Marsekal Leo Wattimena: Pak Macan Penerbang Angkatan Udara

Oleh: Petrik Matanasi - 10 November 2021
Dibaca Normal 3 menit
Leo Wattimena dikenal sebagai penerbang tempur jempolan di era 1950-an. Bersama dua koleganya sama-sama ditunjuk jadi duta besar.
tirto.id - Setelah pecahnya G30S 1965, Angkatan Udara RI dilanda kisruh. Institusi itu jadi sorotan karena diduga terlibat dalam tragedi berdarah itu. Menteri/Panglima AURI (Menpangau) Marsekal Madya Omar Dhani juga tak lepas dari tuduhan itu.

Meski tak terdapat bukti kuat yang menunjukkan keterlibatan AURI sebagai lembaga, citranya terlanjur remuk. Pada November 1965, Omar Dhani dicopot dan digantikan oleh Marsekal Madya Sri Mulyono Herlambang. Namun, empat bulan kemudian, Sri Mulyono mengundurkan diri.

Menurut sejarawan Humaidi dalam tesisnya yang berjudul Politik Militer Angkatan Udara Republik Indonesia dalam Pemerintahan Sukarno 1962-1967 (2008), lengsernya Menpangau Omar Dhani dan Sri Mulyono itu tidak lepas dari kedekatan mereka dengan Sukarno.

Pada Maret 1966, Sukarno meneken Supersemar yang kemudian dimanfaatkan Soeharto untuk kepentingan politiknya sendiri. Bersamaan dengan itu, Soeharto juga memulai pembersihan terhadap elite-elite politik yang dekat dengan Sukarno. Angkatan Udara tentu saja termasuk dalam rencana pembersihan ala Soeharto itu. Karenanya, Menpangau selanjutnya jelaslah harus dari kalangan oposan Sukarno.

“Roesmin dikenal sebagai antagonis Omar Dhani,” tulis Boediardjo dalam Siapa Sudi Saya Dongengi (1996, hlm. 138).

Roesmin yang dimaksud tentu saja Komodor Roesmin Noerjadin. Sekitar 1965, Roesmin menjadi atase udara di Moskow. Salim Said dalam Gestapu 65: PKI, Aidit, Sukarno, dan Soeharto (2015, hlm. 159) menyebut Roesmin pernah bilang, “Angkatan Udara itu angkatan teknis, berbeda dengan Angkatan Darat.”

Kalimat itu dapat ditengarai sebagai sindiran terhadap Omar Dhani yang memang lebih aktif berpolitik di lingkaran Sukarno. Agaknya, karena itulah Soeharto kemudian memilihnya. Paling tidak, Roesmin bisa diandalkan untuk melawan pengikut Sukarno di Angkatan Udara.


Selain Komodor Roesmin, ada pula Komodor Suyitno Sukirno dan Komodor Leo Wattimena. Dalam buku Tuhan, Pergunakanlah hati, Pikiran, dan Tanganku (2001, hlm. 132) yang disusun J.M.V. Soeparno dan Benedicta Soerodjo, ketiganya disebut telah melakukan “kudeta” terhadap Sri Mulyono.

Suyitno disebut sebagai orang yang menghubungi Angkatan Darat untuk minta bantuan panser. Orde Baru daripada Soeharto lalu mengangkat Roesmin menjadi Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU). Tentu saja Suyitno dan Leo juga naik jabatan.

Di era Omar Dhani, Leo adalah Panglima Komando Operasi AURI. Setelah naiknya Roesmin, Leo ditunjuk menjadi Panglima Komando Pertahanan Udara.

Leonardus Willem Johanes Wattimena termasuk orang yang menghubungi Soeharto segera setelah G30S 1965 pecah. Leo bahkan mendatangi Soeharto pada siang 1 Oktober 1965 di markas Kostrad. Sebelum bertemu Soeharto, Leo merasa belum paham situasi terkait penculikan para jenderal staf umum Angkatan Darat itu.

“Saya menghadap Pak Harto, ingin mendapatkan penjelasan yang sebenarnya,” aku Leo seperti dicerikan Soeharto dalam autobiografi Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1991, hlm. 123).

Saat itu, Leo dan Soeharto bukanlah orang yang baru kenal. Sekira 1962, mereka sudah pernah bekerja bersama. Leo merupakan salah satu wakil panglima dalam Komando Mandala Pembebasan Irian Barat yang dipimpin Soeharto.

Saat Soeharto bercerita ke Leo bahwa pusat G30S berada di dekat Pangkalan Udara Halim Perdanakusumah dan Presiden Sukarno ada di sana, Leo mengaku tidak tahu soal itu. Leo juga termasuk orang yang tidak tahu dan tidak yakin soal adanya Dewan Jenderal. Karenanya, dia kemudian jadi salah satu perwira yang membantu Soeharto melawan G30S.

