Pemilu Serentak 2024

Manuver Politik Menuju 2024: Giring, Puan, hingga Erick Thohir

Reporter: Andrian Pratama Taher - 6 Jan 2022 07:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Kunto menilai manuver Giring tidak bisa disamakan dengan upaya Anies maupun tokoh lain dalam membangun citra politik.
tirto.id - Manuver politik semakin masif. Sejumlah tokoh publik hingga politikus mulai gencar mencari celah bagaimana meningkatkan popularitas dan elektabilitasnya. Sarana yang dipakai pun beragam, mulai dari baliho, media sosial, hingga memanfaatkan isu yang sedang ramai seperti ajang balapan Formula E di DKI jakarta.

Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Giring Ganesha misal mendatangi sirkuit Formula E di Ancol. Ia sebut event Formula E yang diinisiasi Pemprov DKI bermasalah karena sirkuit tidak siap. Tudingan Giring dinilai ditujukan kepada Gubernur Jakarta Anies Baswedan yang namanya mulcul di sejumlah lembaga survei sebagai bakal capres pada Pilpres 2024.

“Benar-benar belum siap. Rasanya mustahil Juni nanti sudah bisa dipakai dengan layak. Jelas event ini memang bermasalah dalam semua hal,” kata Giring di Ancol, Rabu, 5 Januari 2021.

Giring mengatakan, rencana tempat pelaksanaan Formula E hanya tanah kosong di depan mata. Ia pun hanya melihat lumpur dan diisi kambing. Ia juga mengaku tidak melihat ada alat berat yang bekerja.

Giring berkunjung ke lokasi ajang balap Formula E itu dengan ditemani Ketua DPW PSI DKI Jakarta, Michael Sianipar dan Anggota DPRD DKI Jakarta Anggara W Sastroamidjojo.

Ara, panggilan akrab Anggara, menyatakan, “Saya tidak yakin sama sekali bahwa sirkuit ini bisa selesai tepat waktu. Event tidak sampai enam bulan lagi, tapi kondisinya masih tanah kosong.”

Ia menyatakan, DPRD DKI Jakarta akan memanggil pihak JakPro, Dinas Pemuda dan Olah Raga Pemprov DKI Jakarta, dan Ahmad Sahroni sebagai Ketua Panitia Penyelenggara.


Motif Politik di Balik Aksi Giring

Manuver Giring tidak lepas dari upaya meningkatkan elektabilitas. Sebagai catatan, mantan vokalis Band Nidji itu sempat mendeklarasikan diri sebagai calon presiden. Karena itu, aksi Giring tidak terlepas dari upaya menarik suara jelang Pemilu 2024, kata dosen politik Universitas Telkom Dedi Kurnia Syah.

“Memang kalau dilihat dari sisi waktu, kita sedang mendekati tahun kontestasi politik terutama akan memuncak di akhir 2023, termasuk yang dilakukan Giring dengan meninjau lokasi atau calon lokasi Formula E. Ini jelas sekali terlihat upaya Giring untuk mendapat perhatian,” kata Dedi kepada reporter Tirto, Rabu (5/1/2022).

Dedi pun mengaitkan bagaimana upaya keras Giring bersama kader PSI melawan Anies Baswedan lewat Formula E. Namun Dedi menilai, manuver Giring bukan untuk meningkatkan elektabilitas Giring secara personal, tetapi elektabilitas PSI.

“Elektabilitas dan popularitas Giring saya kira sulit untuk diterka. Di satu sisi publik masih kental mengenal Giring sebagai sosok non-politisi. Meskipun dia sebagai ketum, tapi kapasitas dalam kepemimpinan dalam politik praktis Indonesia, Giring belum cukup dikenal,” kata Dedi.

Dedi memandang langkah Giring berbeda dengan manuver para kandidat potensial lain, seperti baliho Puan Maharani, Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY maupun Airlangga Hartarto; strategi sembako PDIP untuk mendorong elektabilitas Puan; aksi konten video Youtube Anies Baswedan; hingga video Menteri BUMN Erick Thohir di tiap mesin ATM Bank Himbara.

“Artinya publik sudah punya keyakinan bahwa tokoh-tokoh di luar Giring ini punya kans. Di satu sisi dari kemapanan, dari jejak kerja dan segala macam sehingga semua yang dilakukan Puan Maharani, Erick Thohir, Anies Baswedan, Airlangga Hartarto meskipun politis, publik akan memaklumi,” kata Dedi.

Sementara yang dilakukan Giring, kata Dedi, hanya mencari perhatian publik sehingga memantik kegaduhan semata.



