Malapetaka Ledakan Beirut: Siapa yang Bertanggung Jawab?

Oleh: Zakki Amali - 6 Agustus 2020
Dibaca Normal 2 menit
Pemerintah Lebanon berjanji menggelar investigasi selama lima hari untuk mencari dalang ledakan di pelabuhan Beirut.
tirto.id - Lebanon mengumumkan masa tanggap darurat bencana selama dua pekan setelah terjadi sepasang ledakan besar di Beirut, Selasa (4/8) pukul 18.00 waktu setempat.

Ledakan tersebut setidaknya menewaskan 113 jiwa, membuat 4.000 orang terluka dan merusak bangunan hingga radius 15 klometer serta memicu gempa lokal magnitudo 3,5. Suara ledakan bergema dan jendela bergetar di Siprus, berjarak 250 kilometer dari episentrum.

Palang merah setempat mengemukakan jumlah korban masih akan bertambah, karena ada puluhan dilaporkan hilang. Rumah sakit di Beirut telah penuh, seementara korban hilang terus dicari di lokasi ledakan tak jauh dari kawasan padat penduduk, tempat hiburan malam, dan pusat perbelanjaan.

Malapetaka itu diduga terpicu oleh aktivitas pengelasan lubang kecil sebuah gudang untuk menghindari pencurian. Api dari pengelasan diduga terbang mengenai tumpukan kembang api. Ledakan dengan percikan api merupakan yang pertama.

Ledakan kedua, hanya terjadi beberapa detik kemudian, diduga berasal dari gudang tak jauh dari lokasi ledakan pertama yang tersulut dari kembang api. Di dalamnya sekitar 2.750 ton amonium nitrat meledak-ledak hingga meninggalkan jejak asap kemerahan dan awan jamur.

Ledakan mengakibatkan persediaan gandum, bahan pangan pokok Lebanon, hanya bertahan hingga sebulan karena silo atau gudang penyimpanan di dekat pabrik telah hancur. Sejumlah negara telah menyampaikan niatan untuk mengirimkan bantuan medis hingga pangan, dari Iran hingga Amerika Serikat.

Kejanggalan Amonium Nitrat

Pemerintah Lebanon kini berfokus pada dua hal. Masa tanggap darurat berupa pencarian orang hilang dan perawatan warga luka serta menginvestigasi penyebab ledakan yang memicu kerugian hingga lima miliar dolar AS.

Menurut Hassan Diab, perdana menteri Lebanon, amonium nitrat terletak di gudang selama enam tahun, sesuai dengan laporan ada kapal pembawa bahan kimia itu dalam jumlah sama yang menurunkan muatan di pelabuhan sama pada 2013.

Amonium nitrat merupakan bahan kimia industri untuk campuran pupuk karena punya unsur nitrogen yang baik untuk tanaman. Tetapi ia juga salah satu komponen utama untuk bahan peledak.

Mengapa ledakan ini begitu luas dampaknya? Gabriel da Silva, dosen senior teknik kimia University of Melbourne, menduga ada kontaminasi bahan bakar minyak sehingga mengakibatkannya mudah meledak dan "itu yang terjadi di Beirut".

Kapal kargo dimaksud membawa amonium nitrat bernama Rhosus berbendera Moldova. Pemiliknya adalah Igor Grechushkin, warga Rusia yang telah menjadi warga negara Siprus. Kapal teregistrasi ke Beirut pada 21 November 2013 dan terakhir terdeteksi beroperasi pada 2014 tanpa jelas di negara mana.

Rhosus berlayar dari Pelabuhan Batumi, Georgia menuju Biera di Mozambik, Afrika membawa 2.750 ton amonium nitrat. Dalam perjalanan, kapal menghadapi masalah teknis yang memaksa kapal berlabuh di Beirut. Setelah otoritas pelabuhan negara memeriksa, Rhosus dilarang berlayar. Selama kapal ditahan, masih ada awak yang tak bisa pulang karena masalah imigrasi dan akhirnya bisa bebas ada permohonan.
Dalam proses hukum itu, muatan kapal dikeluarkan ke gudang pelabuhan atas perintah pengadilan. Pengawasannya di bawah Dewan Pertahanan Tertinggi Lebanon. Di tengah rencana proses lelang dan/atau pemusnahan barang, alih-alih 2.750 ton setara 1.800 TNT meledak hebat.

Presiden Libanon, Michel Aoun mengatakan pemerintah “bertekad untuk menyelidiki dan mengekspos apa yang terjadi sesegera mungkin, untuk meminta pertanggungjawaban dan kelalaian pihak bertanggung jawab dan untuk memberi sanksi hukuman berat kepada mereka.”

Sebuah sumber resmi yang akrab dengan investigasi awal menyalahkan insiden itu pada "kelambanan dan kelalaian", mengatakan tidak ada yang dilakukan "oleh komite dan hakim untuk memerintahkan penghapusan bahan berbahaya.

Kendati demikian muncul klaim dari Otoritas Pabean Lebanon yang telah mengirimkan memo kepada pengadilan sebanyak enam kali untuk mengekspor kembali amonium nitrat, tapi tak pernah dilakukan.

Pemerintah Lebanon berjanji akan transparan dalam penyelidikan yang bakal berlangsung selama lima hari. Pihak-pihak yang bertanggung jawab diminta untuk tinggal di dalam rumah dan bersedia untuk datang ke komite penyelidikan saat dibutuhkan, mengutip laporan media Libanon, LBCI. Hingga kini dalang yang bertanggung jawab atas ledakan terus dicari dalam penyelidikan.


Baca juga artikel terkait LEDAKAN BEIRUT atau tulisan menarik lainnya Zakki Amali
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Zakki Amali
Editor: Abdul Aziz
DarkLight