Mas Pardi: Bapak Ilmu Pelayaran Indonesia yang Terlupakan

Oleh: Petrik Matanasi - 5 Desember 2021
Dibaca Normal 3 menit
Mas Pardi adalah "KSAL" Pertama yang menjabat hanya beberapa bulan. Dia lebih sohor dianggap sebagai Bapak Ilmu Pelayaran Indonesia.
tirto.id - Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat punya tokoh sebesar Panglima Besar Jenderal Sudirman. Setelah Sudirman, orang akan ingat Jenderal Gatot Subroto dan—yang agak dilupakan—Oerip Soemohardjo yang membentuk organisi militer Tentara Kemanan Rakyat (TKR).

Di Angkatan Udara, orang yang disebut sebagai Bapak Angkatan Udara adalah Suryadi Suryadarma. Dia adalah kepala staf Angkatan Udara (KSAU) pertama. Sementara itu, Kepolisian punya Soekanto Tjokrodiatmodjo yang merupakan kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) pertama.

Di banding angkatan lain, agak sulit mencari Bapak Angkatan Laut Indonesia. Pasalnya, Kepala Staf Angkatan Laut pertama Indonesia Mas Pardi (1 Oktober 1901-13 Agustus 1968) sudah diberi gelar lain: Bapak Ilmu Pelayaran Indonesia.

Laksamana Pertama Mas Pardi pernah menjabat kepala staf umum di Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Laut. Jabatan tertinggi di TKR Laut itu dipegangnya dari November 1945 hingga Februari 1946. Setelah itu, Mas Pardi sebenarnya tetap menjadi kepala staf umum. Tapi, jabatan itu dalam perkembangan selanjutnya bukan lagi yang teratas di struktur organisasi ALRI.

Jabatan tertinggi di ALRI yang baru adalah panglima. Posisi nomor satu itu kemudian dijabat oleh Laksamana Pertama Mohammad Nazir Isa gelar Datuk Basa Nan Balimo (1910-1982). Seperti halnya Mas Pardi, Nazir juga mantan pelaut di zaman Belanda.

Laksamana Nazir menjadi panglima ALRI hingga 1948. Meski begitu, Mas Pardi tetap dianggap sebagai peletak sendi-sendi ALRI. Tak hanya itu, nama dan kiprah Mas Pardi justru lebih diingat dalam bidang pelayaran sipil.

Kepeloporan Mas Pardi di bidang pelayaran barangkali bisa disandingkan dengan Amanna Gappa. Menurut Christian Pelras dalam buku legendarisnya Manusia Bugis (2006, hlm. 316), Amanna Gappa adalah kepala komunitas Wajo di Makassar antara 1697 hingga 1723. Dia dikenal sebagai ahli pelayaran yang menyusun kitab pelayaran niaga.

Kitab itu memuat banyak hal soal pelayaran. Mulai dari kode etik pelayaran, aturan niaga, hierarki dalam kapal, sampai soal tarif muatan antar pulau-pulau di Nusantara. Selain itu, ada pula pertelaan tentang tugas juru mudi dan juru batu, syarat menjadi kapten kapal, pembagian keuntungan di antara awak dan kapten, bahkan terkait utang-piutang.

Mas Pardi bisa juga disandingkan dengan Mpu Nala, si laksamana laut Majapahit dalam kisah penaklukan Nusantara. Atau juga Laksamana Malahayati, yang sohor dalam sejarah Aceh.

Kepeloporan Mas Pardi terutama terkait dengan pengembangan pendidikan pelaut Indonesia era modern. Itu tidak berlebihan karena Mas Pardi adalah pendiri Sekolah Pelayaran Semarang dan Akademi Ilmu Pelayaran Jakarta. Lain itu, dia juga punya andil dalam pendirian Akademi Angkatan Laut Indonesia.

Mas Pardi juga turut menyusun sejumlah buku tentang pelayaran, di antaranya Kuasailah Lautan Indonesia (1951), Peladjaran Ilmu Pasang (1963), dan Almanak Nautika (1965).

