Muhammad Fadjroel Rachman

Komisaris PT Adhi Karya (Persero) Tbk (2015)
LahirBanjarmasin, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia, 17 Januari 1964
ProfesiKomisaris PT Adhi Karya (Persero) Tbk (2015)
Karier
  • Peneliti, penulis, pengamat politik Peneliti, penulis, pengamat politik
  • Komisaris PT Adhi Karya (Persero) Tbk (2015)
Pendidikan
  • Jurusan Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB)
  • Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Bidang Manajemen Keuangan dan Moneter, dan saat ini sedang menempuh program
  • S3 Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (2008) (2008)

Muhammad Fadjroel Rachman dikenal sebagai seorang mantan aktivis mahasiswa di tahun 1980-an, pengamat politik, dan peneliti. Ia akif di Research Institute of Democracy and Welfare State atau Pengkajian Demokrasi dan Negara Kesejahteraan (Pedoman Indonesia) dan memiliki jaringan kerja sama skala internasional di Southeast Asian Forum for Democracy dan Asia Pasific Youth Forum.

Fadjroel Rachman adalah putra asli Banjarmasin, Kalimantan Slatan, yang lahir pada tanggal 17 Januari 1964. Usai menamatkan sekolah menengahnya, ia merantau ke tanah Jawa dan diterima di Jurusan Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB). Studi lanjutnya agak agak menyimpang dari sebelumnya. Program Pasca Sarjana dan S3-nya di Bidang Manajemen Keuangan dan Moneter, Fakultas Ekonomi UI.

Selama masih berproses sebagai mahasiswa di jenjang strata 1, Fadjroel aktif di pergerakan mahasiswa dan asyik melahap beragam macam buku yang membakar semangatnya dalam melawan kesewenang-wenangan rezim Orba yang kala itu mulai menancapkan pengaruhnya, terutama di kampus dengan kebijakan NKK-BKK.

Pembelaaannya terhadap rakyat marjinal terlihat jelas di tahun 1987-1989 atau tiga tahun setelah kuliah, Fadjroel dan kawan-kawannya sesama aktivis melakukan advokasi bagi petani Kacapiring dan Badega. Fadjroel juga pernah ditunjuk untuk menjadi komandan lapangan aksi long march sejauh 60 km dari ITB menuju Cicalengka yang akhirnya dibubarkan oleh polisi dengan peluru karet.

Namun yang paling berkesan adalah aksinya bersama kawan-kawan aktivis lain yang mengelar aksi penolakan terhadap kedatangan Menteri Dalam Negeri Rudini ke ITB karena Fadjroel menganggap Rudini adalah antek Soeharto yang saat itu sudah ia benci setengah mati. Buntutnya, ia dan lima orang lain ditangkap dan mendekam di tahanan Bakorstranasda selama satu tahun sebelum akhirnya dijatuhi hukuman tiga tahun penjara.

Tahun 1989, didorong keprihatinannya pada kondisi demokrasi Indonesia, ia terlibat Gerakan Lima Agustus ITB yang menuntut penurunan Soeharto. Akhirnya ia ditetapkan sebagai tahanan politik dan sempat pindah-pindah penjara hingga enam kali termasuk di Nusa Kambangan. Keluar dari penjara, ia memilih berkarier sebagai asisten manajer Grup Bukaka namun hanya tiga tahun.

Ia kemudian merintis usaha sendiri sambil menjalani kuliah pasca sarjana di UI. Ia masuk sebagai anggota presidium Forum Wacana UI dan bersama-sama ribuan mahasiswa lain menuntut turunnya Soeharto, hingga puncaknya di tahun 1998 cita-citanya pun terwujud.

Selepas rezim Orba tumbang, ia masih aktif di beberapa lembaga think tank maupun turut mendirikannya. Selain itu ia juga aktif menjadi presenter acara talkshow di beberapa radio dan televisi selain terkadang menjadi narasumber ekonomi-politik-hukum di beberapa swasta.

Ia dikenal kritis selama SBY berkuasa selama dua periode. Usai membantu memenangkan Jokowi menjadi Presiden, sejak 2015 ia menjabat sebagai Komisaris Utama PT Adhi Karya (Persero) Tbk. Sebuah BUMN yang bergerak di bidang konstruksi. Penunjukannya pun menimbulkan pro dan kontra. Ia disebut tak lagi kritis, dan bahkan disebut penjilat penguasa demi jabatan enak.