Dedi mengatakan, ada dua karakter tokoh politik yang akan mendapatkan popularitas dan elektabilitas di 2024. Pertama adalah kader parpol seperti Airlangga, Prabowo hingga Puan. Mereka akan berupaya bersosialisasi maupun promosi politik meski ada potensi tidak leluasa dalam menyapa publik.

Kedua adalah kepala daerah non-parpol maupun parpol. Dedi mencontohkan Ganjar Pranowo, Anies hingga Khofifah Indar Parawansa bisa menggunakan statusnya sebagai kepala daerah dalam membangun komunikasi publik. Dengan demikian, elektabilitas dan popularitas bisa lebih baik daripada tokoh parpol. Hal itu berdasarkan hasil survei IPO bahwa hasil survei kader parpol punya masalah.

“Golkar itu ada di 10-12 persen, tetapi elektabilitas dan popularitas Airlangga Hartarto hanya di 0, persen meskipun di [survei] IPO terakhir di 1,3 persen. Prabowo Subianto pun demikian. Popularitas tinggi tapi punya angka anti Prabowo 14-17 persen,” kata Dedi.

Dedi menambahkan, “Ini juga masalah sehingga pertarungan 2024 saya kira dalam kurun waktu 2022-2023 ini betul-betul akan menjadi 2 tahun produktif semua tokoh akan melakukan segala upaya untuk mendapatkan atensi publik termasuk juga atensi parpol, terutama adalah mereka yang tidak punya parpol.”

Namun, kata Dedi, manuver Giring dan PSI tidak bisa disamakan dengan Airlangga, Puan hingga Anies. Sebab, ia melihat aksi Giring dan PSI hanya demi sampai ke parlemen atau lolos ambang batas parlemen sehingg bisa melenggang ke Senayan.

Dedi pun mengaitkan aksi Giring dengan manuver Muhaimin Iskandar. “Orientasi PSI saya kira hanya sampai pada bagamana caranya mereka bisa lolos ke parlemen. Kalau untuk presiden, itu hanya materi propaganda sebagaimana Muhaimin Iskandar dalam memproklamirkan diri sebagai calon presiden, tapi faktanya juga setiap kali kontestasi presiden, Muhaimin tidak pernah masuk. Kenapa? Karena orientasinya untuk membangun popularitas partai politik,” kata Dedi.



Sementara itu, dosen komunikasi politik Unpad Kunto Adi Wibowo malah terlihat manuver Giring sebagai upaya mendegradasi elektabilitas Anies dengan menuding Formula E gagal. Ia menilai aksi Giring tidak bisa disamakan dengan upaya Anies maupun tokoh lain dalam membangun citra politik.

“Kalau menurut saya nggak apple to apple membandingkan Giring meninjau Ancol ke lokasi Formula E dengan kemudian aksi Pak Erick Thohir dengan videonya di ATM-ATM Himbara, lalu kemudian bagi-bagi sembako Mbak Puan," kata Kunto saat dihubungi reporter Tirto, Rabu (5/1/2022).

Kunto beralasan, “Orang akan menanggapi dengan serius apa yang dilakukan oleh Puan Maharani, itu kan elektabilitasnya masih rendah, orang akan menanggapi dengan serius apa yang dilakukan ET terkait dengan 2024, tetapi orang kelihatannya akan ketawa-ketawa kalau menanggapi apa yang dilakukan oleh Giring karena menurut saya secara kapasitas personal masih banyak yang harus dibuktikan oleh Giring sebagai ketua partai.”

Kunto mengatakan, aksi Anies bikin Youtube, Erick bikin video lewat ATM bank Himbara dan aksi Puan bagi-bagi sembako adalah upaya komunikasi politik mereka membangun kedekatan ke publik. Hal tersebut tidak selalu berkaitan dengan popularitas maupun elektabilitas. Mereka hanya mengedepankan bagaimana menciptakan rasa cinta karena terbiasa di publik sebagaimana filosofi politik Jawa.

“Nah ini mereka sedang membiasakan diri ada di depan publik lewat inovasi-inovasi komunikasi yang mereka lakukan dan kalau terkait positifnya bahkan kalua di media, di komunikasi kan bad news is a good news. Bahkan ketika diomongin sesuatu yang jelek itu masih sesuatu yang baik karena mau tidak mau pasti akan mengarah ke popularitas mereka," kata Kunto.


Baca juga artikel terkait PEMILU 2024 atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Politik)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Abdul Aziz

DarkLight