9 November 1967

Majalah Rolling Stone: Sejarah Kejayaan & Kisah Keruntuhan

Oleh: Nuran Wibisono - 9 November 2018
Dibaca Normal 4 menit
Majalah Rolling Stone adalah produk Generasi Bunga yang menggandrungi musik sekaligus melek politik.
tirto.id - 15 April 2013 akan selalu tercatat dalam sejarah Amerika. Hari itu, ribuan orang berkumpul di acara tahunan Maraton Boston. Pukul 02.49, dua bom yang terbuat dari panci presto meledak di dekat garis finish. Suasana kacau. Orang-orang berdarah. Tiga orang tewas, dan ratusan lainnya luka.

Tiga hari kemudian, FBI mengumumkan gambar tersangka: kakak adik Amerika-Kirgistan, Dzhokhar Tsarnaev dan Tamerlan Tsarnaev. Dalam sebuah adegan penyergapan yang melibatkan baku tembak, Tamerlan kena tembak beberapa kali, dan dilindas mobil yang dikendarai Dzhokhar.

FBI kemudian memburu Dzokhar, yang ketika melakukan pengeboman masih berstatus sebagai mahasiswa Universitas Massachusetts Dartmouth. Ribuan polisi dan dilibatkan dalam perburuan ini. Pada malam 19 April, Dzokhar tertangkap sedang bersembunyi di sebuah perahu.

Pada Agustus 2013, majalah Rolling Stone menurunkan laporan utama berjudul “The Bomber: How a Popular, Promising Student Was Failed by His Family, Fell into Radical Islam and Became a Monster”. Ini jelas isu yang menarik. Namun bukan itu masalahnya. Rolling Stone memasang foto setil Dzhokhar di sampul depan, membuat banyak orang berang.

Sersan Sean Murphy dari Kepolisian Massachusetts bilang pemajangan foto itu di sampul depan Rolling Stone adalah tindakan “mengglamorkan wajah teroris, dan tidak hanya menyinggung keluarga korban yang terbunuh, tapi juga bisa menjadi dorongan bagi mereka yang berjiwa labil untuk bikin [teror yang sama] agar bisa muncul di sampul Rolling Stone.”

Sedangkan Wali Kota Boston Tom Menino menulis sampul itu sebagai, “Menghadiahi teroris dengan perlakuan selebritas.”

Perdebatan terjadi, sebab The New York Times memakai foto yang sama pada Mei 2013, tapi tidak menimbulkan kegemparan. Matt Taibbi, kolumnis politik Rolling Stone, mengkritik mereka yang marah pada Rolling Stone tapi tidak marah pada The New York Times. Menurut Taibi, ini semua karena Rolling Stone sudah lekat dengan imaji media yang glamor, kerap dianggap sebagai media yang tidak mengupas isu serius.

“Apa yang dilakukan oleh NYT tidak mengundang kritik keras seperti yang dialami Rolling Stone, karena semua orang tahu Times adalah organisasi berita. Namun tidak semua orang tahu tentang Rolling Stone, tak tahu kalau Rolling Stone juga organisasi berita.”

Produk Generasi Bunga

Pada 1967, Jann Wenner hanya seorang remaja yang kebingungan ditelan euforia Generasi Bunga. Dia tak yakin dengan kuliahnya di Universitas California, Berkeley, dan pada akhirnya memilih untuk keluar pada 1966. Dia kemudian banyak menulis, terutama di majalah kampus. Wenner kemudian bekerja di Ramparts, media penyerang kebijakan pemerintah (muckracker).

Wenner beserta kawan baiknya, Ralph J. Gleason, lantas kepikiran untuk membentuk media populer. Membahas musik, tapi juga bicara soal politik. Apalagi di dekade 1960-an, politik adalah barang penting dan dibicarakan di mana-mana.

“Saat itu aku dan Ralph akan mengeluh, kok bisa tidak ada majalah yang menulis serius tentang rock n roll, tidak hanya musiknya, tapi juga tentang sudut pandang sosial dan kultural. Jadi ketimbang nunggu, kami bikin sendiri,” ujar Wenner.

Dengan utang 7.500 dolar dari keluarga dan calon mertua, dua orang ini kemudian membuat Rolling Stone. “Saat itu aku masih 21 tahun. Masih bocah,” kata Wenner. “Kami bernama Rolling Stone tidak hanya terinspirasi oleh band Rolling Stones, tapi juga lagu Muddy Waters dan lagu Bob Dylan.”

Kantor pertama Rolling Stone adalah ruang gratisan di kantor percetakan. Hanya ada beberapa meja dan sofa di sana. Di bulan-bulan awal, penulisnya hanya Wenner dan beberapa kontributor. Edisi pertama Rolling Stone terbit pada 9 November 1967, tepat hari ini 51 tahun lalu.

Sejak awal terbit, Rolling Stone berformat dua mingguan. Baru pada pertengahan 2018, Rolling Stone berubah format jadi majalah bulanan.

Laporan utama edisi pertama berkisah tentang uang yang hilang di acara festival Monterey Pop. Tema yang serius ini sengaja diambil Wenner untuk menunjukkan bahwa Rolling Stone bukan "sekadar fanzine, kami majalah profesional dengan skill liputan yang bagus."

