Miroso

Makanan Indonesia & Ribuan Tahun Narasi Meremehkan Perempuan

Penulis: Rio Apinino, tirto.id - 20 Okt 2022 12:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Makanan, kata Fadly Rahman dalam Jurnal Sejarah (Vol. 2 (I), 2018), adalah salah satu simbol atawa citra dari semangat nasionalisme banyak bangsa.
tirto.id - Baca bagian pertama di sini: Makanan di Rantau Bukan Cuma Soal Mengingat Rumah

Makanan, kata Fadly Rahman dalam Jurnal Sejarah (Vol. 2 (I), 2018), adalah salah satu simbol atawa citra dari semangat nasionalisme banyak bangsa. Bahkan dalam kasus negara-bangsa yang merdeka dari cengkeraman kolonialisme seperti Indonesia, simbol-simbol tersebut sengaja “ditemu-ciptakan.”

Makanan, dalam hal ini, menjadi identitas nasional. Ia menjadi perkara politik elite, bukan lagi cuma pengisi perut kala lapar. Karena itulah dapat dipahami mengapa makanan tradisional menjadi menu wajib dalam pertemuan kenegaraan di Istana Negara, Jakarta; Sukarno menciptakan “minuman nasionalis” bernama Sang Saka–kolang-kaling merah dicampur kelapa muda serut; pemerintahan Jokowi mengampanyekan “Rendang Goes to Europe”; dan orang-orang kebakaran janggut saat Malaysia mengklaim pewaris sah dari rendang.


Tapi saya dan Fildzah mencari rendang atau bakso meski jauh dari tempat tinggal bukan karena kami bangga memiliki negara yang makanannya enak; atau merasa wajib mendatangi dan mempromosikan tempatnya di media sosial agar Indonesia semakin populer.

“Jadi, kenapa kita kok pengin banget makan makanan Indonesia?”

Demikian saya meminta pendapat Fildzah setelah keluar dari Triple Hot Spicy, restoran Indonesia ketiga yang kami datangi selama satu bulan di sini.

“Bukan karena nasionalisme,” katanya dengan mantap.

Dia lantas menjelaskan panjang lebar pandangannya, yang saya sepakati.

Kita terbiasa dikelilingi makanan. Ia ada di mana-mana dan bisa didapat dengan mudah–apalagi saat ini ada aplikasi pesan antar. Kemudian itu semua tiba-tiba hilang karena perpindahan. Kita cenderung resisten terhadap perubahan drastis seperti itu, dan berusaha mempertahankan apa yang dimiliki. Karena itulah para perantau mencari pangan yang khas asalnya meski semua tidak akan benar-benar kembali seperti semula.

“Kita terbiasa taken for granted sama makanan,” kata Fildzah, “baru terasa berarti kalau sudah kehilangan.”


Tapi mencari tidak mesti membeli, bukan? Perantau bisa saja membuatnya sendiri sepanjang segala bahan tersedia dan memiliki keahlian memasak? Tentu tidak keliru, apalagi bisa jadi ongkosnya lebih murah.

Tapi makan juga kerap kali beririsan dengan perayaan tertentu, dan selebrasi selalu bersifat kolektif. Banyak riset telah membahas soal tradisi makan bersama dalam masyarakat Indonesia dan apa fungsi sosialnya. Anda juga barangkali pernah mengalaminya. Dalam konteks saya, itu adalah kebiasaan ngabaso atau ‘makan bakso’ di tengah hari bolong bersama teman rumah dan ibu-ibu mereka sepulang sekolah SD dulu. Selain itu juga ngaliwet yang semua makanannya ditumpahkan memanjang di atas daun pisang.

Alih-alih membuat masakan sendiri, mendatangi tempat yang memang menyediakan panganan khas, bagi kami, adalah juga bentuk perayaan. Kemudian di sana kita berharap mendapat pengalaman kolektif: bertemu dan menjalin komunikasi dengan orang yang berlatar geografi sama dengan kita.

Jawaban berikutnya sesederhana soal preferensi, bahwa mencari makanan Indonesia karena memang itulah yang cocok dengan lidah. Tapi dari alasan sederhana ini kami dapat membicarakan makanan sebagai, mengutip koki sekaligus penulis kuliner populer Anthony Bourdain, “bagian dari gambaran yang lebih luas.”

Preferensi terbentuk dari kombinasi beragam faktor. Susunan genetik bahkan termasuk di dalamnya. Genetik yang unik membuat kadar reseptor di lidah tiap orang juga berbeda-beda. Reseptor inilah yang dapat mengenali rasa dasar–manis, asam, asin, pahit. Sebuah riset menyebut etnis Asia lebih sensitif terhadap rasa karena tingkat reseptor yang tinggi.

Selain biologis, lingkungan juga merupakan faktor yang cukup signifikan, bahkan faktor di atas bisa terpengaruh karena variabel ini. Kita akan lebih mudah menerima makanan ketika ia memang tersedia di lingkungan asal, bukan dari wilayah lain meski masih satu negara (nasionalisme memang kerap menihilkan perbedaan, termasuk soal lidah, atas nama persatuan).