Kala Omar Dhani diadili dalam Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub), Leo menjadi salah satu saksinya. Seperti diberitakan Angkatan Bersendjata (08/12/1966) dan dimuat dalam Presiden RI ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita 1965-1967 (2008, hlm. 412-413), Leo menilai bahwa Omar Dhani adalah orang yang berpikir dan bertindak nonmiliter. Leo menerangkan bahwa sehari sebelum G30S, Omar Dhani mengadakan rapat di rumahnya di Kebayoran Baru dan di Gedung Penas.

Dia juga menyebut Omar Dhani memberikan arahan terkait penggunanaan senjata dan kendaraan AURI untuk membantu Brigadir Jenderal Supardjo dari Angkatan Darat yang juga terlibat G30S.

Perjalanan Karier Leo Wattimena

Leo Wattimena lahir di Singkawang pada 3 Juli 1927. Hein Leonardus Wattimena, ayahnya, adalah pegawai kolonial dari Maluku, sementara sang ibu Maria Lingkan Kawengian berasal dari Minahasa.

Leo lulus dari SMA bagian B kala Revolusi tengah berkecamuk di Indonesia. Antara 1945-1949, dia lalu bekerja di jawatan kereta api dan kemudian perusahaan perkapalan NISO di daerah yang diduduki Belanda.

Di Angkatan Udara, Leo tergabung dalam korps penerbang. Dia masuk Angkatan Udara pada 1950. Seperti Omar Dhani dan Roesmin, dia juga lulusan Trans Ocean Airlines Oakland Airport (TALOA) California, Amerika, pada awal 1950-an.

Dalam ranah penerbangan militer, prestasi dan reputasi Leo tergolong mentereng. Leo—juga Roesmin—adalah orang Indonesia pertama yang menjadi pilot jet tempur. Tak hanya itu, Leo juga mumpuni dalam melakukan akrobat udara. Maka tak heran dia jadi pilot tempur terkenal di era 1950-an.

Beberapa media pernah mengabarkan kehebatan Leo di udara. Majalah Tempo (01/05/1976), misalnya, menyebut Leo menerbangkan Mustang dengan ketinggian sangat rendah dalam sebuah operasi penumpasan PRRI-Permesta di Sumatra. Dia bahkan berani menerobos kolong jembatan Ampera di Palembang.

Meski begitu, Leo tidak serta merta jadi pilot pesawat tempur. Angkasa (Agustus 1967) menyebut Leo semula ditempatkan di skuadron pesawat angkut setelah pulang dari TALOA. Namun, dia kemudian mengajukan diri masuk ke skuadron pesawat pemburu.

Infografik Leonardus Willem Johannes Wattimena
Infografik Leonardus Willem Johannes Wattimena. tirto.id/Fuad


Sejak bergabung dengan Angkatan Udara hingga jadi perwira, Leo prajurit yang andal. Dia hanya butuh waktu 13 tahun untuk sampai pada jabatan yang tergolong penting di Angkatan Udara, yaitu Panglima Komando Operasi Angkatan Udara.

Leo juga populer di luar Angkatan Udara. Leo termasuk salah satu pemegang Bintang Sakti, seperti juga Letnan Kolonel Untung dan Mayor Benny Moerdani. Setelah Omar Dhani jatuh dari posisi Menpangau, Leo sebetulnya bisa menjadi kandidat penggantinya.

Dibanding Roesmin yang kemudian jadi KSAU, Leo lebih tua tiga tahun. Namun, dia bukanlah tentara angkatan 45. Di lingkungan yang didominasi oleh perwira angkatan 45, Leo jelas kalah modal. Satu lagi yang agaknya jadi ganjalan untuknya adalah sejarahnya pernah bekerja di perusahaan Belanda.

Tapi, kala Roesmin diangkat jadi KSAU pun Leo tidak mepermasalahkannya dan tetap loyal padanya.


Setelah Roesmin Nurjadin turun dari kursi KSAU dan ditunjuk jadi besar, Leo ikut ditunjuk jadi duta besar dan begitu pula Suyitno. Roesmin dikirim ke Inggris, Suyitno ke Australia, dan Leo ke Italia.

Leo dikenal sebagai lelaki yang berani dan keras hati. Karenanya, anak buah Leo di Angkatan Udara menjulukinya Pak Macan. Kala jadi duta besar, sebut Tempo, Leo menaruh awetan kepala macan di meja kerjanya. Karir Leo sebagai duta besar tidak berlangsung lama karena keburu wafat pada 18 April 1976.

Baca juga artikel terkait ANGKATAN UDARA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight