Menuju konten utama

Masa Liburan Bikin COVID-19 Kian Naik, Menkes Tambah RS dan Bed

Kemenkes melakukan sejumlah antisipasi terkait prediksi kenaikan kasus COVID-19 setelah masa libur panjang Natal dan Tahun Baru 2021.

Masa Liburan Bikin COVID-19 Kian Naik, Menkes Tambah RS dan Bed
Calon penumpang melakukan rapid tes antigen di Stasiun Gambir, Jakarta, Rabu (23/12/2020). tirto.id/Andrey Gromico.

tirto.id - Kementerian Kesehatan melakukan serangkaian antisipasi dalam menyikapi kenaikan kasus COVID-19 setelah masa libur panjang.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memprediksi akan terjadi kenaikan kasus 20-40 persen setelah libur panjang.

"Jadi saya ingin memastikan tempat tidur siap, ICU siap, tenaga kesehatan siap, APD siap dan obat-obatannya juga siap," ujarnya dalam konferensi pers di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jumat (25/12/2020).

Budi juga akan menambah tempat tidur khusus COVID-19 di rumah sakit non-RSUD, mengoptimalkan tempat tidur RSUD dan RS swasta, penambahan RS rujukan baru, penambahan 740 tempat tidur baru untuk di ruang ICU dan isolasi di RS vertikal Kemenkes, serta penataan kembali sistem rujukan yankes COVID-19.

Termasuk penguatan implementasi protokol tata laksana COVID-19 di fasyankes sebagai bagian antisipasi kenaikan kasus. Kemenkes juga akan mengubah ruang perawatan umum menjadi ruang perawatan COVID-19 dan akan ditopang oleh tenda darurat di RS dan mendirikan RS darurat di daerah.

Kemenkes mengklaim sudah menyiapkan anggaran pengadaan obat, alat kesehatan dan APD untuk RS. Sejauh ini, menurut mereka, sudah disalurkan obat-obatan ke 34 dinas kesehatan provinsi dan 825 RS. Dalam stok yang Budi klaim "masih cukup untuk kebutuhan 3 bulan ke depan."

Dalam tiga hari terakhir terjadi kenaikan kasus baru: pada 23 Desember 7.514 kasus baru, pada 24 Desember sebanyak 7.199 dan 25 Desember sebanyak 7.259 kasus.

Inisiator Pandemictalks Firdza Radiany menilai lonjakan kasus baru disebabkan pemerintah tidak mampu menekan mobilitas masyarakat hingga 80 persen. Serta tes harian yang tidak sesuai standar WHO.

"Test people per day Indonesia medioker. Rerata 2 pekan terakhir 33 ribu dari 38.500 standar WHO," ujarnya kepada Tirto, Sabtu (26/12/2020).

Upaya penelusuran kasus positif (tracing) buruk, menurut Firdza, 1 pasien positif COVID-19 hanya dilakukan penelusuran terhadap 1-2 orang. Padahal standar WHO mengharuskan 30 orang.

Menurutnya, pemerintah harus lebih gencar lagi melakukan 3T (testing, tracing, treatment), mengoptimalkan kampanye 3M, menekan mobilitas, dan tidak hanya menambah tempat tidur di RS.

"Yang penting apakah jumlah dokter dan nakes siap? Jangan hanya menambah bed dan ruang. Tapi nakes kelelahan," ujarnya.

Baca juga artikel terkait PANDEMI COVID-19 atau tulisan lainnya dari Alfian Putra Abdi

tirto.id - Kesehatan
Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Maya Saputri