Eva Kusuma Sundari

Anggota Komisi I DPR RI (pengganti antar-waktu) (2016 - 2019)
LahirNganjuk, Jawa Timur, Indonesia, 8 Oktober 1965
ProfesiAnggota Komisi I DPR RI (pengganti antar-waktu) (2016 - 2019)
Karier
  • Dosen Universitas Airlangga
  • Aktivis LSM
  • Staf Divisi Pendidikan Kaukus Perempuan Jawa Timur (1998)
  • Anggota Komisi III DPR RI (2004-2009)
  • Anggota Komisi I DPR RI (pengganti antar-waktu) (2016-2019)

Eva Kusuma Sundari merupakan anomali di keluarganya. Lahir dari keluarga yang aktif di Partai Golkar, dirinya justru memilih bergabung dengan PDI-Perjuangan. Meskipun begitu, dari sisi pilihan aktivisme, hal itu tak terlalu mengherankan, sebab Eva sejak mahasiswa merupakan pegiat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), yang dekat dengan PDI dan Marhaenisme.

Anggota DPR 2009-2014 ini cukup vokal dalam mengkritik maupun menyampaikan pendapat. Salah satu lontaran kritik tajam dari Eva yang pernah menyedot perhatian publik ialah mengenai proses rekrutmen anggota DPRD yang tidak ideal. Rekrutmen itu, menurut Eva, kebanyakan bermodalkan koneksi dan/atau dinasti politik yang tak bagus bagi sistem kaderisasi.

Selain itu, di DPR, Eva bersama kolega-koleganya sempat memperjuangkan keberadaan Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) sebagai salah satu alat kelengkapan DPR, sesuai Undang-undang tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD. Ia juga turut memperjuangkan penambahan anggaran trafficking di Kejaksaan, selain kerap memberikan pelatihan bagi para jaksa terkait trafficking.

Tak hanya melaksanakan tugas-tugas rutin anggota parlemen, Eva juga kerap terjun langsung melakukan advokasi terhadap masyarakat, terutama dalam isu-isu perempuan. Ia sering terlibat dalam isu aktual mengenai kekerasan perempuan, misalnya.

Itu bukan hal yang istimewa bagi Eva. Sebelum masuk politik praktis pun, ia memulai karier dalam bidang akademik. Tak hanya mengajar di Universitas Airlangga Surabaya, ia juga menjadi aktivis di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang menaruh perhatian pada isu perempuan dan pengaturan anggaran negara.

Eva Kusuma Sundari menjadi anggota panitia pengarah pada Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) pada 2005. Sebelumnya, Eva bekerja di Divisi Pendidikan Kaukus Perempuan Jawa Timur pada 1998.

Aktivis pemerhati isu perempuan ini juga pernah menjadi anggota Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) sejak 1998 sampai sekarang. Pada 2004, ia mencalonkan diri untuk menjadi anggota legislatif dari PDI Perjuangan. Eva lolos dan menjadi anggota DPR di Komisi III, sampai kemudian terpilih kembali pada 2009 untuk masa bakti hingga 2014.

Pada 2014, Eva kembali mencalonkan diri, namun perolehan suaranya tak mencukupi. Namanya sempat disebut-sebut akan menjadi menteri pada kabinet Joko Widodo, namun ada saat pengumuman resmi, tak ada nama Eva pada daftar Kabinet Kerja. Eva lantas bekerja di Bappenas.

Pada awal 2016, Eva kembali menjadi anggota DPR, sebagai pengganti antar-waktu bagi Pramono Anung yang masuk kabinet. Kali ini, Eva duduk di Komisi I yang membidangi luar negeri, pertahanan, komunikasi dan informatika, karena Pramono sebelumnya berada pada komisi itu. Eva menyatakan menerima penugasan di komisi manapun, meski secara pribadi dirinya berminat masuk Komisi XI yang membidangi keuangan, perbankan dan perencanaan pembangunan, karena selama bekerja di Bappenas ia mempelajari subyek-subyek tersebut.