16 September 1977

Maria Callas: Pesona dan Tragedi Sang Kitab Suci Opera

Ilustrasi Mozaik Maria Callas. tirto.id/Nauval
Oleh: Ign. L. Adhi Bhaskara - 16 September 2020
Dibaca Normal 3 menit
Maria Callas adalah diva pertunjukan opera pada abad ke-20. Hidupnya dipenuhi ketenaran dan kemewahan yang berujung pada tragedi.
Jika kata "magis" disebut dalam dunia opera, satu nama akan mencuat dan seolah menjadi absolut: Maria Callas. Para penikmat dan kritikus musik di dunia pertunjukan opera menyebutnya Sang Diva.

Callas adalah penyanyi opera paling berpengaruh di abad ke-20. Anthony Tommasini, kritikus kepala di New York Times, menyebut rekaman Callas ketika bernyanyi sebagai Tosca--karya opera tiga babak ternama yang mengambil judul dari tokoh wanita utamanya--sebagai album opera terbaik sepanjang masa.

Salah satu momen tak terlupakan dari banyak momen yang sangat menakjubkan di rekaman tersebut, tulis Tommasini, dapat ditemukan pada adegan pembuka opera tersebut. Tosca bertanya-tanya mengapa pintu gereja tempat kekasih hatinya Mario melukis mural terkunci, dan mengapa Mario terdengar tengah berbisik dengan orang lain.

Banyak artis opera berusaha menyanyikan kata-kata pembuka Tosca dengan nada seolah curiga karena cemburu. Callas memberikan lebih dari itu. Nada suaranya menyerukan kepanikan, hampir mendekati putus asa ketika ia menyerukan nama “Mario!” Membuat Tosca tampak rapuh dalam kebutuhannya pada Mario.

“Sulit membayangkan rekaman opera mana pun yang mampu menghasilkan karya yang begitu memukau, yang tampaknya seolah begitu mutlak,” tulis Tommasini.

Tenar dan Tragedi

Arianna Huffington dalam bukunya Maria Callas: The Woman Behind The Legend menyebutkan, hidup Maria Callas adalah tragedi dan dongeng pada saat yang bersamaan. Ia merupakan contoh nyata transformasi dari seorang anak perempuan yang canggung dan gemuk dari keluarga miskin, menjadi seorang musisi yang cantik dan memikat.

Callas lahir pada 2 Desember 1923 di New York, Amerika Serikat. Mengutip situs Maria Callas besutan Warner Classics, nama lahirnya adalah Maria Kalogeropoulou. Kedua orang tuanya adalah orang Yunani yang bermigrasi ke AS.

Pada usia 13 tahun, orang tua Callas bercerai. Sang ibu, Evangelia, yang memiliki ambisi terhadap bakat Callas yang luar biasa di musik, membawa Callas kembali ke Yunani untuk tinggal di Athena. “Ketenaran adalah hal yang kuinginkan untuk anak perempuanku. Uang adalah hal kedua,” sebut Evangelia dalam sebuah wawancara di New York.

Kelak, Callas memang menjelma tak hanya menjadi seorang penyanyi. Ia juga masuk dalam kalangan selebritas yang pada akhirnya membawa kehancuran pada karier dan hidupnya.

Di Yunani, Callas mengenyam pendidikan musik di bawah asuhan soprano asal Spanyol, Elvira de Hidalgo. Pada usia 15 tahun, Callas memulai debutnya di panggung opera. Di Yunani pula ia sempat memainkan peran sebagai Leonore dalam opera Fidelio karya Beethoven dan sebagai Tosca.

Pada 1945, Callas kembali ke AS. Masih dari laman Maria Callas, ia kemudian terpilih untuk menyanyikan Turandot untuk pembukaan inagurasi sebuah perusahaan opera baru yang prestisius di Chicago, AS. Sayang, perusahaan itu bangkrut.

Perjalanan karier Callas mulai menemui titik balik setelah penyanyi tenor veteran asal Italia, Giovanni Zenatello menemukan Callas. Zenatello kala itu sedang mencari penyanyi berbakat untuk tampil pada festival opera di Verona Arena, Italia. Callas melakukan debutnya di Italia pada festival tersebut tahun 1947 dengan konduktor ternama Turino Serafin.

