Sri Bintang Pamungkas 

LahirTulungagung, Jawa Timur, Indonesia, 25 Mei 1945
Profesi
Karier
  • Tokoh Pergerakan Reformasi dan Aktivis
Pendidikan
  • SMA Negeri I, Surakarta.
  • jurusan Teknik Penerbangan ITB
  • Teknik Industri, Universitas Southern Carolina (1979)

Sri Bintang Pamungkas dikenal sebagai seorang tokoh pergerakan, reformis, aktivis, politikus dan juga orator dalam masa-masa akhir jabatan dan penggulingan Presiden Soeharto. Ia juga merupakan Pendiri Partai PUDI dan juga pernah menjadi narapidana di Era Presiden Soeharto. Namun, saat Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie menjabat, Sri Bintang Pamungkas dibebaskan.

Sri Bintang Pamungkas memilih "Berjuang untuk demokrasi dan kesejahteraan rakyat" sebagai salah satu rangkaian dari perjalanan hidupnya. Karena keputusanya itulah, tepat pada tanggal 11 Oktober 1996, suaranya lantang menggema di gedung Indonesia Petroleum Club, Jakarta. Bintang saat itu menantang Soeharto untuk berani menggelar pemilihan presiden secara langsung.

Waktu itu Bintang kecewa pada pemilihan presiden oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat yang dimonopoli oleh Soeharto selama puluhan tahun. "Saya mendeklarasikan diri sebagai calon presiden bersama Julius Usman sebagai calon wakil presiden," kata Sri Bintang.

Ribuan poster bergambar dirinya dan calon wakil presiden sekaligus karibnya, Julius Usman, dibagikan ke pengunjung yang memadati ruangan. "Kami berjanji tidak akan menjabat lebih dari dua periode," ujar Bintang menuturkan tulisan yang terpampang dalam poster tersebut. Nyali Bintang tak ciut setelah dihajar dengan dakwaan penghinaan presiden akibat tudingan peristiwa demontrasi menentang Soeharto di Dresden, Jerman, pada tahun 1995

Alasan perbedaan ideologislah yang membuat suami Ernalia Abdul Hak Kesumajaya ini ngotot ingin menjatuhkan Suharto. Selepas pulang dari Amerika Serikat pada tahun 1984, Bintang menerima draf Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ia tak sepakat soal pinjaman luar negeri yang membengkak meski pertumbuhan ekonomi menggeliat. Dari situlah, beragam perlawanan dilancarkan Bintang guna menumbangkan Suharto

Menolak Pemilu

Tahun 1997 adalah awal Bintang menyuarakan Golput, sebelum pemilihan umum calon presiden tahun 1998. Kala itu Bintang menyebar selebaran. Selebaran agitasi tersebut diselipkan dalam kartu lebaran. Isinya, menggemparkan jagad politik nusantara.

"Pertama, kami menolak Pemilu tahun 1997. Kedua, kami menolak Soeharto jadi presiden kembali. Ketiga, kami akan membuat tatanan baru. Tatanan itu, mengubah Undang-Undang Dasar 1945," ujarnya.
Sekitar bulan Maret 1997, Bintang diminta bertemu dengan para intelijen Kejaksaan Agung. Mulanya, ajakan untuk makan dan bersilaturahmi. "Ternyata saya diinterogasi. Waktu mau pulang, saya ditahan, diancam tidak boleh pulang," katanya. Bintang pun dijebloskan ke Rumah Tahanan Kejaksaan Agung. Dua bulan lamanya pria yang saat itu berusia 51 tahun ini mendekam di rutan Korps Adhyaksa. Selanjutnya, Bintang dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang, Jakarta Timur.

Bintang di tahan elama satu tahun 20 hari sejak bulan Mei 1997, perlawanan tak berhenti. Sang istri menggantikan dirinya berorasi di depan publik: melawan Soeharto. Beragam strategi dirancang tiap Bintang bertemu istrinya pada Hari Senin di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan ketika menghadiri sidang dakwaan subversi.

Kondisi politik dalam negeri waktu itu sangat bekecamuk. Kondisi itu bermula saat enam mahasiswa Trisakti dibunuh aparat saat berdemonstrasi pada tanggal 12 Mei 1998. Setelah public mengetahui kondisi di Jakarta, reaksi amarah berlarut dan menyeruak dari berbagai elemen. Solo, Yogya, Malang pecah.

