongan sosial demokrat seperti Polak.

Namun, usia PSI sayangnya tidaklah panjang. PSI kemudian terseret dalam masalah pemberontakan PRRI-Permesta dan kemudian dilikuidasi pemerintah.

Di luar ranah politik, Mayor Polak juga dikenang namanya dalam kajian sosiologi di Indonesia. Mayor Polak merilis beberapa buku sosiologi, di antaranya Sosiologi: Suatu Pengantar Ringkas (1960), Pengantar Sosiologi Industri dan Perusahaan (1966), dan Pengantar Sosiologi Pengetahuan, Hukum, dan Politik (1967). Nama Mayor Polak juga muncul dalam buku pelajaran Sosiologi di SMA. Namanya kerap muncul pula dalam beberapa daftar pustaka buku-buku sosiologi di Indonesia.

Mayor Polak juga terlibat dalam pendirian Perguruan Tinggi Ekonomi Malang (PTEM) pada 27 Juni 1957. PTEM adalah embrio dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya. Kala itu, Mayor Polak memimpin PTEM sambil bekerja pula di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Airlangga.


==========

Artikel ini telah dikoreksi berdasarkan keterangan dan tambahan sumber dari anak dan cucu Mayor Polak, yaitu Made Dharsana Polak dan Gde Bayu Adhyasa Mayor Polak.

Baca juga artikel terkait NICA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Fadrik Aziz Firdausi

DarkLight