Marabahaya yang Mengintai di Balik Perut Buncit

Oleh: Rahman Fauzi - 5 Desember 2016
Dibaca Normal 2 menit
Perut buncit bisa mengundang banyak masalah penyakit. Sebuah kekeliruan menganggap perut gembul tanda kesejahteraan.
tirto.id - Cecep (56) sering kesulitan saat berusaha bangun dari posisi duduk karena perutnya yang menggembung. Ketika mengukur dengan tali meteran, dia mendapati diameter perutnya sebesar 103 sentimeter. “Wah ternyata sampai satu meter!” ujarnya tersadar. Badan gemuk yang selama ini banyak orang kerap anggap sebagai tanda kesejahteraan, nyatanya membuat dirinya tidak nyaman.

Lingkar perut Cecep memang melebihi batas normal yang Badan Kesehatan Dunia (WHO) tetapkan. Normalnya, lingkar perut laki-laki maksimal sebesar 90 sentimeter, sementara perempuan maksimal 80 sentimeter. Pola makan yang tidak terjaga, khususnya mengonsumsi makanan berkarbohidrat sebelum tidur, hobi minum teh manis, ditambah minimnya olahraga, dia yakini sebagai biang keladi perut ratanya saat muda tinggal memori.

Tumpukan lemak dalam perut alias buncit memiliki istilah klinis, "obesitas sentral". Disebut demikian karena terdapat tumpukan lemak yang muncul dari bagian tengah batang tubuh. Pada rongga perut terdapat ‘wadah’ besar bernama omentum yang banyak terdiri sel lemak. Nihilnya struktur keras seperti rangka tulang membuat massa lemak di sana tidak terhalang apapun.

Persepsi masyarakat yang kerap menganggap perut buncit simbol kesejahteraan jelas kekeliruan. Sebab, kebuncitan bisa menjadi awal mula penyakit-penyakit berbahaya datang. Meskipun tidak secara langsung, tapi penyakit jantung, stroke, diabetes, perlemakan hati, sirosis (kerusakan kronis pada hati), dan kanker adalah nama-nama penyakit yang bisa hadir dipicu perut buncit.

Duduk perkaranya terletak pada tumpukan lemak visceral yang berada di rongga perut. Lemak visceral membungkus organ-organ penting seperti jantung, hati, kantong empedu, usus, lambung, dan ginjal. Dengan perannya tersebut, lemak ini jelas berbeda dengan lemak subkutan yang biasa ada di banyak bagian tubuh, seperti pada pipi tembam atau lengan yang menggemaskan.

Kelancaran aliran darah pada tubuh bisa terganggu akibat dicemari lemak visceral yang mempersempit pembuluh darah. Jika penyempitan pembuluh terjadi di otak, bukan mustahil stroke menyerang. Jika aliran darah pada jantung tidak lancar, organ tubuh vital ini bisa mengalami disfungsi.

Obesitas sentral memang berkaitan erat dengan penyakit degenaratif atau penyakit penyebab penuaan. Data Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI (Litbangkes RI) pada 2007 menunjukkan obesitas sentral pada tingkat nasional menyentuh angka 18,8%. Bila dicacah dari segi rentang usia, masyarakat berusia 45-54 tahun mendominasi tabel prevalensi obesitas sentral sebanyak 26%. Diikuti masyarakat rentang usia 35-44 yang presentasenya menyentuh 24%, lalu masyarakat rentang usia 55-64 (23%), rentang usia 65-74 (18%), 25-34 (17%), 75+ (15%), dan 15-24 (8%).

Sulawesi Utara (Sulut) menjadi provinsi dengan proporsi obesitas sentral pada umur lebih dari 15 tahun terbesar di Indonesia pada 2007. Data riset Kesehatan Dasar Litbangkes Kemenkes RI menggambarkan, sebanyak 31,5% masyarakat Sulut alami obesitas sentral, diikuti DKI Jakarta (27,9%), Papua (27,2%), dan Gorontalo (27%). Sampai kemudian pada 2013, DKI Jakarta menyalip dengan persentase 39,7%, sementara Sulut, Gorontalo, dan Papua saling mengekor.

