Ilham Oetama Marsis

Ketua BP2KB PB IDI
Lahir: Jakarta, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia, 9 Juli 1949
Karir
  • Ketua BP2KB PB IDI

Prof.IOM, panggilan akrab beliau, juga telah beberapa periode menjabat di kepengurusan PB IDI, salah satunya pernah menjabat sebagai ketua BP2KB PB IDI di periode 2006-2009. Beliau juga merupakan Ketua Dewan Penasehat Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI), dikarenakan beliau sangat konsen dalam pengembangan keberadaan dokter umum, sekalipun beliau seorang spesialis. Prof.IOM masih berstatus sebagai guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta. Diharapkan dalam periode IDI ke depan keberadaan IDI dan dokter Indonesia semakin jaya dan bermartabat demi mewujudkan masyarakat Indonesia yang sehat. Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof.Ilham Oetama Marsis, menolak dilibatkan sebagai eksekutor hukuman kebiri yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2016 karena tidak sesuai dengan kode etik kedokteran.

“Ikatan Dokter Indonesia mendukung kebijakan pemerintah untuk memberikan hukuman seberat-beratnya kepada pelaku kekerasan seksual kepada anak,” kata Ketua Umum IDI Prof. Dr Ilham Oetama Marsis di Jakarta, Kamis (16/6). Lebih lanjut, ia menyampaikan, adanya sanksi tambahan berupa kebiri kimia yang mengarahkan dokter sebagai eksekutor sanksi. Maka didasarkan fatwa Majelis Kehormatan dan Etik Kedokteran (MKEK) Nomor 1 Tahun 2016 tentang Kebiri Kimia yang juga didasarkan pada Sumpah Dokter serta Kode Etik Kedokteran Indonesia membuat IDI menyampaikan agar pelaksanaannya tidak melibatkan dokter sebagai eksekutor. IDI mendorong keterlibatan dokter dalam hal rehabilitasi korban dan pelaku. Rehabilitasi korban, menurut Ilham, menjadi prioritas utama guna mencegah dampak buruk dari trauma fisik dan psikis yang dialaminya. “Rehabilitasi pelaku diperlukan untuk mencegah kejadian serupa yang mengakibatkan bertambahnya korban. Rehabilitasi membutuhkan penanganan komprehensif melibatkan berbagai disiplin ilmu,” katanya.

Kebiri kimia, dinilai oleh IDI tidak menjamin berkurangnya hasrat dan potensi perilaku kekerasan seksual pelaku. Oleh karenanya, IDI mengusulkan agar pemerintah mencari bentuk hukuman lain sebagai sanksi tambahan. Selain kasus kebiri Ketua Pengurus Besar (PB) Ikadan Dokter Indonesia (IDI) Ilham Oetama Marsis memohon maaf ke seluruh rakyat Indonesia, utamanya para orang tua yang anaknya terpapar vaksin palsu. Bahkan Ilham menyadari permohonan maaf pun dirasa tidak cukup. Pasalnya penyebaran vaksin palsu kian masif dan banyak anak-anak yang terpapar. "Kami ‎tidak menampik ada tenaga medis yang terlibat, tapi kan tidak bisa digeneralisir. Kami mohon maaf atas musibah ini, kami akan introspeksi," katanya, Kamis (20/7/2016). Kemudian untuk tenaga medis yang sudah dijadikan tersangka oleh Bareskrim, Ilham menyerahkan seluruh proses hukumnya ke Bareskrim. Namun ia berpesan agar Bareskrim menerapkan asas praduga tidak ‎bersalah pada para tenaga medis yang kini ditahan oleh Bareskrim tersebut. "‎Di kami akan diproses pelanggaran etika dan disiplinnya pada dokter itu. Kalau untuk pidananya itu kami serahkan ke Bareskrim," katanya

DarkLight