Tarikh

Masa Muda & Pembentukan Jati Diri Muhammad di Bawah Asuhan Pamannya

Oleh: Ivan Aulia Ahsan - 2 Mei 2020
Dibaca Normal 2 menit
Muhammad kecil dipelihara sang kakek, kala dewasa diasuh pamannya. Masa mudanya dipenuhi kegelisahan spiritual.
tirto.id - Nabi Muhammad sudah menjadi yatim piatu sejak umur 6. Masa balitanya dipenuhi dengan kehilangan orang-orang terkasih.

Setelah ibunya meninggal, Nabi Muhammad diasuh kakek dari garis bapak yaitu Abdul Mutalib. Sejak lahir, Muhammad kecil tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Sang ayah meninggal kala Muhammad masih berada dalam kandungan. Barangkali bagi Muhammad kecil, orang yang tampak sebagai ayahnya adalah Abdul Mutalib.

Sang kakek menyayangi Muhammad dengan sepenuh hati. Riwayat-riwayat menyebutkan betapa kasih sayang Abdul Mutalib tercurah kepada cucunya yang yatim piatu itu. Ia kerap membawa Muhammad kecil ke Kakbah dan meninabobokannya di sana.

“Sudah menjadi kebiasaan Abdul Muttalib … meletakkan permadani sebagai tempat duduknya di bawah naungan Ka’bah. Sementara anak-anaknya duduk di sekeliling hamparan itu … jika Muhammad datang, beliau mendudukkan Muhammad di sisinya di atas permadani seraya mengelus-elus punggung cucunya itu, catat Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad (2015: 129).

Sebagai orang yang zuriahnya dipercaya untuk menjaga Kakbah, Abdul Mutalib mungkin berharap sang cucu akan melanjutkan posisi terhormat itu. Harapan yang kelak terkabul, bahkan melebihi ekspektasi. Muhammad nantinya bukan hanya menjadi penjaga Kakbah.

Putra Abdul Mutalib bernama Hamzah, yang berbeda ibu dengan ayah Muhammad, berumur kira-kira sepantaran dengan Muhammad. Bersama Hamzah lah Muhammad banyak menghabiskan masa kecilnya. Kelak Hamzah pula yang berperan sebagai pelindung utama Muhammad ketika keponakannya itu menjadi nabi.

Tapi limpahan kasih sayang Abdul Mutalib hanya dirasakan sekejap oleh Muhammad. Ia barangkali tak sempat mendengar cerita lengkap sang kakek tentang sosok bapaknya yang tak pernah ia lihat. Muhammad kecil juga baru mendapat sedikit kisah soal kehebatan nenek moyangnya dalam mempertahankan Makkah.

Abdul Mutalib meninggal saat Muhammad berumur 8. Ini berarti Muhammad hanya merasakan pengasuhan kakeknya selama dua tahun—jangka waktu yang amat sebentar, tapi sangat bermakna.

Dalam Asuhan Abu Talib

Abu Talib adalah orang yang merawat Muhammad setelah Abdul Mutalib meninggal. Kini Abu Talib harus menghadapi kenyataan bahwa klannya, Bani Hasyim, sudah tidak sekuat dulu ketika Abdul Mutalib masih hidup.

Bani Hasyim memang tidak terlalu kaya. Posisi strategisnya di Makkah adalah lantaran mereka berperan sebagai penjaga Kakbah. Karena itulah orang-orang menghormati klan ini. Tapi kematian Abdul Mutalib seperti melenyapkan separuh kewibawaan Bani Hasyim.

Anak-anak Abdul Mutalib memang ada yang menjadi saudagar sukses dan cukup kaya, namun mereka umumnya kikir serta tidak meneruskan wibawa ayah mereka. Anak tertua yang paling peduli dengan eksistensi baninya hanya Abu Talib dan ia bukan orang tajir.

Di bawah asuhan Abu Talib yang penuh perhatian, Muhammad tumbuh menjadi orang dewasa. Muhammad memang tidak merasakan gelimang kekayaan pamannya, tapi ia mendapat kehangatan seorang bapak banyak belajar sikap teguh dari Abu Talib. Fase-fase penting pada masa remaja Muhammad juga berada dalam pantauan sang paman.

Seturut penuturan sumber-sumber tradisional Islam, sosok Muhammad remaja digambarkan sebagai pemuda yang banyak disukai orang-orang Makkah. Deskripsi Karen Armstrong dalam Muhammad: Prophet for Our Time (2007), yang diambil dari sumber-sumber tersebut, menyatakan seperti ini:

“Muhammad muda dicintai seluruh Makkah. Ia tampan, dengan tubuh kekar dan tinggi rata-rata. Rambut dan jenggotnya tebal lagi ikal, dan memiliki ekspresi bercahaya yang mencolok beserta senyum yang hangat” (hlm. 37).

Dari Abu Talib pula Muhammad mungkin belajar banyak tentang dimensi-dimensi ketuhanan dan kebatinan. Ini tidak mengherankan karena Abu Talib, meski hidup di tengah-tengah kaum pagan dan tidak secara langsung menolak berhala, adalah pelaku spiritualitas.

Para penyembah berhala boleh saja ada di seluruh penjuru Makkah, namun di antara mereka terdapat orang-orang yang merenungi lagi monoteisme ala Ibrahim. Mereka sudah lama gelisah.

Pembentukan jati diri Muhammad dipenuhi kegelisahan serupa. Ia terus mencari makna di balik fenomena-fenomena, sebagaimana lazimnya anak-anak muda. Perbedaannya, Muhammad adalah seorang perenung yang serius.

Kepada Abu Talib lah Muhammad kadang-kadang berbagi kegelisahannya itu. Sang paman tentu saja membimbingnya dengan saksama.

==========

Pada Ramadan tahun ini redaksi menampilkan sajian khusus bernama "Tarikh" yang ditayangkan setiap menjelang sahur. Rubrik ini mengambil tema besar tentang sosok Nabi Muhammad sebagai manusia historis dalam gejolak sejarah dunia. Selama sebulan penuh, seluruh artikel ditulis oleh Ivan Aulia Ahsan (Redaktur Utama Tirto.id dan pengajar di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Jakarta).

Baca juga artikel terkait TARIKH atau tulisan menarik lainnya Ivan Aulia Ahsan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Ivan Aulia Ahsan
Editor: Irfan Teguh
DarkLight