Manfaat Semut Jepang dan Cara Membudidayakan

Oleh: Dinda Silviana Dewi - 26 Februari 2020
Dibaca Normal 1 menit
Mengonsumsi semut Jepang dipercaya sebagai salah satu obat alternatif untuk penyakit diabetes.
tirto.id - Semut Jepang dipercaya memiliki khasiat bagi kesehatan sehingga semakin populer di berbagai negara. Namun sebenarnya, apa itu semut Jepang?

Semut Jepang bukan termasuk serangga semut pada umumnya tapi merupakan jenis kumbang tenebrionidae. Nama latin dari hewan ini adalah Ulomoides dermestiodes. Sehingga hewan semut Jepang ini bukan lah semut seperti yang juluki sebelumnya.

Dilansir dari Sahabat Nestle, semut Jepang secara fisik tidak menyerupai semut pada umumnya yang memiliki antena panjang, sayap yang tumbuh di luar tubuh, serta hidup berkoloni.

Sebaliknya, semut Jepang memiliki antena pendek pada bagian kepala, bentuk tubuh yang bulat dan padat, serta sayap yang tumbuh di balik kerangkanya. Selain itu, hidup semut Jepang juga cenderung tidak berkoloni.

Semut Jepang dapat hidup dan berkembang biak dalam bahan pangan manusia seperti beras hingga kacang-kacangan. Dari segi kekerabatan, ia masih cukup dekat dengan Sitophilus oryzae atau kutu beras, dan Tenebrio molitor atau ulat hongkong.

Serangga ini banyak ditemukan di Amerika Selatan, Amerika Tengah, Asia Timur, Asia Tenggara, dan Eropa. Oleh karenanya, semut Jepang tidak hanya berasal dari Jepang saja melainkan dari banyak negara termasuk Indonesia.

Banyak masyarakat saat ini berupaya membudidayakan semut Jepang ini. Pasalnya, semut Jepang dipercaya memiliki banyak manfaat terutama dalam bidang kesehatan seperti untuk obat diabetes.

Cara membudidayakannya pun cukup mudah hanya dengan media kapas dan diberi makan ragi.

Cara budidaya semut Jepang



Pertama, siapkan alat dan bahan. Alat dan bahan yang digunakan cukup murah yaitu indukan semut Jepang, kapas steril, toples yang telah diberi lubang udara untuk bernapas, dan ragi tape sebagai makanan semut Jepang.

Dari laman Pertanian Indonesia, perkiraan uang yang dikeluarkan kurang lebih Rp100 ribu. Harga indukan semut Jepang dibanderol dengan harga kurang lebih seribu rupiah. Semakin banyak indukan, semakin besar kemungkinan semut bereproduksi dengan cepat.

Masukkan kapas ke dalam toples yang telah diberi lubang udara tersebut. direkomendasikan untuk menyimpannya ditempat yang teduh dan memiliki sirkulasi udara yang baik dan lembab. Jauhkan pula dari jangkauan semut merah. Semut Jepang menyukai suhu antara 28-31 derajat celsius.

Setelah kapas masuk ke toples, masukkan indukan dan ragi tape ke dalam toples tersebut. Berikan pakan setiap 3 hari, dengan memberikan 1 butir ragi tape. Namun, sesuaikan kembali dengan jumlah semut yang dipelihara. Perkiraannya, 1 butir ragi diberikan untuk 50-200 ekor semut selama 3 hari.

Manfaat semut Jepang


Mengonsumsi semut Jepang dipercaya sebagai salah satu obat alternatif untuk penyakit diabetes. Berikut adalah manfaat lain konsumsi semut Jepang dilansir dari penelitian yang dipublikasikan Media Neliti:

1. Menstabilkan kadar gula dalam darah (untuk penyakit diabetes)

2. Menormalkan asam urat, kolestrol, dan tekanan darah tinggi (bagi penderita hipertensi)

3. Mengobati penyakit jantung

4. Menambah vitalitas untuk pria atau wanita

5. Mengobati penyakit kencing manis

6. Mengobati penyakit hati, ambeien atau wasir

7. Meningkatkan daya tahan tubuh.

Setiap penyakit memiliki takaran yang berbeda-beda. Takaran konsumsi untuk penderita stroke adalah 7-10 ekor, yang dikonsumsi hingga dua bulan. Penderita diabetes mengonsumsi 5-7 ekor semut Jepang dalam satu bulan, hipertensi 5-7 ekor dalam satu bulan, asam urat 5 ekor dua bulan, serta kolestrol 5 ekor untuk dua bulan.

Dianjurkan untuk mengonsumsi per hari sebanyak penyakit yang diderita, jika setelah mengonsumsi selama 1 – 2 bulan sesuai anjuran dan tidak ada perubahan maka dianjurkan untuk menambah takaran dosisnya. Jika setelah mengonsumsi dan dirasa membaik dianjurkan untuk mengurangi dosisnya setengah.


Baca juga artikel terkait SEMUT JEPANG atau tulisan menarik lainnya Dinda Silviana Dewi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Dinda Silviana Dewi
Penulis: Dinda Silviana Dewi
Editor: Nur Hidayah Perwitasari
DarkLight