Theresa Mary May

LahirEastbourne, Sussex, Inggris, 1 Oktober 1956
Profesi
Karier
  • Perdana Menteri Britania Raya (2016)
  • Menteri Oposisi Bidang Pekerjaan dan Pensiun (2009-2010)
  • Menteri Dalam Negeri Britania Raya (2010-2016)
Pendidikan
  • St Hugh's College, Oxford

Theresa Mary May adalah seorang Penrdana Menteri Britania Raya dan juga menjabat sebagai Ketua Partai Konservatif sejak Juli 2016. Sebagai tokoh konservatif sebangsa dan konservatif liberal , ia menjabat Anggota Parlemen (MP) dari daerah pemilihan Maidenhead sejak 1997. Pada tahun 1977 hingga 1983, May bekerja di Bank of England, lalu di Association for Payment Clearing Services tahun 1985 hingga tahun 1997.

Setelah kalah pemilu legislatif House of Commons tahun 1992 dan 1994, ia terpilih sebagai Anggota Parlemen mewakili Maidenhead dalam pemilihan umum tahun 1997. May sempat memegang beberapa jabatan di Kabinet Oposisi pimpinan William Hague, Iain Duncan Smith, Michael Howard, dan David Cameron, termasuk Ketua Oposisi House of Commons dan Menteri Oposisi Bidang Pekerjaan dan Pensiun. Ia juga sempat menjabat Ketua Partai Konservatif pada tahun 2002 sampai 2003.

Setelah pembentukan pemerintahan koalisi pasca-pemilu 2010, May ditunjuk sebagai Menteri Dalam Negeri dan Menteri Perempuan dan Kesetaraan (ia mundur dari jabatan ini pada tahun 2012). Setelah Partai Konservatif kembali menang pemilu tahun 2015, May menjadi Menteri Dalam Negeri dengan masa jabatan terpanjang dalam kurun 60 tahun sejak James Chuter Ede, melaksanakan reformasi kepolisian, menerapkan kebijakan obat-obatan terlarang yang lebih ketat, dan membatasi imigrasi.

Setelah Cameron mengundurkan diri bulan Juni 2016, May mengumumkan pencalonan dirinya sebagai Ketua Partai Konservatif dan langsung melesat ke posisi pertama. Dia memenangi pemilihan putaran pertama yang melibatkan anggota parlemen pada tanggal 5 Juli, lalu memenangi putaran kedua dengan 199 suara. Dia bersaing melawan Andrea Leadsom dalam pemilihan yang melibatkan anggota Partai Konservatif.

Pada 15 Januari 2019, PM Inggris ini mengalami kekalahan telak dalam pemungutan suara terkait Brexit di Parlemen Inggris. May hanya memiliki 230 suara, dengan rincian 432 anggota parlemen menolak rencana Brexit dan 202 anggota parlemen mendukung rencana Inggris keluar dari Uni Eropa.