La Nyalla Mahmud Mattalitti

Ketua Umum PSSI (2015 - 2016)
LahirJakarta, 10 Mei 1959
ProfesiKetua Umum PSSI (2015 - 2016)
Karier
  • Ketua Umum PSSI (2015-2016)
Pendidikan
  • SD Bhinneka Bhakti, Surabaya
  • SMP Negeri 1 Surabaya
  • SMA Negeri 3 Surabaya
  • Fakultas Tehnik Sipil, Universitas Brawijaya

Kongres Luar Biasa yang diprakarasi oleh Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) pada 18 Maret 2011 memilih La Nyalla Mataliti sebagai Ketua Umum PSSI-KPSI periode 2012-2016 di Ancol, Jakarta. La Nyalla dipilih menggantikan Ketua PSSI sebelumnya Johar Arifin Hussein. Setelah PSSI melebur dengan KPSI, La Nyalla pun dipilih sebagai Wakil Ketua Umum PSSI periode 2013-2015 menggantikan Farid Rahman.
Dua tahun berselang, La Nyalla terpilih sebagai Ketua Umum PSSI melalui voting yang dilakukan pada Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI 18 April 2015 di Surabaya. Sebanyak 94 suara yang diraih oleh La Nyala, meninggalkan Syarif Bastaman yang hanya meraih 14 suara. Sementara dua pesaingnya yang lain, Muhammad Zein dan Bernhad Limbong tidak mendapatkan satu suara pun.


Pria berdarah Bugis ini terlahir dengan nama lengkap La Nyalla Mahmud Mattalitti di Jakarta, 10 Mei 1959. Kakeknya, Haji Mattalitti adalah saudagar Bugis-Makassar yang cukup terkenal di Surabaya. Sementara ayahnya Mahmud Mattalitti S.H adalah seorang dosen Fakultas Hukum Universitas Airlangga (Unair) yang pernah menjabat sebagai Pembantu Dekan Fakultas Hukum Unair. Namun La Nyalla tidak sering menggunakan nama besar dan kekayaan keluarganya dalam hidupnya.


Sebagian besar usianya dihabiskan La Nyalla di kota Pahlawan, Surabaya. Sebelum namanya cukup mencuat dalam organisasi sepak bola nasional, La Nyalla dikenal sebagai salah satu pengusaha dan tokoh populer di Jawa Timur. Dia pernah menjabat sebagai Ketua DPW Partai Patriot Jawa Timur, Ketua MPW Pemuda Pancasila Jawa timur, Wakil Ketua KONI Jawa Timur, Ketua Pengprov PSSI Jawa Timur, hingga Exco PSSI.

La Nyalla sebenarnya baru berkecimpung di organisasi sepakbola, beberapa tahun terakhir ini tepatnya tahun 2011. Saat itu dia menjabat sebagai Ketua Pengurus Provinsi PSSI Jawa Timur. Setahun sebelumnya tahun 2010, dia menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi Olahraga Nasnional Indonesia (KONI) Provinsi Jawa Timur. Sebelumnya, kebanyakan organisasi yang dikelola oleh La Nyalla berkaitan dengan masalah kepemudaan atau kepartaian dan yang terkait dengan bidang pendidikannya yaitu Teknik Sipil.

Di Surabaya, namanya tersohor dengan mitos premanisme. Keaktifan La Nyalla dalam organisasi organisasi pemuda Patriot Pancasila, yang disegani sejak Orba ini, dalah penyebab cap itu begitu melekat padanya. Dia memang dikenal Bengal sejak masih bocah. La Nyalla kecil kerap membuat ribut, pernah membawa sangkur untuk berkelahi. Saking bengalnya sampai orang tuanya amat sering diundang guru BP ke sekolah. Untuk mengurangi kenakalannya, La Nyalla sempat dipondokkan ke Bekasi. Cara ini rupanya gagal total. Namun ada hal-hal yang berkesan selama berada di sana. Kelak La Nyalla merasa rindu dan kembali ke pondok itu saat remaja.

Saat sudah dewasa, La Nyalla memilih nyantri dan tinggal di kompleks Makam Sunan Giri Gresik, sembari bekerja serabutan. Dia pernah menjajal profesi sebagai sopir angkot Wonokromo-Jembatan Marah dan sopir minibus L300 Surabaya-Malang. Sampai menikah pun nasibnya belum berubah. Di kompleks makam wali ini, dia menghimpun banyak preman untuk diajak mendekatkan diri kepada Tuhan. Preman-preman itu kemudian menjadi pengikut yang setia sampai kini. Namun tak banyak yang mengetahui bagaimana cara La Nyalla menghimpun preman sebanyak itu. Dia hanya menjelaskan bahwa dirinya mempunyai kemampuan pengobatan alternatif alias paranormal. Keahlian ini diasah sejak di pondok pesantren di Bekasi. Pasiennya cukup beragam, mulai dari orang pinggiran tak berpunya sampai dosen. Namun karena tak mau dipanggil dukun, La Nyalla tidak meneruskan praktik itu.


Sementara titik awalnya sebagai pengusaha bermula dari aksi nekadnya membuat pameran kreativitas anak muda tahun 1989. Pameran yang disokong PT Maspion itu menuai kerugian hingga Rp 180 juta karena tidak dihdiri satupun peserta. Dampaknya, La Nyalla dikejar-kejar penagih hutang. Kerugian itu begitu memukul, sampai La Nyalla sempat bersedia mengangsur Rp 250.000 per bulan. Dia kemudian melobi Maspion lagi, meminta sponsor senilai Rp 5 juta untuk menggelar pameran. Hasilnya ternyata jauh berbeda dari yang sebelumnya. Kelak pameran ini dikenal dengan nama Surabaya Expo. Kegiatan yang berlangsung sejak 1990 itu menjadi agenda tahunan sampai 2001. Sejak saat inilah La Nyalla dikenal banyak pengusaha dan birokrat.


Kini, di tengah kisruh pembekuan PSSI oleh Kemenpora, La Nyalla pun berang. Secara terang-terangan diungkapkannya kepada media bahwa Presiden Joko Widodo sebaiknya me-ressufle Imam Nahrowi sebagai Menpora. Pembekuan PSSI menurut La Nyalla sudah menyebabkan banyak orang kehilangan mata pencaharian dan menguburkan impian anak-anak bangsa yang hendak berkiprah di ranah sepak bola nasional.