Infografik Miroso Kuliner Indonesia di Inggris
Infografik Miroso Kuliner Indonesia di Inggris, tirto.id/Tino


Lingkup terkecil yang membentuk selera tidak lain adalah keluarga. Dan dalam keluarga, yang paling bertanggung jawab–jika tidak bisa dibilang satu-satunya–tidak lain adalah sosok ibu atau perempuan.

Saya termasuk orang yang lidahnya dibentuk dengan cara demikian, setidaknya sejak 19 tahun pertama sebelum keluar dari rumah. Ibu saya menyediakan masakan untuk tiga kali makan. Karena keadaan membentuk kesadaran, maka wajar jika bagi saya makanan ibu lah–atau yang mirip dengan itu–yang patut dinikmati.

Bahkan ketika sudah tinggal sendiri juga masakan ibu punya pengaruh kuat. Ibu selalu berpesan agar saya memberitahu dulu kalau hendak pulang, semata agar dia bisa menyiapkan makanan khusus yang saya suka. Selain makan besar, tidak jarang tiba-tiba saja sudah tersaji kudapan di meja kerja saat saya mampir sedikit lebih lama. Ketika ditelepon, satu pertanyaan yang tak pernah terlewat adalah “sudah makan belum?”. Saya percaya banyak orang juga demikian.

Itu juga mengapa kita mengenal istilah “perbaikan gizi”, yang biasa dipakai ketika perantau akhirnya bisa merasakan makanan dari daerah asalnya, baik karena memang pulang atau ada dalam sebuah acara khusus. Makanan rumah diasumsikan mampu memenuhi semua kebutuhan tubuh kita, meski itu juga tergantung dengan kekuatan ekonomi masing-masing.

Dengan demikian, setidaknya bagi saya, makanan menjadi perwujudan kasih sayang ibu kepada keluarga, terutama anak-anaknya. Dalam beberapa kasus itu mungkin merupakan satu-satunya cara yang dia tahu. Maka saya menikmati betul makanan Indonesia di luar negeri sebab itulah yang mengingatkan saya dengan rumah, dengan semua pengalaman di masa lalu, dan dengan ibu.

Tapi makanan tidak hanya soal hal-hal yang sifatnya sentimentil. Ia seperti dua sisi koin yang berlawanan. Makanan, dalam hal ini, juga mampu jadi pintu masuk untuk melihat bagaimana tidak setaranya posisi perempuan dalam masyarakat.

Perempuanlah yang membuat dapur menjadi tempat ajaib selama 12 ribu tahun terakhir sejarah manusia, tepatnya sejak era peralihan dari masyarakat berburu dan meramu ke agraris (tidak lagi nomaden, menetap dan bertani). Mereka selalu ada untuk melayani. Mereka yang memberi makan keluarga dalam keadaan apa pun, pada masa damai hingga saat krisis dan perang. Bukan hanya dari mengolah dari bahan mentah sampai memastikan piring kotor kembali ke rak untuk dipakai lagi esok hari, tapi juga kegiatan yang paling hulu. Hampir setengah dari petani di dunia adalah perempuan, dan mereka menanam 70 persen makanan di seantero Afrika.

Maka bukan hanya makanan yang patut dihargai dan tidak boleh diterima begitu saja, tapi terutama siapa yang ada di baliknya.

Meski perannya sulit digantikan, kita justru sering mendengar ungkapan menyepelekan seperti: “ibu tidak bekerja/cuma mengurus rumah.”

Dalam hal ini kerja diasumsikan hanya terjadi di pabrik, kantor, dan jalanan, mendapatkan gaji di akhir bulan setelah dipotong pajak, dan dihitung dalam ekonomi nasional. Seakan memasak, bersama pekerjaan lain dari mulai menyapu, mengepel, mencuci, membersihkan toilet, sampai membesarkan anak bisa diselesaikan hanya dengan menjentikkan tangan.

Tentu saja itu keliru. Keliru besar, bahkan. Semua yang dilakukan perempuan di rumah adalah juga kerja, bahkan kerja 7x24 jam, kerja yang tidak pernah selesai, dan kerja tak berbayar.

Lewat makanan kita mengingat bahwa kerja-kerja perempuan–yang dalam literatur ilmu sosial disebut kerja reproduktif–terus diabaikan, padahal hanya karena itulah masyarakat dan segala sistem di dalamnya masih eksis sampai sekarang.

Makanan pada akhirnya memang bukan sekadar tentang pengisi perut, dan itu semakin disadari ketika kita kian jauh dari rumah. Bourdain bahkan mengatakan bahwa makanan adalah “segalanya tentang kita.”

“Ia merupakan perpanjangan dari perasaan nasionalis, perasaan etnis, sejarah pribadimu, daerahmu, sukumu, nenekmu. Semua tidak bisa dipisahkan sejak awal.”

Saya tidak sepenuhnya sepakat, tapi juga tak menyanggah.

Baca juga artikel terkait MAKANAN atau tulisan menarik lainnya Rio Apinino
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Rio Apinino
Editor: Nuran Wibisono

DarkLight