Max Sopacua, Politikus Demokrat yang Dulunya Penyiar Olahraga TVRI

Oleh: Petrik Matanasi - 19 Juni 2019
Dibaca Normal 2 menit
Max Sopacua dulu dikenal sebagai pembaca berita olahraga TVRI. Kini, sebagai politikus Demokrat, dia tengah bermanuver terkait suksesi di partainya.
tirto.id - Bagi generasi yang hidup dan tumbuh besar di era 1980 dan 1990-an, wajah Max Sopacua barangkali tidak asing. Wajahnya hampir saban hari muncul di layar TVRI. Dari mulutnya keluar berita-berita olahraga. Pada zaman Orde Baru kabar-kabar dari dunia olahraga adalah pelipur tersendiri di tengah berita-berita politik nasional yang menjemukan dan itu-itu saja. Max tampil elegan dan tenang dalam membaca berita olahraga, dengan suara bariton yang khas dan penuh wibawa.

Di mata kebanyakan orang Indonesia, mereka yang berasal Indonesia bagian timur seperti Max dianggap sebagai orang-orang bertubuh kuat. Max Sopacua mungkin dibayangkan sebagai sosok manusia sehat yang suka berolahraga. Memang, di zaman itu, penguasa menghendaki manusia Indonesia bertubuh tidak gampang memble dan bermental tak selunak tempe. Di luar doktrin Pancasila dan P4, anak-anak sekolah pun hafal di luar kepala jargon ala Orde Baru: "di balik tubuh yang sehat, tersimpan jiwa yang kuat."

Max malang-melintang sebagai penyiar berita olahraga TVRI. Selain penyiar, dia pernah jadi produser juga—pencapaian karier yang baik di bidang pertelevisian, meski tidak sampai jadi direktur. Seperti dicatat dalam buku Wajah DPR dan DPD, 2009-2014 (2010), Max menjadi produser di TVRI sejak 1985 hingga 2002. Dia pernah memproduseri beberapa program olahraga internasional seperti Olimpiade Atlanta (1996), Piala Dunia Perancis (1998), Sea Games Bangkok (1999), dan Olimpiade Sidney (2000).

Sebagai orang yang berkecimpung di dunia olahraga, selain membaca berita, dari 1990 hingga 2001 dia aktif pula di Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Di organisasi ini mantan Kepala Staf Angkatan Darat yang juga salah satu kerabat Tien Soeharto, Jenderal Wismoyo Arismunandar, pernah jadi ketuanya.

Di masa Orde Baru, sebagai karyawan TVRI, Max tentu hanya diperbolehkan mencoblos Golongan Karya (Karya). Jika ada nyali untuk tidak loyal kepada Presiden Soeharto, Max bisa saja mencoblos Partai Demokrasi Indonesia (PDI) atau Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Setelah Soeharto lengser, Max tidak hanya menjadi saksi perubahan politik, tapi juga ikut terlibat di dalamnya.


Banting Setir ke Dunia Politik

Max kemudian tak terlihat membaca berita lagi di TVRI di setelah Soeharto lengser. Tapi sebagai bekas penyiar, Max adalah anggota Asia Pasific Broadcasting Union (APBU). Di dunia sosial-politik Max rupanya tidak ingin hanya jadi penonton, tapi juga terlibat langsung. Dia pernah jadi Sekretaris Jenderal Forum Rekonsiliasi & Rehabilitasi Maluku. Puncaknya ketika Max ikut partai baru—yang berdiri pada 9 September 2001—bernama Partai Demokrat. Kehadiran Susilo Bambang Yudhoyono mendongkrak popularitas partai ini.

“Ibarat koran, oplah kami [Partai Demokrat] naik drastis,” kata Max Sopacua seperti dicatat Garda Maeswara dalam Biografi Politik Susilo Bambang Yudhoyono (2009: 72).

Dalam Pilpres 2004, Demokrat berjaya. Begitu juga SBY yang terpilih langsung sebagai Presiden RI. SBY adalah Presiden yang pertama kali terpilih secara langsung pada Pilpres 2004 itu.

Max juga ikut berjaya. Dia terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dengan daerah pemilihan Jabar V Bogor. Tak hanya di tahun 2004, pada 2009 Max terpilih lagi sebagai anggota DPRI. Di Partai Demokrat, Max juga sempat jadi orang penting. Dia pernah menjadi Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat dari 2002 hingga 2005. Dari 2005 hingga 2010, pernah pula dia menjadi Ketua Bidang Pendidikan, Penduduk, Kominfo DPP Partai Demokrat.

Setelah SBY jadi presiden, pengaruh bekas Kassospol ABRI itu semakin menguat di Partai Demokrat. Partai ini, yang pernah diketuai Kolonel Purnawirawan Hadi Utomo (2005-2010) dan sempat dipimpin Anas Urbaningrum (2010-2013), pada 2013 diketuai oleh Presiden SBY. Beberapa orang penting di Partai Demokrat punya hubungan kekerabatan dengan SBY. Hadi Utomo, seperti SBY, merupakan salah satu menantu dari Letnan Jenderal (purnawirawan) Sarwo Edhie Wibowo. Tokoh penting lainnya tentu saja Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas, anak SBY, yang kini Ketua Fraksi Demokrat. Adik ipar SBY, Pramono Edhie Wibowo, juga aktif di partai berlambang bintang Mercy itu.

Sementara itu Max Sopacua, yang kini tentu makin sepuh dan tak memiliki hubungan kekerabatan dengan SBY, menjadi anggota Majelis Tinggi Partai.


Infografik Max Sopacua
Infografik Max Sopacua. tirto.id/Sabit

Ingin Mendongkel SBY?

Setelah pasangan capres-cawapres yang diusungnya, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, keok di Pilpres 2019, Partai Demokrat kini sedang dilanda masalah. Max Sopacua adalah salah satu orang penting yang namanya kerap disebut. Dia menjadi inisiator Gerakan Moral Penyelamatan Partai Demokrat (GMPPD).

Max orang yang vokal mengusulkan agar Ketua Umum DPP Partai Demokrat diganti. Dia mengajukan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang tak lain putra sulung SBY, sebagai pengganti. Meski Demokrat tidak dalam kondisi berjaya, sejak Pilgub DKI Jakarta 2017 bintang AHY perlahan bersinar. Menurut Max, AHY bisa menggantikan SBY dalam Kongres Luar Biasa (KLB) nanti.

"KLB kita tidak susah-susah, Pak SBY tinggal minta AHY untuk memimpin partai ini," kata Max di Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (13/6/2019).

Meski begitu, Andi Arief, pesohor Demokrat yang menjabat Wakil Sekretaris Jenderal partai, menuding Max Sopacua menginginkan Sandiaga Uno, yang baru saja gagal dalam Pilpres 2019, untuk menjadi Ketua Umum DPP Partai Demokrat.

Selama ini peran SBY sangat dominan. Karisma SBY nyatanya tidak membuat Partai Demokrat berjaya dalam Pemilihan Legislatif (Pileg). Partai Demokrat, yang dicap sebagai "partainya SBY", lama-lama menjadi partai keluarga. Menurut pengajar komunikasi politik Universitas Airlangga Suko Widodo, seperti dikatakannya kepada reporter Tirto, Sabtu (15/6/2019), "selama ini, kan, bintang utamanya PD hanya Pak SBY. Karena sentralistik itu."

Dalam pergulatan demokrasi modern, cap Demokrat sebagai partai keluarga tentu akan menjadi beban tersendiri.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan