Sejarah Stasiun

Manggarai: Ketika Para Pemuda Meloloskan Bung Karno ke Yogyakarta

Stasiun Manggarai dengan Papan Nama Terbaru versi 2017. wikipedia/Syaifan Bahtiar Nirwansyah
Oleh: Petrik Matanasi - 16 Oktober 2019
Dibaca Normal 2 menit
Pada 3 Januari 1946, Bung Karno dan para pemimpin Republik lainnya berangkat ke Yogyakarta melalui Stasiun Manggarai.
tirto.id - Banyak cerita beredar bahwa daerah Manggarai di Jakarta punya hubungan dengan Manggarai di Nusa Tenggara Timur (NTT), salah satunya diceritakan oleh Gerson Poyk dalam Poti Wolo (1988:9). Menurutnya, dulu daerah Manggarai di Jakarta adalah kampung yang dihuni budak-budak dari Manggarai NTT.

Sementara Rachmat Ruchiat berkisah dalam Asal Usul Nama Tempat di Jakarta (2018:80), bahwa sebelum Perang Dunia II di sekitar Kelurahan Manggarai terdapat tarian Lenggo yang berasal dari NTT.

“Tarian ini dibawa oleh orang-orang Flores Barat yang menjadi penghuni kampung Manggarai,” tulisnya.

Kiwari, Manggarai tak kenal sebagai kampung yang punya hubungan dengan NTT termasuk tarian Lenggo, tapi sebagai wilayah yang rawan tawuran antarkampung. Selain itu, Manggarai juga kerap diingat ketika musim hujan datang, sebab di sana terdapat pintu air.

Di luar dua hal itu, Manggarai sangat akrab dengan para pengguna transportasi kereta api. Stasiun Manggarai adalah tempat transit para penumpang ke sejumlah jalur yang menghubungkan Jakarta dengan kota-kota di sekitarnya.

Berdasarkan catatan Uka Tjandrasasmita dalam Sejarah Perkembangan Kota Jakarta (2000:53), Stasiun Manggarai berdiri pada tahun 1918 dan dibuka secara resmi pada tanggal 1 Mei tahun tersebut bertepatan dengan Hari Buruh.

"[Terdapat] sebuah komplek perumahan yag tertata cukup rapi, berbeda jauh dengan perumahan di sekitarnya yang tampak dibangun tanpa perencanaan cermat,” tulis Rachmat Ruchiat menggambarkan kondisi stasiun tersebut pada mula penggunaannya.

Pembangunan stasiun ini ditangani oleh van Gendt, saat Staatsspoorwagen (SS) menjadi operator penting kereta api di Hindia Belanda. Ruang tunggu kelas utamanya cukup awet dan minim perubahan.

Dalam Dekolonisasi Buruh Kota dan Pembentukan Bangsa (2013:1992) disebutkan bahwa di sekitar Bukit Duri yang letaknya tak jauh dari Stasiun Manggarai, terdapat perumahan untuk para pegawai kereta api seperti masinis, kepala stasiun, dan insinyur kereta api. Sementara pegawai lain seperti montir atau buruh-buruh depo tinggal di bedeng-bedeng.

Sebelum Stasiun Manggarai dibangun, di sana terdapat Stasiun Bukitduri yang dibangun pada 1907 oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg (NIS). Stasiun ini kemudian dibongkar dan bekas lahanya menjadi bagian dari Stasiun Manggarai yang dijadikan depo atau gudang.

Setelah tahun 1954, depo Manggarai tidak lagi memperbaiki gerbong-gerbong kereta api melainkan hanya menyimpan serta memperbaiki lokomotif, naik lokomotif uap maupun lokomotif listrik.

Stasiun Manggarai memang bukan stasiun pertama di Jakarta. Namun stasiun ini menjadi pertemuan jalur-jalur kereta menuju arah Tanah Abang, Jakarta Kota, Bekasi, dan Bogor.




Usaha Para Pemuda

Ketika revolusi pecah, para pemuda mengambil alih Stasiun Manggarai. Seorang pemuda bernama Suromo—anggota Persatuan Juru Gambar Indonesia (Persagi)—mencoreti kereta-kereta yang ada di Manggarai. Buruh-buruh muda kereta api itu tergabung dalam Angkatan Muda Kereta Api (AMKA).

“Pada tanggal 3 September 1945 terjadi perebutan jawatan Kereta Api oleh kaum buruh yang dimulai dengan pengambilalihan stasiun Manggarai dan Jatinegara,” tulis RHA Saleh dalam Dari Jakarta Kembali ke Jakarta (1996).

Setelah disebut oleh para pemuda, Stasiun Manggarai menjadi saksi perpindahan para pemimpin Republik saat ibukota pindah ke Yogyakarta pada 3 Januari 1946. Para anggota AMKA ikut membantu mengamankan para pemimpin Republik dari rongrongan sersadu KNIL di Jakarta. Dari bengkel kereta api Manggarai, rangkaian Kereta Api Luar Biasa (KLB) disusun sebelum hari beranjak gelap.

“Untuk menjaga keamanan Presiden dan rombongan, diusulkan berangkat dari belakang rumah Bung Karno di Pegangsaaan Timur tepat [pukul] 18.00. Rangkaian dikeluarkan dari bengkel oleh Ali Noer dan kawan-kawan Angkatan Muda Kereta Api pukul 17.15 dan pukul 17.30 dilangsir ke belakang rumah Bung Karno. Soegito dan saya mengatur naik rombongan ke dalam kereta api dalam 15 menit. Seluruh waktu diatur sesingkat mungkin supaya tidak banyak orang mengetahui,” kata Soedarjo dalam buku Aku Ingat (1996).

Langsiran rangkaian kereta dari Manggarai ke Pegangsaan dilakukan secara diam-diam agar tidak mengundang aksi tentara Belanda.

“Waktu itu, keadaan di sekitar tempat kediaman Bung Karno di Pegangsaaan Timur biasa saja. Tidak terlihat adanya gerakan-gerakan yang mencurigakan. Setelah siap, KLB ini berhenti di belakang rumah seperti waktu langsir tadi,” ucap Mangil Martowidjojo dalam Kesaksian Tentang Bung Karno (1999:23).

Setelah semua pejabat Republik naik, KLB segera menuju Yogyakarta tanpa gangguan berarti.

Selain itu, John Rossa dalam Dalih Pembunuhan Massal (2008:177) mencatat bahwa para buruh kereta api di stasiun Manggarai membantu pengangkutan perbekalan untuk pasukan Republik.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight