Muhammad Amien Rais

Ketua Umum Partai Amanat Nasional (1998 - 2005)
LahirSolo, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia, 26 April 1944
ProfesiKetua Umum Partai Amanat Nasional (1998 - 2005)
Karier
  • Anggota Grup V Dewan Riset Nasional (1995-2000)
  • Ketua Ketua Muhammadiyah (1995-2000)
  • Ketua MPR RI (1999-2004)
  • Asisten Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (1991-1995)
  • Dosen FISIP UGM (1969-1999)
  • Ketua Umum Partai Amanat Nasional (1998-2005)
Pendidikan
  • S1 Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM
  • S1 Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga
  • S2 di Universitas Notre Dame
  • S3 Ilmu Politik, Universitas Chicago, Amerika Serikat

Nama Amien Rais mulai muncul di dunia perpolitikan Indonesia pada saat akhir pemerintahan Presiden Soeharto. Ia merupakan salah satu orang yang kritis terhadap kebijakan–kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Setelah partai-partai politik mulai dihidupkan kembali pada masa pemerintahan Presiden Habibie, Amien Rais ikut mendeklarasikan Partai Amanat Nasional (PAN) dan ia bertindak sebagai ketua umum sampai dengan tahun 2005.

Tokoh yang lahir di Solo, Jawa Tengah pada tanggal 26 April 1944 ini mempunyai nama lengkap Muhammad Amien Rais adalah politikus Indonesia yang pernah menjabat sebagai Ketua MPR periode 1999 – 2004. Ia memegang jabatan ini sejak dipilih oleh MPR pada pemilu bulan Oktober tahun 1999.

Amien Rais pernah dijuluki King Maker oleh sebuh majalah karena besarnya peran Amien Rais dalam penentuan jabatan Presiden pada sidang umum MPR tahun 1999 dan 2001 padahal perolehan partainya tidak sampai 10% dalam pemilu 1999.

Pendidikan Amien Rais banyak ditempuh di luar negeri. Sejak lulus sarjana dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada tahun 1968 dan lulus Sarjana Muda Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta pada tahun 1969, ia pergi ke berbagai negara dan baru kembali tahun1984 dengan menggenggam gelar Master pada tahun 1974 dari Universitas Notre Dame, Indiana dan gelar doktor ilmu politik dari Universitas Chicago, Illinios, Amerika Serikat.

Amien Rais menjadi dosen di Universitas Gadjah Mada setelah ia kembali ke tanah air. Ia juga aktif dalam Muhammadiyah ICMI, BPPT dan beberapa organisasi lain. Pada era menjelang keruntuhan Orde Baru, Amien adalah cendekiawan yang berdiri paling depan sampai mendapat julukan Lokomotif Reformasi.

Amien membentuk Partai Amanat Nasional pada tahun 1998 dengan platform nasionalis terbuka. Ketika hasil pemilu 1999 tak memuaskan bagi PAN, Amien masih mampu dan berhasil menjadi Ketua MPR. Pada tahun 2006, Amien turut mendukung evaluasi kontrak karya terhadap PT. Freeport Indonesia. Setelah terjadi peristiwa Abepura, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Syamsir Siregar secara tidak langsung menuding Amien Rais dan LSM terlibat di balik peristiwa tersebut. Tetapi pada akhirnya dibantah oleh Syamsir Siregar.

Pada Tahun 2007 Amien mengakui bahwa ia menerima dana non bujeter Departemen kelautan dan perikanan dari menteri Perikanan dan Kelautan, Rokhim Danuri sebesar Rp200.000.000 pada saat pemilu pemilihan Pesiden RI tahun 2004 . Amien Rais pun menuduh bahwa pasangan–pasangan lain pun menerima dana tersebut termasuk Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla pada saat itu.

Amien Rais urung mencalonkan dirinya sebagai calon Presiden RI pada tahun 1999 tetapi ia kembali mencalonkan dirinya sebagai Presiden RI pada tahun 2004. Ia berpasangan dengan Siswono Yudo Husodo, seorang pengusaha dan politikus asal asal Kalimantan Timur yang waktu itu sedang menjabat sebagai Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).

Berbekal suara pemilihnya yang tak sampai 15% dari jumlah total suara nasional, ia dipecundangi pasangan lain. Kondisi yang sudah bisa terbaca sebelumnya, sebab pada pemilihan legislatifnya PAN hanya berhasil menjaring suara sebanyak 6,44 % dan mentok di urutan ke 7. pada periode–periode selanjutnya, ia lebih banyak di belakang layar. Walaupun tak ada yang menyangsikan pengaruhnya yang masih kuat terhadap sikap-sikap dan keputusan PAN.

Amien Rais menikah dengan Kusnassriyati Sri Rahayu dan dikaruniai lima orang anak, yaitu Ahmad Hanafi Rais, Hanum Salsabiela Rais, Ahmad Mumtaz Rais, Tasnim Fauzia, dan Ahmad Baihaqi.