Manfaat Gentle Parenting dan Tips Penerapan dalam Mengasuh Anak

Kontributor: Ruhma Syifwatul Jinan, tirto.id - 24 Nov 2022 23:25 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Berikut manfaat gentle parenting dan tips penerapan konsep pola asuh itu dalam mengasuh anak.
tirto.id - Konsep pola asuh gentle parenting memuat pandangan yang berbeda dengan persepsi masyarakat pada umumnya. Misalnya, kebiasaan suka memberikan pujian dan hukuman pada anak-anak yang kerap dilakukan oleh masyarakat umum tidak selaras dengan konsep gentle parenting.

Maka itu, penerapan konsep pola asuh gentle parenting di kehidupan sehari-hari bisa memberikan keleluasaan pada anak untuk berekspresi dengan prinsip empati dan saling menghormati.

Konsep gentle parenting adalah pola mengasuh anak yang mengusung gaya pengasuhan "damai" dan positif. Mengutip laman Cleveland Clinic, penerapan gentle parenting bertujuan supaya anak-anak tumbuh dengan rasa percaya diri, mandiri dan bahagia melalui empati, hingga memiliki rasa hormat serta pengertian dengan menetapkan batasan yang sehat.

Berbeda dari pola parenting pada umumnya yang melibatkan pujian untuk sikap baik dan hukuman buat perilaku buruk, konsep gentle parenting tidak menganjurkan sanksi jika anak melakukan hal yang salah.

Pola asuh gentle parenting juga lebih mengedepankan proses komunikasi 2 arah antara anak dan orang tua. Tujuan komunikasi itu menjelaskan pada anak tentang baik-buruk perilakunya.

Manfaat Pola Asuh Gentle Parenting

Ada banyak manfaat pola asuh gentle parenting, salah satunya adalah memberikan perspektif baru tentang pengasuhan anak. Perlu dicatat, gentle parenting berbeda dengan pola asuh permisif, yang tergolong memiliki ekspektasi rendah terhadap anak.

Konsep pola asuh gentle parenting memuat pinsip bahwa pendisiplinan dilakukan pada anak sesuai dengan usianya. Hal ini berbeda dengan orang tua permisif, yang sering kali memilih untuk tidak mendisiplinkan anak.

Sebagaimana dilansir situs Verywell Family, dalam pola asuh gentle parenting, orang tua diminta untuk berfokus pada keadaan kognitif anak. Tujuannya untuk menetapkan pedoman dan batasan tertentu yang sesuai dengan usia dan bermanfaat bagi perkembangan anak.

Masih banyak lagi manfaat dari penerapan pola asuh jenis ini: Berikut ini sejumlah manfaat gentle parenting:

1. Mengurangi kecemasan pada anak

Penerapan pola asuh gentle parenting bisa mengurangi risiko kecemasan pada anak serta memberi dorongan respons sosial kepada balita yang pemalu.

Allison Andrews, PsyD, pemilik Klinik Pengembangan Anak di Boston, menyampaikan, "Ketika kita menunjukkan kelembutan, terutama selama masa-masa stres anak, kita mencontohkan toleransi pada frustasi, dan fleksibilitas."

2. Membangun komunikasi dua arah antara orang tua dengan anak

Kunci pola asuh gentle parenting ada di hubungan orang tua dan anak. Dalam pola pengasuhan ini, emosi anak dan orang tua sama pentingnya. Orang tua diharapkan dapat memahami perasaan dan kebutuhan anak, sehingga si kecil mengetahui alasan baik buruknya sebelum bertindak.

3. Anak memiliki kecerdasan sosial-emosional yang bai

Perhatian orang tua terhadap apa yang sedang terjadi pada anak-anak membantu mereka merasa dirinya penting dan dihargai. Anak-anak yang tumbuh dengan pola asuh seperti ini akan terbiasa mengungkapkan perasaan mereka, sehingga kecerdasan sosial-emosionalnya terbangun dengan baik.