"Saya menyaksikan dari televisi. Soeharto mundur pada tanggal 21 Mei 1998 dan besoknya mengangkat Habibie jadi presiden. Saya segera meminta istri saya menyerahkan surat ke Menteri Kehakiman Muladi untuk membebaskan tahanan," kata Bintang.

Presiden yang baru, Habibie, segera meneken Keputusan Presiden yang memberikan abolisi atau penghentian perkara kepada Bintang atas tuduhan subversi. Bintang pun dilepaskan dari LP Cipinang, pada Selasa tanggal 26 mei 1998, pukul 03.00 WIB.

Kegemaran Bintang membuat gadung pemerintah tak berhenti setelah Suharto lengser.
Presiden terpilih hasil SU MPR 1999, yakni Gus Dur, menjadi giliran Bintang tuk dikritisi. Bintang menilai, Gus Dur tak sepandai Soeharto dalam memimpin negara sehingga anggota majelis yang dipimpin Amien Rais lebih banyak menggunakan kekuasaan absolut tersebut. 

Tak hanya Gus Dur, menurut MPR juga masuk daftar buruk di mata Bintang. Menurut Bintang, ketidaksiapan dan ketidakmampuan Gus Dur untuk meminpin bangsa Indonesia dalam dua tahun terakhir juga karena kesalahan parlemen. 

Tahun 2003, tatkala Pemilu 2004 hendak berlangsung, Bintang kembali mengkapanyekan Golput. Alasanya, "Apa yang dilakukan Soeharto dulu, dijalankan lagi sekarang," Bintang melanjutkan, “Jadi untuk apa ada Pemilu 2004, kalau hasilnya tidak beda jauh dengan Pemilu 1999 yang telah gagal. Malah membentuk Neo Orde Baru sekarang ini," ujar Bintang pada Seminar Nasional "Pemilu 2004 Bisakah Menjanjikan Demokrasi di Indonesia" yang diselenggarakan BEM FISIP Universitas Lampung (Unila) di Bandar Lampung, majalah GATRA, 28 April 2003.

Waktu itu, Bintang mengajak mahasiswa untuk kembali turun ke jalan menggulingkan presiden yang sah. Alasanya, sudah pasti Pemilu 2004 tidak bermanfaat, “kenapa tidak sekarang saja turun ke jalan untuk menggalang kekuatan bersama bagi penggulingan kekuasaan Megawati-Hamzah Haz sehingga dapat segera digantikan pemerintahan sementara,” kata Bintang.

Pemilu kedua pasca reformasi juga diwarnai aktivitas-aktivitas bintang menentang pemerintah. Kala itu, Bintang hendak menggelar Kongres Nasional Golongan Putih (Golput) ke-2, yang rencananya digelar di Gedung Ikatan Alumni (IKA) Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Jalan Singaperbangsa No 1, Kota Bandung. Namun, agenda tersebut digagalkan oleh pemerintah SBY kala itu.

"Kongres Golput ini bukan unjuk rasa kok, masa harus minta izin dulu, saya melihat penolakan kongres ini seperti masa Soeharto," kata Bintang. Sebelumnya, Bintang hendak melaksakan kongres di Yogyakarta.
Kongres Golput di Yogyakarta pun kandas karena dilarang oleh pihak kepolisian. Waktu itu Bintang menolak dimintai keterangan oleh Poltabes Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Ia menyatakan, Kongres Golput yang diadakan kedua kalinya sebagai kekuatan baru.

Tahun 2014, tatakala Jokowi-JK memenangkan Pemilu, Bintang tampil untuk menolak hasil yang ditetapkan KPU. Di usianya yang ke 66 tahun, Bintang bersama Eggy Sudjana mengancam akan menduduki gedung DPR-MPR. Bersama Timses Prabowo-Hata pulalah Bintang mengajukan gugatan ke MK. Usaha Bintang sekali lagi kandas.

Kala itu, Bintang menilai Jokowi-JK adalah antek dan boneka asing. Setelah 16 tahun reformasi, bintang melihat pemegang kekuasaan di negeri ini tetap orang-orang itu saja. Dan sistem yang dipakai tetaplah bobrok.
“Pemilu menjadi tanpa pedoman sehingga semakin besar dapat "diakal-akali" untuk kemenangan rezim yang berkuasa, sehingga setiap rezim berkuasa akan selalu menyelenggarakan Pemilu dengan membuat UU yang berpihak kepada kemenangan rezimnya saja,” tandas Bintang.