Manfaat KRL Yogya-Solo Menurut Peneliti: Tak Hanya Efisiensi Waktu

Oleh: Kristina S - 22 Februari 2021
Dibaca Normal 1 menit
Pengoperasian KRL Yogya-Solo tak hanya bisa membuat perjalanan lebih efisien, tapi membuka pula peluang pengembangan wisata di Klaten.
tirto.id - Kereta Api Prambanan Ekspress atau Prameks telah berhenti beroperasi pada tanggal 9 Februari 2021. Sebagai transportasi penghubung antara Solo dan Yogyakarta, saat ini Prameks telah diganti oleh Kereta Rel Listrik (KRL).

Prameks yang telah beroperasi selama 27 tahun resmi digantikan KRL Yogya-Solo pada tanggal 10 Februari 2021. Jika Prameks melintasi 7 stasiun, KRL Yogya-Solo beroperasi dengan melewati 11 stasiun.

Situs KAI Commuter mencatat, 11 stasiun yang dilewati KRL Yogya-Solo ialah Stasiun Yogyakarta, Maguwo, Lempuyangan, Brambanan, Srowot, Klaten, Ceper, Delanggu, Gawok, Purwosari dan Solo Balapan.

KAI Commuter mencatat pada 10-14 Februari 2021 pengguna KRL terus mengalami peningkatan. Pada 10 Februari tercatat ada 3.236 pengguna, 11 Februari ada 4.464 pengguna, 12 Februari ada 5.132 pengguna, dan 13 Februari ada 5.618, sementara pada 14 Februari ada 5.898 pengguna. Sehingga dalam lima hari, tercatat ada 24.348 pengguna KRL Yogya-Solo.


Mengukur Manfaat KRL Yogya-Solo

Pengoperasian KRL Yogya-Solo bisa menjadi babak baru penyediaan sarana transportasi publik di DIY dan Jawa Tengah.

Peneliti Laboratorium Tranportasi Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata, Semarang, Djoko Setijowarno menilai KRL tersebut bisa mendorong integrasi transportasi di Yogyakarta dan Solo.

Selain itu, ia mencatat, pengoperasian KRL itu berpotensi menghemat waktu perjalanan dari Solo ke Yogyakarta atau sebaliknya.

"Waktu tempuh Prameks sekitar 75 menit, sedangkan KRL ini mampu ditempuh dalam waktu 68 menit. Berarti dengan KRL ini menghemat waktu," kata Djoko pada Rabu (17/2/2021).

Selama ini, perjalanan Surakarta - Yogyakarta melalui jalur darat bisa menelan waktu rata-rata 1 jam 50 menit. Jika KRL bisa menempuh jarak yang sama (60 kilometer) dengan waktu 68 menit, berarti ada penghematan waktu hingga 34 menit.

"Mereka yang bekerja [pulang-pergi] antara Solo-Yogya dapat pulang dengan waktu tempuh yang tidak lama," tambah Djoko.

Apalagi, kapasitas penumpang KRL cukup rbesar. KRL Yogya-Solo mengoperasikan sejumlah kereta dalam satu rangkai atau disebut juga dengan Stamformasi (SF).

KAI Commuter menjelaskan bahwa Stamformasi KRL ini terdiri dari 8 kereta dan rangkaian KRL SF 4. KRL dengan SF 8 mampu menampung 592 orang, sedangkan SF 4 mengangkut 296 orang.

"Hadirnya rangkaian ini bisa menambah kapasitas penggunanya dalam satu kali perjalanan. Tetapi di tengah situasi Covid-19 ini, dibuat pembatasan dalam satu kereta sekitar 70 orang," ucap dia.


Djoko menambahkan hadirnya KRL Jogja-Solo juga dapat memberikan dampak signifikan terhadap warga Klaten, Jawa Tengah. Sebab, keberadaan KRL yang melewati 11 stasiun bisa mempermudah akses ke sejumlah tempat wisata di Klaten.

Wisata pedesaan dan kuliner di Klaten yang cukup pesat perkembangannya akhir-akhir ini, seperti Wisata Mata Air Cokro, Umbul Pongok, Cokro Umbul Ingas, Sate Kambing Pak Suli, Bebek Goreng Pak Tohir, Bale Tirto Resto, Warung Apung Rowo Jombor, dan lain sebagainya.

"Warga Klaten saatnya kini unjuk diri untuk mempromosikan bahwa desanya penuh dengan tempat wisata dan tempat kuliner yang menarik," terang Djoko.

Ada sekitar lima stasiun kecil di Klaten yang pernah dilewati oleh KA Prameks, diaktifkan kembali untuk melayani penumpang KRL Yogya-Solo. Kelima stasiun itu juga sebenarnya bisa terhubung dengan jaringan angkutan perdesaan. Sayangnya, angkutan perdesaan di Klaten kini merosot.

Baca juga artikel terkait KRL YOGYA SOLO atau tulisan menarik lainnya Kristina S
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Kristina S
Penulis: Kristina S
Editor: Addi M Idhom
DarkLight