Meskipun dinilai memiliki sederet manfaat, konsep gentle parenting memunculkan pro dan kontra. Merujuk pada publikasi Cleveland Clinic, kubu yang pro maupun kontra dengan konsep ini punya argumen masing-masing.


Kubu yang setuju dengan pendekatan gentle parenting melandaskan argumennya pada hasil dari beberapa penelitian. Sejumlah laporan riset menunjukkan hubungan 2 arah antar anak dan orang tua dapat membuat si kecil tumbuh dewasa dengan bahagia, mandiri, dan tangguh.

Prinsip pola asuh gentle parenting berfokus pada perkembangan anak, sehingga pola pengasuhan ini dapat meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan anak untuk mengatur emosinya.

Sementara itu, kubu yang mengkritik konsep gentle parenting menilai pendekatan ini memerlukan waktu lama dan konsistensi yang belum tentu dimiliki semua orang tua. Sebab, orang tua harus bisa melatih kesabaran dan mengendalikan emosinya ketika mengasuh anak.

Di samping itu, para orang tua juga mesti jadi tauladan yang baik. Sebab, prinsip gentle parenting adalah anak akan mengikuti apa dilihat dari perilaku orang sekitarnya, terutama orang tua

Selain itu, pola asuh gentle parenting yang berpusat pada anak, bisa membebani para ibu dalam pengasuhan. Ibu pekerja yang biasanya menghemat waktu dengan memberikan hadiah, menjadi tidak cocok dengan konsep ini.

Tips Penerapan Gentle Parenting dalam Mengasuh Anak

Melansir laman Parents, kepala sekolah BASIS Independent Brooklyn Lower, Shari D. Cameron mengungkapkan alasan utama gentle parenting bermanfaat berkaitan dengan perkembangan emosi anak-anak.

“Idenya adalah untuk membangun hubungan itu dari tempat rasa hormat dan empati, membantu anak-anak mengumpulkan modal yang mereka butuhkan untuk menavigasi emosi saat mereka tumbuh dewasa,” kata dia.

Cameron juga menyampaikan beberapa tips pola asuh gentle parenting yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut tips dan cara penerapan gentle parenting:

1. Ketika Anak Terus Melihat Layar

Orang tua yang mendapati anaknya sulit meninggalkan gawai atau layar TV bisa mendiskusikan lama waktu yang diizinkan dan untuk apa rencananya ketika selesai.

Cameron menyarankan untuk menggunakan stopwatch yang dapat diatur sendiri oleh anak-anak. Ketika waktunya habis, berikan opsi untuk untuk kegiatan selanjutnya.

2. Ketika anak tantrum di tempat umum

Jika anak mengalami tantrum di tempat umum, sebaiknya jangan langsung memarahinya. Orang tua dapat berdiskusi dengan anak. Misalnya membicarakan soal apa yang anak inginkan dengan kalimat yang mudah dimengerti si kecil. Cara ini bisa mengalihkan tantrum yang anak alami.

3. Ketika anak rewel minta dibelikan sesuatu

Saat membawa anak-anak berbelanja ke toko atau supermarket, terkadang meminta meminta dan merengek agar dibelikan mainan oleh orang tuanya. Cameron menyaranakan agar orang tuan tak langsung mengiyakan keinginan anak-anak. Walaupun orang tua mampu untuk membelikan, hal itu tidak membuat anaknya menjadi lebih baik.

Cameron mengimbau agar orang tua dapat memberikan pengertian kepada anak tentang prioritas sebuah kebutuhan. Orang tua dapat memulai dengan menjelaskan bahwa ada daftar kebutuhan yang harus terpenuhi dulu sebelum memuaskan keinginan yang kurang penting.

Baca juga artikel terkait LIFESTYLE atau tulisan menarik lainnya Ruhma Syifwatul Jinan
(tirto.id - Gaya Hidup)

Kontributor: Ruhma Syifwatul Jinan
Penulis: Ruhma Syifwatul Jinan
Editor: Addi M Idhom

DarkLight