Sampul pertama Rolling Stone adalah gambar John Lennon yang sedang syuting film produksi Inggris, How I Won the War. Menurut Wenner, tak ada alasan khusus kenapa Lennon dipilih di kover. “Ya karena fotonya bagus saja. Namun fotonya pas, melambangkan musik, film, dan politik, sesuatu yang akan kami tempuh,” ujarnya.

Kelak, pada 5 Desember 1980, John Lennon diwawancarai editor Rolling Stone, Jonathan Cott. Wawancara selama 9 jam itu jadi wawancara terakhir Lennon. Tiga hari kemudian, dia ditembak mati oleh Mark David Chapman.


Ubah Kertas, Pindah Kantor, Ganti Gaya

Pada 1970-an, Rolling Stone menjadi makin besar. Sebelumnya mereka adalah salah satu nama terbesar di jagat penulisan populer, kemudian jadi yang terbesar. Joe Hogan, penulis biografi Jann Wenner, mencermati perubahan ini, yang kemudian diikuti perubahan bahan majalah, lalu pindah kantor.

“Begitulah caramu menarik pembaca. Meningkatkan penampilan, dari kertas murah ke kertas yang glossy, juga pindah dari San Francisco ke Manhattan,” tulis Hogan.

Di era 1970-an, Rolling Stone juga menabalkan diri sebagai media musik yang melek politik. Salah satu penulis yang mengawali tradisi tulisan politik di sana adalah Hunter S. Thompson. Artikel pertama penulis yang melahirkan genre jurnalisme gonzo itu adalah “The Battle of Aspen”, kisah tentang dirinya yang ikut dalam pemilihan kepala sheriff di Colorado.

Di masa itu pula, Rolling Stone melahirkan penulis-penulis yang kelak jadi tenar. Mulai dari Lester Bangs, Joe Klein, Ben Fong-Torres, Greil Marcus, dan tentu saja Cameron Crowe. Dia yang kemudian membuat film Almost Famous, kisah tentang wartawan muda bernama William Miller yang mengikuti band fiktif Stillwater untuk ditulis ke Rolling Stone. Kisah Miller diambil dari pengalaman Crowe ketika mengikuti tur bareng The Allman Brothers, Led Zeppelin, juga Lynyrd Skynyrd.

Pada 1980-an, Rolling Stone kembali memperlebar jangkauannya. Mereka tak hanya mengulik musik, tapi juga budaya hiburan lain. Dari film, hingga kisah selebritas. Itu terus berlanjut hingga 1990-an ketika Rolling Stone mulai berupaya menjaring pembaca muda dari generasi yang berbeda. Maka Rolling Stone banyak menulis tentang acara televisi populer, juga kehidupan aktor dan aktris yang sedang digandrungi.

Samuel Freedman, mantan jurnalis The New York Times dan pengajar di Columbia University Graduate School of Journalism, mengkritik perubahan gaya itu dengan menyebut Rolling Stone telah “menjual kecerdasan mereka.”

Selanjutnya, dari sana memang jalanan terus turun bagi Rolling Stone. Mereka beberapa kali bikin kesalahan besar, walau artikel-artikel investigasi dari Matt Taibbi banyak dipuji. Namun suara sumbang lebih banyak terdengar. Sejak era 2000-an, kritik datang dari pembaca yang menganggap Rolling Stone terlalu condong pada musik era 1960-1970-an.

Infografik Mozaik Rolling Stone Magz


Isu Dzhokhar juga bikin majalah yang pernah terbit di 21 negara—termasuk Indonesia—ini dikritik keras. Pada 2014, Rolling Stone memuat laporan berjudul “A Rape on Campus”, yang mengisahkan tentang dugaan pemerkosaan massal di Universitas Virginia. The Washington Post mengkritik laporan itu, membeberkan kesalahan, ketidakakuratan, juga fakta yang tak dimasukkan dalam tulisan.

Rolling Stone kemudian menerbitkan tiga permohonan maaf resmi atas cerita yang ditulis reporter Sabrina Erdely itu. Will Dana, yang pada 2014 menjabat sebagai Managing Editor, kemudian membentuk komisi investigasi dari Columbia School of Journalism untuk menyelidiki masalah dalam artikel itu.

Namun tindakan itu tak cukup. Rolling Stone banyak digugat, baik oleh perkumpulan mahasiswa Phi Kappa Psi, hingga dari Associate Dean Universitas Virginia, Nicole Eramo.

Meski banyak dikritik keras, Rolling Stone masih tetap berusaha menggelinding. Jann Wenner menjual 49 persen saham majalah ini ke perusahaan Singapura, BandLab. Lalu pada Desember 2017, Wenner Media mengumumkan 51 persen saham sisa sudah dibeli oleh Penske Media, sebuah perusahaan penerbitan media digital. Setelahnya, format Rolling Stone berubah jadi bulanan.

Era baru memang sudah datang. Wenner sudah tak lagi ikut campur perkara Rolling Stone, anak ideologisnya yang dibuat dengan penuh semangat menggebu nan naif ala remaja awal 20 tahun. Kini dia akan melihat dari jauh, seberapa lama lagi Rolling Stone masih bisa menggelinding.

Dalam kolomnya untuk memperingati 50 tahun Rolling Stone yang dia tulis untuk The Guardian, Wenner menuliskan perasaannya, seperti mengabarkan jalanan turun yang akan terus dilewati Rolling Stone.

“Kami tidak akan bisa lebih hebat lagi ketimbang ini. Kami sudah pernah di puncak.”

Baca juga artikel terkait ROLLING STONE atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Ivan Aulia Ahsan