Di Italia inilah kehidupan Callas berubah 180 derajat. Ia menetap di sana dan menikah dengan pengusaha kaya Giovanni Battista Meneghini. Sementara itu, Serafin menjadi mentor musik bagi Callas.

Ia mulai memerankan sejumlah peran besar dalam opera seperti Turandot, Aria, hingga Norma yang membuat namanya semakin melambung. Namun, lompatan kariernya dimulai tahun 1949, ketika Callas mendapat kesempatan untuk menggantikan seorang soprano ternama dalam perannya sebagai Elvira pada karya opera I Puritani oleh Vincenzo Bellini.

Sejak saat itu, ia menikmati ketenaran dan kesuksesan. Tidak hanya memulai rekaman pertamanya, kesempatan itu kemudian membawa Callas dalam waktu yang singkat menjadi bintang tamu di sejumlah gedung opera ternama, termasuk yang paling prestisius: La Scala di Milan. Ia melakukan debutnya di La Scala pada 1950. Sejak saat itu ia menjadi primadona di La Scala.

Masih dari laman Maria Callas, ia kemudian tampil pertama kali sebagai Violetta di La traviata pada 1951. Pada tahun-tahun selanjutnya, karier Callas terus meroket. Di saat yang bersamaan, fisiknya pun turut mengalami metamorfosis. Hanya dalam 18 bulan berat badannya turun 30 kilogram.

“Ia seolah menjadi wanita lain … dalam segala hal, ia telah bertransformasi,” sebut konduktor Carlo Mario Guilini. Para penggemar Callas menyebutnya dengan julukan La Divina, seorang dewi.




Pada 1959, ia bertemu dengan Aristotle Onassis asal Yunani, salah seorang konglomerat terkaya di dunia. Onassis mengundang Callas dan suaminya untuk ikut berlayar di kapal Yacth terkenal miliknya, the Christina. Beberapa minggu setelah turut berlayar, Callas meninggalkan suaminya untuk menjalin hubungan dengan Onassis kendati saat itu Onassis juga sudah berkeluarga.

Hubungan Callas dengan Onassis berjalan selama sembilan tahun kendati tidak menikah. Selama itu pula, Callas larut dalam kehidupan jet set yang serba mewah dan semakin menjauh dari panggung opera. Huffington dalam bukunya menyebutkan, Onassis memiliki peran dalam menjauhnya Callas dari dunia opera dan membuat Callas terpuruk.

“Kamu itu apa? Kamu bukan apa-apa. Kamu itu cuma punya peluit di tenggorokanmu dan kini [peluit] itu sudah tidak berfungsi,” sebut Onassis suatu waktu pada Callas, masih dari Huffington. Hubungan Callas dengan Onassis berakhir ketika Onassis menikahi Jacqueline Lee Bouvier atau Jacky Kennedy, janda dari Presiden AS John F. Kennedy pada 20 Oktober 1968.

Tahun-tahun terakhir Callas diisi dengan kesendirian. Hidupnya semakin rapuh setelah Onassis memilih Jacky Kennedy. Ia meninggal dunia pada 16 September 1977 di Paris, tepat hari ini 43 tahun yang lalu karena serangan jantung, atau sekitar satu setengah tahun setelah Onassis meninggal dunia. Beberapa orang menyebutnya meninggal dunia karena patah hati.

Nama Maria Callas abadi setelah sukses mengubah wajah dan sejarah pertunjukan opera terlepas dari seluruh kontroversi dalam hidupnya. Mengutip Operawire, beberapa menyebut pertunjukan dunia opera seolah terbagi menjadi dua periode, sebelum dan sesudah Callas. Leonard Bernstein, kondukter dan musisi asal AS bahkan tak ragu menyebut Callas sebagai sang “kitab suci dunia opera.”

Baca juga artikel terkait PENYANYI OPERA atau tulisan menarik lainnya Ign. L. Adhi Bhaskara
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara
Editor: Irfan Teguh
DarkLight