INFOGRAFIK Obesitas di Indonesia


Berhubung obesitas terjadi karena asupan makanan lebih banyak ketimbang energi yang dikeluarkan untuk aktivitas fisik, maka pola makan yang terkendali dan rutin berolahraga menjadi aksi nyata mengusir lemak visceral. Mengurangi porsi makan yang tadinya satu piring penuh, menjadi tiga perempat saja bisa menjadi langkah awal. Juga minum segelas air putih sebelum makan guna mengisi lambung sehingga cepat kenyang.

Makan secara perlahan juga penting dilakukan guna menunggu naiknya glukosa dalam darah sehingga rasa kenyang muncul tanpa harus menunggu lambung penuh. Memperbanyak konsumsi sayur dan buah, mengurangi makanan berminyak dan cemilan berbahan dasar tepung, tidak mengemil pada dini hari, dan tidak langsung tidur setelah makan adalah poin-poin penting lainnya.

“Semua kembali ke pola makan. Bukan hanya jumlah yang harus diatur, namun harus didahului dengan jadwal yang tepat dan pemilihan jenis makan yang baik. Berapa jumlahnya sangat individual, paling baik adalah mengurangi jumlah asupan dengan mengatur jadwal asupan dan disiplin dengan jadwal tersebut,” tutur dr. Dimas Erlangga Luftimas, M. Kes., master di bidang ilmu gizi medik.

Konsumsi minuman mengandung gula berlebih, seperti soda dan teh manis, serta segala minuman beralkohol jelas sebuah persoalan. Untuk setiap pengonsumsi bir yang berperut buncit, bisa menambahi istilah “beer jelly” di nama tengah mereka. Merujuk tampilan perut serupa agar-agar yang terisi kumpulan bir.

Studi yang dilakukan peneliti Helmut Schroder, dkk., pada 2007 menunjukkan konsumsi alkohol bepengaruh membesarkan lingkar perut laki-laki. Dalam penelitian lain disebutkan juga kalau peningkatan diameter perut berbanding lurus dengan peningkatan ongkos perawatan kesehatan tahunan seseorang di Denmark.

Melakukan aktivitas fisik secara rutin tentu perlu dilakukan guna membakar kalori. Tidak mesti diawali dengan kegiatan yang berat, bisa dimulai dengan memilih naik tangga ketimbang lift atau berjalan kaki ketimbang naik kendaraan untuk sekiranya jarak yang dekat. Olahraga seperti bersepeda dan berenang yang tidak membuat tulang terbebani, cocok dilakukan guna menghilangkan lemak visceral. Sementara olahraga yang rentan menimbulkan cedera sebaiknya dihindari kalau nantinya itu hanya justru menjadi alasan keengganan berolahraga.

Cecep sebetulnya tahu kebiasaan apa saja yang membuat perutnya sampai satu meter dan bagaimana cara mengempeskannya. Dia juga paham betapa tidak enaknya perut buncit lengkap dengan bahayanya. Namun...

“Selama ini sudah mencari artikel di internet buat menghilangkan perut buncit, sudah di-print juga. Tapi ya udah ditaruh aja, (sarannya) enggak dilakukan,” ucapnya sambil terkekeh.

Komitmen kuat mengubah pola makan dan rutin berolahraga dalam diri yang pada akhirnya menentukan mengembalikan kerataan perut. Sebab kalau bukan diri sendiri, siapa lagi yang bakal peduli?

Baca juga artikel terkait DAMPAK OBESITAS atau tulisan menarik lainnya Rahman Fauzi
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Rahman Fauzi
Penulis: Rahman Fauzi
Editor: Zen RS