Otto Cornelis Kaligis

Pengacara Law Firm O.C Kaligis & Associates
Lahir: Makassar, 19 Juni 1942
Karir
  • Pengacara Law Firm O.C Kaligis & Associates
Pendidikan
  • Fakultas Filsafat Universitas Rheinish Westfalische Technische Hochschule
  • Pendidikan Keterampilan Kenoktariatan Universitas Indonesia
  • Fakultas Hukum Universitas Parhyangan Bandung
  • SMA St. Petrus Claver, Makassar
  • SMP St. Petrus Claver, Makassar

Pada 18 November 2015 pembacaan tuntutan kepada Otto Cornelis Kaligis (OC Kaligis) dilaksanakan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta. Dalam tuntutan tersebut, Jaksa Penuntut Umum menuntut hukuman 10 tahun penjara dan denda 500 juta ditujukan kepada pengacara kondang itu. OC Kaligis dianggap terbukti menyuap hakim dan panitera Pengadilan Tata Usaha Negara di Medan, Sumatera Utara. Penyuapan itu dinilai untuk mengabulkan gugatan atas surat penyelidikan dan surat panggilan permintaan keterangan Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara terkait dugaan korupsi dana bantuan sosial.

Sebelumnya yakni pada 14 Juli 2015, pengacara kondang Otto Kornelis Kaligis (O.C Kaligis) ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus dugaan suap hakim dan panitera Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN)di Medan, Sumatera Utara. Adapun jumlah uang dugaan suap tersebut sebesar 27 ribu dolar AS dan 5 ribu dolar Singapura. Sebelum penetapan tersangka ini, KPK terlebih dahulu meminta izin Direktur Jenderal Imigrasi melakukan pencegahan ke luar negeri atas nama OC Kaligis.

Otto Cornelis Kaligis kelahiran 19 Juni 1942 di Makassar, Sulawesi Selatan. Jam terbangnya di bidang hukum terbilang tinggi karena sudah bertahun-tahun menangani sekian banyak kasus. Usai meriah gelar sarjana hukum di Universitas Parahyangan Bandung, Kaligis langsung menjalani magang menjadi asisten notaris Tumbunan yang berkantor di Jalan Pegangsaan. Setelah masa magang berakhir, Kaligis naik pangkat menjadi asisten notaris di kantor tersebut.

Tak hanya berkiprah di dalam negeri, Doktor lulusan Universitas Padjajaran tahun 2009 ini juga menangani sekian banyak kasus mancanegara. Di anataranya kasus Australian Diary Corporation, Kebun Bunga di Melbourne, Mohammad Said (Pilot Garuda) di Belanda, Hendra Rahardja di Sidney, Garnett Investment di Guernsey, Swiss, dan Sonira Foundation di Leichtenstein.

Pada 1999 OC Kaligis mendirikan Minahasa Law Center (MLC) yang diperuntukkan bagi kepentingan oendidikan di Minahasa. Kaligis juga mendirikan Law Firm OC Kaligis & Associates yang berkantor di Jalan Majapahit, Petojo Selatan, Gambir Jakarta Pusat. Dia kemudian dikukuhkan sebagai guru besar pada 8 November 2008 di Universitas Negeri Manado (UNIMA) dan aktif mengajar di banyak tempat seperti SESPIM Polri dan SESPATI Polri. Selai itu dia juga mengajar di Lemhannas dan juga menjadi penguji di Universitas Airlangga untuk program Doktoral. Dalam menjalankan karirnya, Kaligis mengusung motto Age Quod Agis, sebuah ungkapan dalam bahasa Latin yang berarti lakukanlah sebaik-baiknya apa yang sedang kau lakukan sekarang.

Kaligis juga dikenal sangat produktif menerbitkan berbagai buku di bidang hukum. Sudah puluhan buku diterbitkannya dan menjadi rujukan penting dalam studi hukum di berbagai universitas di Indonesia. Ada buku-buku Kaligis yang dierjualbelikan di toko buku, ada pula yanghanys diterbitkan terbatas untuk studi hukum. Keterlibatannya dalam kasus suap tersebut dengan cepat mencoreng riwayat karir hukum Kaligis yang panjang. Perkara ini bermula dari penyidikan kasus korupsi Dana Bantuan Sosial dan Bantuan Daerah Bawahan (BDB) Sumatera Utara tahun anggaran 2012 dan 2013 yang menyeret mantan Kabiro Keuangan Sumut Ahmad Fuad Lubis.

DarkLight