Muhammad Nazaruddin

Anggota DPR (2009-2014)
Lahir: Bangun, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, Indonesia, 26 Agustus 1978
Karir
  • Anggota DPR (2009-2014)

Masih segar dalam ingatan, ketika Nazar mendadak muncul ke permukaan tersandung kasus besar lalu menyebut sekian banyak petinggi Partai Demokrat yang terlibat dalam kasus korupsi. Muhammad Nazzarudin Dilahirkan di Bangun, Simalungun, Sumatera Utara pada 26 Agustus 1978. Nazar adalah anak kelima dari tujuh bersaudara dari pasangan Muhammad Latif Khan dan Aminah, yang keduanya merupakan warga keturunan Pakistan. Mulanya Nazar dinamai Muhammad Nazaruddin Khan, tetapi kemudian ayahnya memutuskan untuk menghapus nama belakang putranya tersebut. Orang tua Nazaruddin memiliki usaha yang cukup berhasil di daerahnya. Namun, usaha keluarga mereka mulai menurun pendapatannya setelah ayah Nazaruddin meninggal pada tahun 1993. Ibunya menyusul berpulang pada tahun 1998. Setelah lulus SMA, Nazaruddin pergi merantau.

Namanya semula dikenal sebatas sebagai pengusaha sukses bidang pengadaan alat kesehatan, konstruksi, perkebunan, dan jasa. Aktivitas bisnisnya ini dimulai pada tahun 2002. Kala itu Nazar memulai bisnisnya dengan membentuk sebuah CV bernama Anak Negeri di Pekanbaru, Riau. Bakat wirausaha rupanya diturunkan oleh ayahnya. Belum lama Nazzarudin memulai bisnis, ia sudah tercatat sebagai komisaris di beberapa perusahaan, seperti PT. Anugerah Nusantara, PT. Panahatan, dan PT. Berhak Alam Berlimpah. Perusahaannya sendiri pun telah berganti menjadi PT. Anak Negeri.

Namanya baru santer diberitakan media massa dan mendadak terkenal saat terungkap keterlibatannya dalam kasus suap pembangunan Wisma Atlet Sea Games XXVI Palembang. Namanya disebut oleh Mindo Rosalina Manulang ketika tersangka kasus suap ini menghadiri persidangan. Nama Nazar sebelumnya tak pernah hadir dalam dunia politik dan kala itu usianya yang masih amat muda . Setelah ditelusuri lebih jauh, rupanya awal masuk Nazar di bidang politik dimulai pada tahun 2004. Nazar mencoba peruntungan untuk mencalonkan diri sebagai anggota legislatif melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Sayang, usahanya terhenti karena ia gagal memperebutkan kursi untuk duduk di Senayan kala itu.

Tak puas dengan hasil pemilihan calon legislatif tahun 2004, Nazar kembali mencalonkan diri menjadi anggota DPR periode 2009-2014. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Nazar mencalonkan diri dari Fraksi Partai Demokrat dengan Daerah Pemilihan Jawa Timur IV. Tidak seperti periode sebelumnya, Nazar berhasil melenggang di Senayan dengan apik. Kala itu, loyalitas Nazar di Partai Demokrat dipuji-puji sehingga disebut-sebut karena hal itulah Nazar ditunjuk sebagai Bendahara Umum Partai Demokrat oleh Presiden SBY pada tahun 2010.

MAsuknya Nazaruddin ke dalam Partai Demokrat tak terlepas dari peranan Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat Jhonny Allen Marbun. Menurut aktivis Partai Demokrat Sumatera Utara, Daniel Sinambela, Nazar masuk Partai Demokrat tahun 2007. Saat itu Jhonny Allen menjadi anggota DPR dari Partai Demokrat. Nama Jhonny Allen dikait-kaitkan dengan kasus proyek dana stimulus untuk infrastruktur perhubungan di kawasan timur Indonesia.Menurut Daniel, Nazar adalah orang kepercayaan Jhonny Allen. Saat itu banyak usaha yang dijalankan Jhonny dipercayakan kepada Nazar. Daniel Sinambela bahkan menyebut Nazar sebagai tangan kanan Jhonny Allen. Namun keduanya belakangan pecah kongsi sampai beperkara di polisi. Daniel kini mendekam di LP Cipinang gara-gara laporan Nazar.

Terkait kedudukan Nazar sebagai bendahara partai Demokrat, Marzuki Alie mengungkapkan bahwa Anas Urbaningrum adalah orang yang paling berperan penting. Seperti yang dilansir dari Sindonews.com, Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Ketua Dean Pembina Partai Demokrat sudah mengingatkan Anas untuk tidak menempatkan Nazaruddin pada posisi tersebut. Pasalnya, SBY memandang Nazaruddin adalah orang yang bermasalah dan sangat beresiko untuk menempatkannya pada posisi sestrategis itu.

Kedekatan dengan Anas ini memang diakui kebenarannya oleh Nazaruddin. DIkutip dari portal Suara.com, Nazar mengaku sengaja menjaga loyalitasnya pada Anas Urbaningrum untuk mengejar karir politiknya. Hal ini terbukti saat Anas menjadi Ketua Fraksi Partai Demokrat, Nazar pun terpilih menjadi bendahara fraksi Demokrat. Kemudian, ketika Anas naik menjadi Ketua Umum Partai Demokrat, Nazar diangkat menjadi Bendahara umum Partai Demokrat. Kedekatan ini dimulai sejak 2005 saat Anas masih menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum. Setelah itu keduanya mendatangi Kongres Demokrat di Bali, kemudian Anas masuk menjadi pengurus partai.

Relasi di antara keduanya membuat Nazar mengetahui banyak hal tentang Anas yang selama ini tidak diketahui publik. Salah satunya adalah ambisi besar Anas Urbaningrum untuk menjadi presiden yang sudah dia rancang sejak tahun 2005.

DarkLight