Muhammad Arum Sabil

Ketua APTRI (Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia) (2003)
Lahir: Jember, Jawa Timur, Indonesia, 20 Juni 1966
Karir
  • Ketua Gabungan Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia (GAPPERINDO) Jatim
  • Ketua APTRI (Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia) (2003)
Pendidikan
  • SMU PGRI Tanggul

H.M. Muhammad Arum Sabil adalah Ketua Dewan Pembina Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI). Arum Sabil lahir pada 20 Juni 1966 di Desa Manggisan ( Wil Perkebunan Kalitengah) Kec. Tanggul  – Jember.

Setelah lulus SD tahun 1980, Arum kemudian melanjutkan sekolah ke SMP Bina di Tanggul Kulon, tentu saja dengan biaya mandiri. Pada saat duduk dibangku SMP, usahanya sudah berganti menjadi tukang foto keliling di luar jam sekolah.

Kemampuan memotret terus diasahnya. Dari modal kamera sederhana itu dan tuntutan untuk bisa melanjutkan sekolah, Arum banyak belajar menyiasati untuk bisa membuat banyak foto dari satu film dengan cara manahan jepretan dan menutup sisanya dengan kertas kemudian hasilnya dipotong. Menggunakan cara itu, ternyata Arum mendapat keuntungan dua kali lipat dari biasanya.

Selepas lulus SMP, ia melanjutkan sekolah di SMU PGRI Tanggul. Sewaktu duduk di bangku SMA, Arum terbilang sebagai siswa yang rajin. Dengan keterbatasan me­nyerap pelajaran, ia tercatat sebagai aktivis pramuka paling aktif.

Cita-cita Arum sejak kecil ingin menjadi sinder per­kebunan rupanya terus menggelora dalam hatinya. Maka ketika lulus SMA, Arum melamar kerja ke PTPN XXIII (kini PTPN XII). Hanya saja posisi yang tersedia baginya ketika itu adalah sebagai pengamat hama dan penyakit tanaman.

Ketika itu, Arum hanya sempat bertahan selama setahun di posisinya dan memutuskan keluar dari perusahaan tersebut.

Merasa masa depannya tidak cukup terbuka luas dengan hanya meretas karir di perusahaan milik BUMN, Arum akhirnya bertekad mencoba hidup baru diperantauan.

Sekalipun belum diketahui secara pasti akan kerja apa dan siapa yang akan dituju, pada tahun 1987 Arum hijrah ke Kalimantan dan mencoba keberuntungan di PT. HAS Farm, sebuah perusahaan perkebunan besar milik swasta dengan komoditas unggulan tanaman kakao dan karet.

Arum akhirnya diterima di PT itu dan memulai kerja sebagai tukang tebas atau babat alas (hutan). Di perusahaan inilah, Arum banyak me­nimba ilmu dan pengalaman dan karirnya terus menanjak. Se­telah melihat kinerja Arum, dua tahun kemudian, perusahaan memberinya posisi sebagai mandor besar, sampai akhirnya dia memutuskan untuk mengundurkan diri pada tahun 1990 karena perusahaan merugi, untuk kemudian bergabung di PT. Barito Pacific Timber (1990-1992) milik Prayogo Pangestu, juragan kayu dari Singkawang.

Di penghujung tahun 1992 memutuskan untuk mengundurkan diri dari PT. Barito dan mudik ke Tanggul untuk menekuni pekerjaan sebagai petani tebu.

Pada awalnya, Arum memulai usaha tani tebu dengan modal awal lahan kebun seluas 0,5 hektare. Tentu saja usahanya mengalami pasang surut produksi. Namun pengalamannya sebagai pengamat hama dan penyakit tanaman di PTPN XXIII dan ilmu perkebunan yang diperolehnya selama bekerja di PT. HAS Farm, petani muda tersebut terus meraih kemajuan.

DarkLight