Priyo Budi Santoso

Anggota Anggota DPR RI (1997-1999)
Lahir: Trenggalek, Jawa Timur, Indonesia, 30 Maret 1966
Karir
  • Wakil Ketua DPR RI Wakil Ketua DPR RI (2009-2014)
  • Anggota Anggota DPR RI (2004-2009)
  • Anggota Anggota DPR RI (1999-2004)
  • Anggota Anggota DPR RI (1997-1999)

Priyo Budi Santoso, sosok politisi senior Partai Golkar yang sukses menapaki tangga kekuasaan parlemen. Karier cemerlang Priyo sebagai politisi memang tak lepas dari kerja keras dan keloyalan tinggi terhadap partainya. Rekam jejak pria penggemar batu akik ini sudah diakui oleh koleganya di Golkar bahkan dari partai lain.

Pembawaan supel Priyo membuat dirinya mudah menjalin relasi. Karakter ini sudah dimiliki politisi kelahiran Trenggalek, Jawa Timur, 30 Maret 1966 sejak muda. Ia menjalani dunia pendidikan dimulai dari SD N 1 Karanganom, SMPN 1 Trenggalek, dan SMA Negeri 1 Trenggalek.

Jenjang pendidikan tinggi pun diraihnya, mulai 1992 Priyo kuliah di Jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada. Saat menjadi mahasiswa, ia aktif di berbagai forum dan kelompok-kelompok diskusi kampus.

Dunia kampus menjadi titik awalnya membangun relasi dengan dunia luar. Jangkauan jaringan Priyo lewat aktivitas intelektual dan politiknya tak hanya di lingkup Yogyakarta, namun juga mencapai kota-kota besar lain di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, Surabaya, bahkan hingga ke Padang, dan Makassar.

Walaupun menempuh jalan sebagai seorang aktivis, Priyo tak lantas meninggalkan tanggung jawab akademiknya. Sebagai seorang aktivis yang sibuk, indeks prestasinya cukup baik, hingga mendekati cum laude. Ia punya pemikiran bahwa seorang yang akan menjadi calon pemimpin bangsa harus dibekali dengan ilmu pengetahuan yang luas.

Pengetahuannya selama menimba ilmu di kampus dicurahkan dalam sebuah buku yang mengulas tentang gurita perpolitikan birokrasi selama Orde Baru (Orba) berkuasa. Buku dengan judul “Birokrasi Pemerintah Orde Baru: Perspektif Kultural dan Struktural” diterbitkan oleh Rajawali Press. Bukunya cukup laris, sehingga sempat dicetak ulang beberapa kali. Mutu dari isi buku tersebut sempat juga disampaikan oleh Guru Besat Ilmu Administrasi Negara UGM, (alm) Prof. Dr. Moeljarto Tjokrowinoto, yang menilai sebagai karya terlengkap yang mengupas politik birokrasi ala Orba.

Priyo sempat menempuh karier sebagai akademisi, antara lain jadi Ketua Departemen Publikasi CIDES periode 1993-1996, menjadi dosen FISIP Universitas Nasional di Jakarta sekaligus dosen FISIP Universitas Islam 45 di Bekasi selama 2 tahun. Bekal akademis dan jaringannya selama di kampus membawa Priyo menapaki tangga dunia politik yang cemerlang.

Secara berturut-turut, Priyo menjabat sebagai anggota DPR selama tiga periode. Pada periode 2009-2014, ia berhasil menduduki posisi sebagai Wakil Ketua DPR-RI. Kepiawaiannya memimpin sidang serta terbangunnya citra yang baik di mata masyarakat membuat Priyo pernah terpilih sebagai Politisi Pria Terpopuler 2010 di Parlemen Senayan versi Uvolution Indonesia bekerja sama dengan portal Inilah.com. Ia juga didaulat sebagai Tokoh Terpopuler 2010 kategori Lembaga Legislatif oleh Charta Politica.

Karier Priyo di Partai Beringin termasuk cemerlang. Ia adalah salah satu kader partai yang paling loyal. Loyalitasnya diganjar posisi-posisi yang cukup penting, seperti Sekretaris Korwil VII DPP Partai Golkar sejak 1998, Wakil Sekjen DPP Partai Golkar periode 2004-2009. Priyo juga pernah menduduki kursi Ketua Partai Golkar. Namanya tak kalah disandingkan dengan senior-seniornya di Golkar antara lain Akbar Tandjung, Agung Laksono, dan Aburizal Bakrie.

Loyalitasnya terhadap Golkar membuat Priyo terseret dalam konflik dualisme kepemimpinan Partai Golkar. Partai beringin ini terpecah menjadi dua kubu, yaitu kubu Munas Bali yang dipimpin oleh Aburizal Bakrie dan Kubu Munas Ancol yang diketuai Agung Laksono.

Priyo termasuk generasi muda Golkar yang menghendaki perubahan yang progresif di tubuh partainya. Ia merapat ke kubu Agung Laksono. Namanya juga disebut-sebut sebagai salah satu calon ketua umum Golkar, karena unggul dalam populeritas hasil survei.

Priyo gagal melenggang kembali ke Senayan sebagai anggota DPR RI periode 2014-2019. Pasca kegagalannya, ia kembali aktif di lembaga kajian yang didirikannya yang bernama Priyo Budi Santoso for Democracy.

Untuk urusan waktu luang, Priyo memiliki berbagai kegiatan. Selain menjadi Ketua Umum Karate Indonesia, ia masih menyalurkan hobi lamanya mendaki gunung.

Sentimen Terkini
History Sentimen
Positive
Neutral
Negative
Oktober 2019
Data diambil dari 500 top media online dan 31 sentiment publik
87%
13%
September 2019
Data diambil dari 500 top media online dan 36 sentiment publik
56%
11%
33%
DarkLight