Hashim Sujono Djojohadikusumo

Direktur - Pemilik Indo Consult Arsari Grup (1978 - 2016)
LahirJakarta, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia, 1 Januari 1953
ProfesiDirektur - Pemilik Indo Consult Arsari Grup (1978 - 2016)
Karier
  • Analis Keuangan (Magang) Lazard Bank Investasi di Perancis (1976-1978)
  • Direktur - Pemilik Indo Consult Arsari Grup (1978-2016)
Pendidikan
  • Belajar Politik dan Ekonomi Pmonona College, Claremont University, Amerika (1972-1976)


Hashim Sujono Djojohadikusumo Pengusaha pimpinan Arsari Group dan Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Hashim terlahir sebagai putra bungsu dari pasangan Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo dan Dorra Sigar. Dia adik dari Prabowo Subianto, Ketua Dewan Pembina Gerindra.  Meski ayahnya ekonom yang pernah menjadi menteri di bidang perekonomian dan juga kakeknya pernah jadi pejabat Bank di Indonesia, namun Hashim adalah yang pertama di keluarga Djojohadikusumo yang terjun sebagai pengusaha.
Sebagian masa kecilnya dihabiskan di luar negeri. Dia pernah SMP di London lalu SMA di Singapura. Lalu kuliah ekonomi di Pmonona College Claremont University. Selesai tahun 1976. Setelah itu Hashim magang sebagai analis keuangan di Lazard, sebuah Bank Investasi, di Perancis.
Selepas dari Bank Investasi Perancis itu, dia pulang ke Indonesia tahun 1978, Hashim yang dilirik sejumlah perusahaan dalam negeri . Dengan mudah masuk ke Indo Consult, di sana Hashim menjadi seorang direktur. Bisnis Hashim awalnya perdagangan baru masuk ke Industri. Intuisi bisnis yang tajam membuat perusahaannya maju. Dia menjalankan perusahaan pertamabangan, bio-ethanol, dan karet sekaligus. Hasim berhasil mengakuisisi PT. Semen Cibinong melalui perusahaan kebanggannya, PT. Tirta Mas. Tak hanya PT. Semen Cibinong yang diakuisisi, Hashim juga memegang saham di Bank Niaga dan Bank Kredit Asia. Semua perusahannya adalah bagian dari grup Arsari. Arsari Group yang dimilikinya memang bergerak di sejumlah bidang bisnis seperti pertambangan, perkebunan dan logistik.
Sebagai penguasaha, Hashim pernah terjegal masalah hukum. Dia terjerat kasus penggelapan dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Harusnya dana itu disalurkan ke para kreditor, namun dana itu digunakan untuk grup usahanya sendiri. Karena itu dia dipenjara di Rutan Salemba. Keluar dari penjara, Hashim eksis kembali di dunia bisnis. Bersama abangnya, hashim ikut membeli Pabrik Kertas Kiani di Kalimantan Timur. Perusahaan kertas itu cukup bermasalah. Gaji karyawan tidak dibayar karena masalah keuangan di perusahaan itu.
Majalah Forbes tahun 2012 melaporkan bahwa Hashim Djojohadikusumo pantas menjadi salah satu laki-laki terkaya di Asia dengan total kekayaan mencapai US$ 850 juta. Kurang lebih senilai dengan Rp 8.5 Triliun. Majalah Forbes menempatkan Hashim ke dalam peringkat ke-39 sebagai orang terkaya di Indonesia.
Hashim yang kaya sebagai pengusaha juga ikut berpolitik. Setelah Gerindra berdiri pada 2008, Hashim pun terlibat di dalamnya. Hashim duduk sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina. Selain itu, Hashim juga pernah ikut aktif dalam kegiatan kebudayaan. Salah satunya Balai Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI). Hashim juga dikenal sebagai kolekter benda-benda antik.