Miroso

Makanan di Rantau Bukan Cuma Soal Mengingat Rumah

Penulis: Rio Apinino, tirto.id - 19 Okt 2022 10:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Makanan dari tempat asal menjadi lebih bermakna saat di rantau. Ia bahkan bisa mengingatkan pada kerja-kerja perempuan yang diabaikan.
tirto.id - Satu dari tiga koper yang kami bawa untuk melanjutkan hidup di London, Inggris –istri saya, Fildzah, melanjutkan studi di kota ini– isinya penuh dengan bahan pangan yang, tanpa bermaksud mensimplifikasi keragaman, khas Indonesia. Kami membawa belasan renceng sambal terasi; beberapa pak saus pecel; berbungkus cuanki instan; serundeng kelapa; abon rasa sapi dan ayam; dan beragam bumbu jadi. Tujuannya tentu saja agar lidah kami tidak perlu merasakan perubahan yang ekstrem-ekstrem amat.

Masalahnya adalah tidak mudah untuk terus memasak, apalagi kami makan dua sampai tiga kali sehari. Ditambah lagi cukup banyak hal administratif yang harus diurus (terutama soal membuka akun bank lokal yang ternyata sangat sulit). Kadang bosan pula dengan bahan yang serba instan. Akhirnya kami, dengan bekal uang yang pas-pasan dan paket internet, memutuskan berburu makanan Indonesia.

Sayangnya percobaan pertama tidak terlalu berhasil. Tempat makan pertama yang kami datangi di negara ini, yang ketika itu baru kehilangan Ratu-nya, adalah restoran Malaysia, namanya Roti King. Saya memesan nasi lemak, istri memilih daging rendang, dan cah kangkung untuk dimakan berdua. Hanya menu terakhir yang “lolos” lidah kami.


Mengikuti cara merendang ala Malaysia, daging sapi di sini diolah menggunakan kerisik, sejenis rempah yang dibuat dari kelapa. Bahan ini yang membuat bumbu jadi cepat mengering. Hasilnya adalah daging yang, jelas tetap enak, tapi bumbunya tidak terlalu meresap hingga lapisan terdalam. Ini beda dengan cara merendang ala Indonesia yang membiarkan kuah mengering berjam-jam sampai menghitam. Sementara nasi lemaknya terlalu kering dengan sambal yang lebih kuat rasa tomatnya alih-alih cabai.

Tapi toh kami tetap lahap menyantapnya, apalagi itu didapat setelah mengantre lebih dari satu jam di luar ruangan dan di bawah rintik hujan dengan suhu yang sulit ditaklukkan tubuh warga tropis yang menikmati sinar matahari sepanjang tahun.

Itu juga jauh lebih baik ketimbang memakan makanan tradisional Inggris.

Di luar perkara harga yang terlalu mahal bagi pasangan yang tabungannya selama bertahun-tahun bekerja di ibu kota sudah terkuras untuk mengurus visa dan segala tetek bengeknya, plus uang beasiswa tidak langsung turun, kami juga tidak mau coba-coba. Kami mengimani pernyataan seorang kolega yang telah panjang lebar menjelaskan betapa payahnya makanan negara ini beberapa tahun lalu di Tirto. Menurutnya makanan tradisional Inggris itu “biasa-biasa saja–kalau tak mau dibilang buruk.”

Petualangan mencari makanan Indonesia akhirnya mengantarkan kami ke kedai kopi bernama Ngopi UK yang terletak di 78 Dalston Ln, London. Pengguna Google banyak yang mengatakan salah satu kelebihan kedai ini adalah keramahan stafnya, dan kami menyetujui itu. Ketika kami masuk ke kedai yang berlantai kayu, dinding putih, dan bingkai biru tersebut, manajer toko merangkap barista plus koki, Pryandi, langsung menyapa seperti kawan lama menggunakan bahasa Indonesia (mungkin di kening kami ada tato Monas?).

Meski tempat yang saya datangi baru dibuka tahun lalu, Ngopi UK cabang pertama telah membuka pintunya untuk publik di Birmingham sejak Juli 2018. Pendirinya, setelah saya Googling sebentar, bernama Birama Gladiri, seorang lulusan Birmingham City University yang saat di Indonesia punya pengalaman menjalankan bisnis kedai selama tiga tahun.

