Johannes Suryo Prabowo

LahirSemarang, Jawa Tengah, Indonesia, 15 Juni 2016
Profesi
Karier
  • Danton, Danki dan Kasiops Yonzipur 1 Dam I/BB
  • Kasi Taktik dan Teknik Zeni Pusdikzi
  • Danden Zipur 5/Dam XVII/Trikora
  • Kasi Kopassus
  • Kasiops, Kasiintel, Kasiter dan Kasisospol Korem 164/WD Timor Timur
  • Korem 164/WD Korem 164/WD Timor Timur
  • Sekretaris Pribadi Kasum ABRI
  • Wadanrem Korem 164/WD Timor Timur
  • Asintel Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres)
  • Wadan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres)
  • Dirjianbang Sekolah Staf dan Komando Tentara Nasional Indonesia (Sesko TNI)
  • Kodam III/Siliwangi Kodam III/Siliwangi
  • Pangdam Kodam I/Bukit Barisan
  • Pangdam Kodam Jaya/Jayakarta
  • Letnan Jenderal Tentara Nasional Indonesia (TNI)
  • Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat
  • TNI AD Tentara Nasional Indonesia (TNI)
Pendidikan
  • SMA Pangudi Luhur 1, Jakarta
  • AKABRI (sekarang AKMIL)

Letjen TNI (Purn.) Johannes Suryo Prabowo adalah seorang tokoh militer dan politisi yang cukup dikenal di Indonesia. Namanya mulai banyak diperbincangkan masyarakat ketika ia bergabung dalam tim sukses Prabowo Subianto ketika mencalonkan diri menjadi presiden pada tahun 2014.

Lahir di Kota Semarang, Jawa Tengah, pada  15 Juni 1954, ia pernah menjabat sebagai Kepala Staf Umum Tentara Nasional Indonesia sejak 1 April 2011-30 Juni 2012 dan Wakil Gubernur Timor Timur pada 1998. Setelah pada pada akhir tahun 1972 menyelesaikan pendidikan di SMA Pangudi Luhur 1 Jakarta, dengan prestasi pas-pasan saja, Suryo Prabowo langsung mendaftarkan diri untuk menjadi Taruna Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI). Selama berstatus Taruna Akabri pada tahun 1974 ia ditugaskan dalam ‘pertukaran taruna’ dengan dari Royal Military College (RMC) Duntroon, Australia.

Setelah menyelesaikan pendidikan di AKABRI dengan predikat terbaik, sebagaimana perwira lainnya dia mendapat kesempatan untuk mengikuti berbagai pendidikan/kursus spesialisasi. Di antaranya seperti kursus spesialisasis Nubika (Nuklir, Biologi, dan Kimia), kursus penjinakan bahan peledak, kursus dasar para dan kursus pandu udara. Sedangkan pendidikan lainnya adalah Suslapa, Seskoad dan Lemhanas KRA 14. Hampir seluruh pendidikan diselesaikan dengan predikat terbaik. Meski sering mengikuti latihan bersama negara sahabat, dan seminar di luar negeri, namun seluruh pendidikannya diperoleh di dalam negeri.

Suryo Prabowo pertama kali bertugas di Batalyon Zeni Tempur 1/Kodam II/Bukit Barisan (sekarang Kodam I/BB) sebagai komandan peleton (Danton) dan sejak penugasannya tersebut dia terbilang sering diperbantukan ke berbagai batalyon infanteri (yonif) dalam pelaksanaan operasi militer di Timor Timur, Aceh dan Papua. Mungkin padatnya penugasan operasi yang dialaminya inilah yang menjadikannya tidak memiliki kesempatan untuk mengikuti pendidikan tinggi di dalam, dan apalagi di luar negeri. Mungkin juga ia dinilai memiliki pengalaman yang memadai, pada tahun 1983 sewaktu berpangkat Kapten, Suryo Prabowo ditugasi sebagai Komandan sektor Dilor dan Natarbora, Timor Timur.

Setelah bertugas sebagai Komandan Detasemen Zeni Tempur 5/Dam XVII/Trikora, Kepala Zeni Kopassus dan Komandan Batalyon Zeni Tempur 10/Divisi Infanteri 2/Kostrad, Suryo Prabowo ditugaskan kembali ke Timor Timur sebagai Kepala Seksi Operasi Korem 164/Wira Dharma. Sejak itu dia beberapa kali menjabat kepala seksi di Korem 164/WD. Ketika mejabat sebagai Kepala Staf Korem 164WD, dia sempat merangkap jabatan sebagai staf pribadi Kepala Staf Umum ABRI, di Jakarta. Namun tidak lama kemudian kembali lagi ke Timor Timur untuk menduduki Jabatan Wakil Komandan Korem 164/WD sekitar 6 bulan, dan selanjutnya ditugasi sebagai Wakil Gubernur di Timor Timur. Belum sampai 6 bulan menjabat sebagai wagub, dia mengundurkan diri, dan setelah hampir 2 tahun status no job, dia baru dipercaya kembali menduduki jabatan sebagai Asisten Intelijen Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), setelah sebelumnya dia ditugasi kembali ke Timor-Timur sebagai Wadansatgas ITFET (Indonesian Task Force in East Timor). Setelah itu, dia memperoleh promosi menduduki jabatan sebagai Wakil Komandan Paspampres dengan pangkat Brigadir Jenderal TNI.

