Denny Januar Ali

Ketua Umum AKPI (Asosiasi Konsultan Politik Indonesia)
Lahir: Palembang, Kota Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia, 4 Januari 1963
Karir
  • Direktur Eksekutif Universitas Jayabaya (2000-2003)
  • 4. Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia
  • 5. Ketua Umum AROPI (Asosiasi Riset Opini Publik Indonesia) (2007-2010)
  • Anggota 6. WAPOR (World Association for Public Opinion Research)
  • Ketua Umum AKPI (Asosiasi Konsultan Politik Indonesia)
Pendidikan
  • 1. Srata Satu Universitas Indonesia jurusan Hukum Tahun 1989
  • 2. Master of Public Administration (MPA ) Universitas Universitas Pittsburgh Amerika Serikat Amerika Serikat tahun 1994
  • 3. Gelar Ph.D bidang Comparative Politics and Business dari Ohio University Amerika Serikat tahun 2001

Denny Januar Ali atau yang sering disapa Denny JA adalah seorang tokoh legendaris pembaharu sejarah modern Indonesia. Denny PA juga merupakan seorang intelektual enterpreuner. Ia banyak membuat tradisi baru dan rekor di dunia akademik, politik, media sosial, sastra dan budaya di Indonesia.

Sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, Denny gemar membaca buku Michael Heart : The 100 : A Ranking of The Most Influental Persons in History (1978). Kepeloporan aneka tokoh sejarah itu mengilhaminya membuat aneka tradisi baru. Dalam perjalanan karirnya, semangat kepeloporan menjadi engine dan need for achieviement.

Pada tahun 2003 Denny mendirikan Lembaga Survei Indonesia (LSI), Lingkaran Survei Indonesia (2005), Asosiasi Riset Opini Publik (Aropi, 2007), serta Asosiasi Konsultan Politik Indonesia (AKOPI, 2009). Melalui organisasi ini Denny dianggap sebagai penemu tradisi baru survei opini publik dan konsultan politik Indonesia.

Di tahun 2015, Denny JA dinobatkan sebagai salah satu dari 30 orang paling berpengaruh di Internet oleh Majalah Time. Ia bersanding dengan Presiden Amerika Serikat Barrack Obama.

Sentimen Terkini
History Sentimen
Positive
Neutral
Negative
Oktober 2019
Data diambil dari 500 top media online dan 3 sentiment publik
100%
September 2019
Data diambil dari 500 top media online dan 5 sentiment publik
40%
60%
DarkLight