Infografik Miroso Kuliner Indonesia di Inggris
Infografik Miroso Kuliner Indonesia di Inggris, tirto.id/Tino


Tempat makan, atau juga cocok disebut warung kopi karena asyik untuk nongkrong ini, menjadi alternatif dari kedai berformat waralaba (Starbucks dan kawan-kawannya). Kopi yang disajikan dibuat dari biji yang diimpor langsung dari berbagai tempat di Indonesia, dari mulai Kerinci, Gayo, Flores, Jampit, Cijambu, Cianjur, Bali, sampai Manggarai. Pengunjung bisa membeli biji-biji ini langsung dan menyeduhnya sendiri di rumah.

Tapi kami tidak datang terutama untuk kopi, melainkan makanannya. Ekspresi istri saya ketika seporsi bakso datang sulit sekali dilupakan, apalagi ketika dia mencicipi kuahnya yang disajikan lengkap dengan daun bawang segar dan bawang goreng yang kriuknya masih tersisa meski telah basah.

“Emmh, enak!” katanya dengan semringah dan badan digoyang-goyangkan.

Bakso dengan kuah masih mengepul memang sangat cocok disantap dalam suhu yang saat itu hanya 15 derajat. Saya sendiri memesan batagor yang rasanya tidak kalah dengan batagor yang bisa Anda dapatkan di Bandung. Saus standarnya memang hanya kuah kacang dan kecap, tapi pengunjung bisa meminta tambahan saus cabai.

Kami nongkrong di tempat tersebut kira-kira satu jam. Selama itu cukup sering orang lokal yang berkunjung. Salah satu makanan favorit mereka di tempat ini, tentu Anda bisa tebak, adalah Indomie, baik yang standar dengan beragam pugasan atau dijadikan isi roti panggang. Menu lainnya di antaranya martabak, pempek, dan pisang bakar. Bahkan jika pengunjung datang di akhir pekan, kedai menyediakan menu spesial: ayam penyet!

Meski Ngopi UK adalah satu-satunya kedai yang menyediakan kopi asal Indonesia di Inggris, tapi tempat ini bukan penyedia tunggal makanan Indonesia. Satu lagi tempat makan khas Indonesia yang sudah kami sambangi adalah Pino’s Warung, terletak di Camden Market, London, yang mulai beroperasi di penghujung 2019. Pendirinya adalah Pinondang Martogi Edward Sinaga, seorang perantau yang lahir di Jakarta yang telah malang melintang di dunia kuliner selama 15 tahun.

Jika suasana Ngopi UK cenderung kalem karena terletak di kawasan permukiman, Pino’s Warung mengingatkan kami pada tempat kuliner yang berada dekat atau bahkan di tengah-tengah pasar yang hiruk pikuk orang berlalu lalang, misalnya di Glodok Jakarta atau Suryakencana Bogor.

Wajar saja karena memang mereka ada di salah satu sentra turisme London. Anda bahkan sulit berjalan bebas jika sedang padat-padatnya pengunjung. Mereka berada satu kompleks dengan tempat makan yang juga menawarkan kuliner khas berbagai negara, termasuk tetangga Indonesia seperti Malaysia dan Thailand.

Di sini pengunjung bisa mendapatkan makanan berat seperti lontong sayur, sate, dan nasi Padang. Makan di tempat atau dibawa pulang tak jadi soal. Saya sendiri memesan mie ayam. Mienya lembut dengan kuah yang dibalur merata dan meresap, sementara ayamnya hadir dengan potongan besar-besar dan royal Untuk minuman, pengujung dapat mencicip teh botol, bahkan es cendol. Tersedia pula beragam jajanan pasar yang mengingatkan pada sarapan yang disiapkan ibu sebelum berangkat sekolah.

Makanan dan minuman familier, tempat nyaman, dan staf orang Indonesia adalah kombinasi yang beberapa saat sukses membuat lupa kalau saya sedang mengisi perut di tempat asing, negara yang di masa lalu berpredikat kerajaan imperialis terbesar dalam sejarah manusia.

Bersambung ke bagian dua...

Baca juga artikel terkait MIROSO atau tulisan menarik lainnya Rio Apinino
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Rio Apinino
Editor: Nuran Wibisono

DarkLight