Nurul Atik

LahirJepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Indonesia, NaN undefined NaN
Profesi
Karier
  • Pemilik Rocket Chicken

Bekerja sebagai petugas kebersihan merupakan awal mimpinya untuk hidup mandiri dan dapat membiayai kuliah. Namun, karena kesibukannya bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah restoran cepat saji di Semarang, Nurul Atik harus mengubur impiannya dalam-dalam untuk melanjutkan pendidikannya. Ia malah membangun sendiri usaha makanan cepat saji yang kini kian berkembang yakni. Rocket Chicken. Pria asal Jepara ini menapaki kesuksesan dari jalan berliku. Kini, ia memiliki 83 mitra di seluruh Indonesia. Ia mendapat pembayaran biaya royalti hingga Rp 100 juta dari para mitra.

Nurul Atik lahir di Jepara, Jawa Tengah, 25 Juni 1966. Kisah Nurul dalam menapaki dunia kerja berawal ketika ia lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA), 20 tahun lalu. Lantaran ingin meringankan beban orang tua, Nurul pun berencana untuk melanjutkan kuliahnya dengan biaya sendiri. Sempat menganggur selama setahun mencari pekerjaan, Nurul akhirnya diterima bekerja di California Fried Chicken (CFC) di Jalan Pemuda, Semarang, Jawa Tengah. Nurul bekerja sesuai dengan profesi yang dibutuhkan pada saat itu, yakni sebagai petugas kebersihan.

Gaji pertama Nurul sebagai cleaning service pada saat itu hanya Rp 35.000 per bulan. Ia harus membagi gaji itu untuk kebutuhan makan, kos, dan biaya transportasi. Dengan jumlah gaji yang pas-pasan tersebut, sering ia harus berutang pada rekan-rekannya di CFC. Untuk menghemat biaya hidup, Nurul pun harus mencari tempat kos yang jaraknya sekitar 5 kilometer dari tempatnya bekerja. Tak jarang dengan alasan pengiritan, ia memilih berjalan kaki sampai 1 kilometer. Karena kinerjanya yang bagus, ia kemudian diangkat menjadi pegawai tetap. Selang 3 bulan berjalan, akhirnya Nurul diangkat menjadi tukang cuci piring selama 4 bulan.

Ia cepat bergeser ke posisi juru masak selama 4 bulan. Lantaran kinerjanya semakin hari semakin baik, Nurul diangkat lagi menjadi kasir selama 6 bulan. Tak hanya sampai di situ, Nurul lalu naik pangkat menjadi seorang supervisor selama 1 tahun. Nurul juga mengecap posisi sebagai asisten manajer selama 2 tahun di perusahaan yang sama. Karena kekosongan di bagian audit, Nurul kemudian menggantikan posisi tersebut selama 3 bulan. Tak memerlukan waktu yang lama baginya untuk mengecap posisi manajer areal selama dua tahun.

Posisi manajer areal mengharuskan Nurul berkeliling dari kota satu ke kota yang lain untuk memberikan pelatihan kepada karyawan-karyawan baru mulai dari berbagai kota di Jawa Tengah seperti Semarang, Magelang, dan Solo, hingga Yogyakarta. Dengan kesibukannya bekerja di restoran cepat saji tersebut, Nurul mengubur dalam-dalam impiannya untuk melanjutkan pendidikan sampai jenjang perguruan tinggi. Namun, ada banyak hal yang ia banyak mendapat ilmu dari rekan-rekannya yang berkerja di tempat tersebut, dari mulai menghargai hidup sampai pada pengelolaan restoran.

Jiwa wirausaha dalam dirinya pelrahan-lahan mulai muncul. Meskipun posisinya cukup baik di tempat kerjanya, keinginan Nurul untuk membuka usaha sendiri rupanya tak pernah padam. Puncaknya terjadi ketika krisis keuangan melanda Indonesia pada 1998, Nurul memutuskan keluar dan membuat usaha sendiri. Nurul merasa waktu 10 tahun bekerja sudah cukup untuk berguru di restoran cepat saji Amerika Serikat itu.

Pada saat yang sama, seorang kawan mengajak Nurul membuat restoran makanan cepat saji yang mengusung ayam goreng sebagai menu utamanya (fried chicken). Ide tersebut muncul karena pada waktu itu membuka restoran cepat saji atau fast food sedang menjadi tren di kalangan masyarakat. Berbekal pengalamannya, Nurul mantap menerima ajakan temannya. Ia kemudian bertindak sebagai pengembang bisnis, sementara temannya mengurusi permodalan. Usaha keras mereka membawa hasil. Bisnis mereka cepat mengembang. Saat ini, Nurul telah memiliki 86 cabang.

Seiring berjalannya waktu, Nurul kembali merasa gelisah. Ia berkeinginan membuka bisnis dengan membuat restoran fried chicken sendiri. Kali ini dengan potensi pasar yang berbeda dengan usaha sebelumnya yang menyasar pasar menengah atas. Pilihannya jatuh ke pasar menengah bawah. Selain pasarnya lebih besar, segmen tersebut juga belum tersentuh restoran fast food lokal maupun asing. Pada 21 Februari 2010, Nurul lantas mendirikan usaha sendiri dengan nama Rocket Chicken di Jalan Wolter Monginsidi, Semarang.

Beragam paket makan yang ditawarkan Rocket Chicken, mulai dari paket ayam goreng, nasi, es lemon tea dengan harganya Rp 6.000, sampai paket chicken steak dan es lemon tea dengan Rp 8.000. Dalam kurun waktu 2 tahun gerai Rocket Chicken menjadi lebih dari 100 unit, 6 unit di antaranya dimiliki oleh Nurul sendiri, yakni dua gerai di Jawa Tengah, serta dua gerai lagi di Jawa Timur.

Dari 6 gerai tersebut, Nurul mempekerjakan 84 karyawan. Ia juga memiliki 12 petugas kontrol, serta 13 karyawan di kantor Rocket Chicken. Dari enam gerai tersebut, Nurul bisa menghasilkan omzet sebesar Rp 90 juta per bulan. Nurul juga memiliki sumber pendapatan dari biaya royalti yang harus dibayar mitranya tiap bulan sebesar Rp. 100 Juta. Atas kerja kerasnya membangun bisnis tersebut, Nurul menerima Leader Market 2012 dari Menteri Perindustrian Republik Indonesia.