Meski tidak pernah mengikuti pendidikan Sekolah Staf dan Komando (Sesko) TNI, Suryo Prabowo sempat bertugas di Sesko TNI dalam jabatan sebagai Direktur Pengkajian dan Pengembangan Doktrin dan Lingkungan Strategis selama 10 bulan, lalu menjabat sebagai Kepala Staf Kodam III/Siliwangi. Kemudian, sesaat setelah menyelesaikan pendidikannya di Lemhannas, Suryo Prabowo dipromosikan menjadi Panglima Kodam I/Bukit Barisan dengan pangkat Mayor Jenderal TNI. Ketika menjabat sebagai pangdam ini, untuk pertama kalinya Suryo Prabowo mulai aktif ditugasi sebagai dosen/pengajar di Kursus Strategi Perang Semesta (KSPS), yang diselenggarakan di Sesko TNI AD. KSPS inilah yang kelak pada tahun 2009 dijadikan Program Studi Magister Strategi Perang Semesta (Total War Strategy) di Universitas Pertahanan Indonesia. Sejak KSPS bermanifestasi menjadi Unhan, dia masih aktif dilibatkan dalam pengajaran materi Kepemimpinan Strategis, dan Perang Semesta, serta mendapat kehormatan sebagai pembicara dalam diskusi internasional, seperti Jakarta International Defense Dialog.

Sekitar satu tahun kemudian, pada tahun 2008, Suryo Prabowo dimutasikan menjadi Pangdam Jaya/Jayakarta. Enam bulan sebagai pangdam, dia dipromosikan menjadi Wakil Kepala Staf TNI AD dengan pangkat Letnan Jenderal TNI. Pada jabatan ini, Suryo Prabowo banyak berinovasi untuk membenahi sistem pendidikan dan latihan di jajaran TNI AD, terutama yang difokuskan pada bidang Kepemimpinan Militer dan Taktik bertempur.

Sewaktu menjabat sebagai Wadan Paspampres, untuk meningkatkan profesionalitas Paspampres, dia ditugasi menjalin kerjasama pelatihan pengamanan VVIP dengan pasukan khusus Korea 707th Special Mission Battalion, organik Special Warfare Command (pasukan khusus Korea yang didesain untuk dapat melaksanakan tugas pokoknya sebagai counter-terrorist dan quick reaction force). Kerjasama pelatihan ini ditujukan agar para prajurit Paspampres dapat bertukar pengalaman dalam aplikasi metode pelatihan berbagai teknik dan taktik pertempuran jarak dekat.

Kerjasama pelatihan juga dilakukan Pasukan Pengamanan Perdana Menteri Hun Sen, Kamboja. Bentuk kerjasama pelatihan yang diselenggarakan dengan "paspampres" Kamboja adalah suatu kegiatan yang pertama kali dilakukan TNI. Hal ini dikarenakan, paspampres mendapat kepercayaan yang luar biasa dari Tentara Kamboja. Seperti secara teknis membantu perekrutan, dan bahkan memberikan asistensi penuh dalam pembangunan seluruh fasilitas latihan dan penyusunan kurikulum pelatihan. Uniknya lagi adalah, sejak tahun 2003 setiap tahunnya paspampres mengirimkan prajuritnya untuk memberikan pelatihan bagi paspampres Kamboja. Sewaktu menjabat sebagai Kasum TNI, pada tahun 2012 atas permintaan Panglima Tentara Brunei, TNI AD telah mengirimkan prajurit pelatih untuk memberikan pelatihan menembak bagi atlet penembak militer Tentara Darat Kerajaan Brunei Darussalam.

Di masa purnawiranya Suryo Prabowo mengisi hari-harinya dengan menulis buku, memberikan kuliah dan pencerahan tentang kepemimpinan dan kehidupan keprajuritan. Sementara itu, aktivitasnya dalam upaya peningkatan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan hidup, dan konservasi alam tetap menjadi agenda perjuangannya. Oleh sebab itu, saat ini dia bergabung dengan TWNC (Tambling Wildlife Nature Conservation) yang merupakan kawasan konservasi hutan dan satwa liar seluas 45.000 hektar dan kawasan cagar laut seluas 14.500 hektar yang berlokasi di ujung selatan Pulau Sumatera.