Menurut catatan J.P. Nieborg dalam Indië en de Zee: De Opleiding tot Zeeman in Nederlands-Indië 1743-1962 (1989, hlm. 62), Pardi sudah jadi perwira kapal di Armada Laut Hindia Belanda pada 1922.

Menurut catatan Des Alwi dalam Sejarah Maluku: Banda Naira, Ternate, Tidore, dan Ambon (2005, hlm. 201), ada seorang stuurman kelas satu alias mualim kelas satu bernama Mas Pardi di kapal Belanda Formalhout. Kapal itu biasa melayari laut Indonesia bagian timur, termasuk ke Papua. Formalhout itu adalah kapal yang dipakai untuk membawa Sutan Sjahrir dan Mohammad Hatta dari pengasingannya di Papua (Boven Digul) ke Banda Neira.

Namun, belum bisa dipastikan apakah Mas Pardi yang dimaksud Des Alwi itu adalah pimpinan pertama TKR Laut atau orang lain.

Usianya lebih tua daripada nakhoda kapal Formalhout,” tulis Des Alwi. Di zaman itu, masih sedikit peluang bagi bumiputra untuk mencapai jabatan-jabatan tinggi di kemaritiman Hindia Belanda. Menurut Des Alwi, “Karena M. Pardi seorang inlander, maka ia tidak memiliki peluang untuk menjadi nakhoda kapal tersebut.”

Infografik Mas Pardi 1901-1968
Infografik Mas Pardi 1901-1968. tirto.id/Sabit


Ketika Formalhout mendarat dan bongkar muat di pelabuhan Banda Neira, terdengar perintah kapten kapal kepada anak buahnya untuk mengangkut barang-barang Sjahrir dan Hatta.

Namun, Kontrolir Banda Neira tiba-tiba menyela, “Apa? Biarlah orang-orang Merah itu mengangkat barang mereka!”

Mualim Kelas Satu Mas Pardi sebagai orang kapal lalu ikut bicara. “Biarlah saya akan perintahkan pada matros saya untuk mengangkat barang-barang itu,” katanya seperti ditulis Solichin Salam dalam Sjahrir: Wajah Seorang Diplomat (1990, hlm. 36).

Pada 1936, menurut De Indische Courant (18/05/1936), Mas Pardi sempat berdinas di kapal S. Eeridanus milik pemerintah kolonial. Dia dapat posisi sebagai mualim kelas satu dibawah Nakhoda C. de Neef.

Menurut catatan Ensiklopedia Umum (1993, hlm. 940) rilisan lembaga Kanisius, Mas Pardi adalah “satu-satunya anak bumiputra yang memperoleh kesempatan naik agak tinggi pada tangga kepegawaian bidang maritim.” Dia dikabarkan telah berdinas Hooftkantoor Dienst van Scheepvaart (Kantor Pusat Dinas Perkapalan) pada 1941.

Kiprah Mas Pardi pada masa Pendudukan Jepang tidak diketahui. Setelah Indonesia merdeka, Mas Pardi termasuk salah satu bekas pelaut kolonial yang berdiri di belakang Republik Indonesia.

Bersama mantan pelaut kolonial lain yang pernah berdinas di Koninklijk Marine (Angkatan Laut Belanda) dan pelaut didikan Jepang, dia ikut mendirikan cikal-bakal organisasi Angkatan Laut, yaitu Badan Keamanan Rakyat (BKR) Laut.

"Organisasi militer ini berdiri dengan disahkan oleh Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) pada 10 September 1945, dengan pimpinan Mas Pardi,” tulis Masfar R. dkk. dalam Sejarah Pendidikan Perwira TNI Angkatan Laut 1945-1950 (1982).

Karenanya, tanggal 10 September kemudian ditetapkan sebagai hari kelahiran Angkatan Laut. Mas Pardi yang merupakan penerima Bintang Gerilya dan Piagam Tanda Jasa Pahlawan ini meninggal pada 13 Agustus 1968. Dia lalu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal, Semarang.

Baca juga artikel terkait KSAL atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight