Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat

Militer Indonesia
LahirKabupaten Rembang, 13 Mei 1904
ProfesiMiliter Indonesia
Karier
  • Militer Indonesia
Pendidikan
  • Pamong-praja

Soesalit pernah bersekolah di Europe Lager School (ELS). Kemudian ia melanjutkan pendidikan ke Opleiding School voor Inlansche Ambtenaren (OSVIA) atau sekolah untuk pamong-praja pribumi. Sekolah ini berada di Kota Magelang. Lulus dari sekolah Pamong-praja, Soesalit sempat menjadi pegawai negeri di kawasan Jawa Tengah.

Soesalit pernah dididik oleh Jepang dalam Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA). Soesalit dilatih selama tiga bulan di Boe Gyugun Rensentai Bogor sebagai Daidancho PETA.
Berdasarkan catatan singkat Harsya Bachtiar, Soesalit memang pernah menjadi Daidancho PETA Banyumas II di Sumpyuh, Banyumas sejak 1943-1945.

Daidancho adalah pangkat setara mayor atau letnan kolonel—dengan jumlah bawahan sekitar 500 orang di masa lalu dan sekitar 700 hingga 1000 orang di masa sekarang.

Setelah proklamasi 17 Agustus 1945, Soesalit dan bekas tentara sukarela Jepang lainnya bergabung ke Republik Indonesia. Soesalit masuk Badan Keamanan Rakyat yang lalu berubah menjadi Tentara Kemanan Rakyat. Dalam buku Kartini: Sebuah Biografi karya Sitisoemandari Soeroto, disebut Soesalit pernah menjadi Komandan Brigade V Divisi II Cirebon sampai dengan Oktober 1946.

Soesalit disukai oleh Amir Sjarifoedin—waktu itu menjabat Menteri Pertahanan Kabinet Sjahrir. Sementara, salah seorang anggota keluarganya, Abdulmadjid Djojodiningrat menjadi Menteri Muda urusan Sosial di kabinet Sjahrir.

Amir Sjarifoedin bersikeras menjadikan Soesalit sebagai Panglima Divisi III Diponegoro dengan daerah operasi sekitar Kedu (sekitar Yogyakarta) antara Oktober 1946 hingga Maret 1948. Akan tetapi, usulan tersebut ditolak oleh Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo dan Jenderal Soedirman.

Pada akhirnya, Soesalit menjadi panglima Divisi I Diponegoro yang merupakan gabungan antara Divisi II dengan Divisi III pada Maret 1948. Pangkat Soesalit sebelum RE-RA (Rekonsiliasi-Rasionalisasi) Angkatan Perang adalah Jenderal Mayor (setara Brigadir Jenderal dan Mayor Jenderal). Setelah RE-RA 1948 pangkatnya otomatis turun menjadi Kolonel.

Dalam program Re-Ra ini, menurut Abdul Haris Nasution dalam bukunya, Tentara Nasional Indonesia, Soesalit ditunjuk menjadi salah satu anggota Komisi Tiga Jenderal dimana ia dianggap mewakili kalangan bekas PETA dan Laskar, sementara Mayor Jenderal Suwardi mewakili kalangan bekas KNIL dan Kolonel Abdul Haris Nasution mewakili kalangan perwira-perwira muda.

Pada Peristiwa Madiun 1948, sepupu Soesalit yakni Raden Mas Moedigdo—yang menjadi Komisaris Polisi—ikut dihukum mati karena dicap komunis. Pada tahun yang sama Soesalit pernah menolong Soetanti yang merupakan istri dari D.N Aidit. Soetanti disekolahkan sampai ke luar negeri oleh Soesalit hingga menjadi ahli pengobatan.


Setelah Peristiwa Madiun 1948, Soesalit bukan lagi Panglima Tentara di Jawa. Soesalit “diparkir” di Kementerian Pertahanan sebagai Perwira Staf Angkatan Darat. Usianya sudah 44 tahun ketika “dihilangkan giginya.” Peristiwa yang dianggap ulah kaum kiri itu menyeret Soesalit. Selain dia, kakak tirinya, Abdulmadjid yang dianggap kiri pun tak dianggap harum dalam sejarah Indonesia.

Nama Soesalit cukup populer di kalangan laskar-laskar kiri. Namanya disebut dalam sebuah dokumen sebagai “orang yang diharapkan”. Oleh Gubernur Militer Bambang Sugeng, Soesalit dikenai tahanan rumah. Sukarno menyelamatkan Soesalit dari hukuman berat—atas skandal rumit yang menyeretnya. Bagaimana peran Soesalit dalam Peristiwa Madiun sendiri tidaklah jelas. Dia hanya dekat dengan tentara dan pejuang berideologi kiri.

Soesalit lalu menduduki jabatan diluar jabatan penting militer. Sejak Januari 1950, menurut media Belanda Dinsdag 3 Januari 1950, Kolonel Soesalit Djojoadiningrat diangkat sebagai Kepala Penerbangan Sipil. Setelah 1950 jabatan penting militer lebih banyak diisi oleh orang-orang yang lahir di atas tahun 1910-an, seperti Gatot Subroto. Soesalit menikah dua kali. Dengan Raden Ayu Siti Loewijah dan dengan Gusti Bendera Raden Ayu Moerjati.

Dari Siti Loewijah, Soesalit memiliki putra dan putri, antara lain Raden Mas Kartono Boediman Soesalit, Raden Ayu Roekmini Soesalit, Raden Mas Samingoen Bawadiman Soesalit, Raden Mas Rahmat Harjanto Soesalit, Raden Ayu Kartini Setiawati Soesalit, dan Raden Mas Boedhy Setia Soesalit.

Dari Moerjati, yang merupakan putri Susuhunan Pakubuwono IX, Soesalit mempunyai dua keturunan yaitu Raden Ayu Srioerip dan Raden Ayu Sri Noerwati. Soesalit meninggal dunia pada 1962, di usia ke 57 tahun. Soesalit dimakamkan di kompleks makam yang sepi dimana RA Kartini dan keluarganya dimakamkan, di Desa Bulu Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang.